Victor Tidak Lagi Ragu Susun Anggaran untuk PAUD Inklusif
Ia menceritakan bahwa dalam perencanaan dan penganggaran desa yang mereka lakukan, kebutuhan dukungan untuk PAUD sudah ditingkatkan
Penulis: Oby Lewanmeru | Editor: maria anitoda
Yana menjelaskan, ada empat modul pelatihan yang sudah dikuti, di antaranya, modul PAUD Ramah Anak, Kurikulum 2013, Pengasuhan Responsif dan Teknik menjadi Fasilitator.
Pelatihan-pelatihan tersebut ia ikuti secara bertahap di mana pada setiap tahapan selalu disertai dengan pelatihan terapan. Misalnya, setelah peserta mengikuti pelatihan PAUD Ramah Anak, mereka harus lakukan pelatihan terapan kepada guru-guru PAUD di masing-masing daerah, kemudian dilanjutkan dengan pelatihan modul berikutnya.
Sebagai fasilitator terlatih, Yana dan teman-temannya telah berbagi pengetahuan terkait modul-modul yang telah mereka pelajari kepada hampir seluruh PAUD, baik TK maupun kelompok bermain yang ada di Sumba Timur.
Biaya pelaksanaan pelatihan terapan tersebut menurutnya dialokasikan dari anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Kalau dihitung dari tahun 2018 hingga sekarang, guru-guru PAUD yang telah mereka latih jumlahnya sekitar 200 orang. Awalnya, sebelum ada program PAUD Ramah Anak ini, hampir seluruh PAUD berjalan apa adanya. Pengetahuan yang telah dimiliki dan sering didiskusikan hanya seputar perubahan kurikulum termasuk Kurikulum 2013.
"Dengan adanya materi-materi yang kami dapat dan bagikan dari kegiatan PAUD Ramah Anak itu, telah menambah wawasan mereka. Sedianya apa yang harus mereka lakukan, peran mereka sebagai pendidik PAUD," ujarnya.
Ia berharap ke depan, para guru PAUD bisa dibekali juga dengan pengetahuan dan keterampilan tentang pemanfaatan bahan lokal dan daur ulang sebagai alat permainan dan stimulasi pembelajaran di PAUD. Hal ini penting karena selain akan membuat biaya operasional PAUD menjadi lebih efisien, juga dalam proses akreditasi temuan penggunaan lokal akan menjadi poin yang sangat tinggi bagi PAUD. (yel)