Victor Tidak Lagi Ragu Susun Anggaran untuk PAUD Inklusif
Ia menceritakan bahwa dalam perencanaan dan penganggaran desa yang mereka lakukan, kebutuhan dukungan untuk PAUD sudah ditingkatkan
Penulis: Oby Lewanmeru | Editor: maria anitoda
Victor Tidak Lagi Ragu Susun Anggaran untuk PAUD Inklusif
POS-KUPANG.COM I WAINGAPU - Kepala Desa Mabatakapidu, Alexander Victor Umbu Retang, mengatakan, pelatihan yang dilakukan oleh Sumba Integrated Development (SID), yayasan yang melakukan pendampingan atas PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Inklusif di Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), terbilang sangat rinci dan lebih menukik serta sangat bermanfaat bagi seorang pemimpin desa bersama aparat desa untuk mengetahui proses perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi tentang PAUD.
Ia menceritakan bahwa dalam perencanaan dan penganggaran desa yang mereka lakukan, kebutuhan dukungan untuk PAUD sudah ditingkatkan.
Baca juga: Kisah SID Mengajarkan Keterampilan dan Manajemen Bisnis kepada Peternak dan Penenun di Pulau Sumba
"Kita tidak ragu-ragu lagi dalam penyusunan (anggaran untuk PAUD, red). Kita tingkatkan lagi menjadi 28 persen dari 22 persen, kita naikkan," kata Umbu Retang, awal Mei 2021.
Dikatakan, selain itu, honor guru PAUD, yang sebelumnya baru Rp 250.000 dinaikkan menjadi Rp 350.000 per orang per bulan. Desa juga sudah memberikan bantuan berupa sepatu untuk anak-anak PAUD.
"Kami berencana untuk memberikan pelatihan bagi guru-guru PAUD dan ada rencana juga untuk membangun gedung PAUD yang lebih besar dari yang ada sekarang agar dapat menampung lebih banyak anak," katanya sambil mengancungkan jempol.
Hingga akhir tahun 2020, ada 19 desa yang masuk sebagai target proyek yang dikerjakan oleh SID telah mengalokasikan anggaran untuk mendukung penyelengaraan PAUD di desa masing-masing, tidak termasuk satu kelurahan yang tidak mengelola dana seperti desa.

Pelatihan perencanaan dan penganggaran desa juga diberikan kepada para pengurus perwakilan dari 13 komite sekolah masing-masing tujuh komite sekolah di Kabupaten SumbaBarat Daya (SBD) dan 13 komite sekolah dari Kabupaten Sumba Timur.
Sama seperti materi yang diberikan kepada pemerintah desa, Komite PAUD juga diajarkan tentang pentingnya PAUD, mandat dan kewenangan desa, perencanaan dan penganggaran desa, dasar hukum pembentukan dan penguatan PAUD, tahapan pembentukan regulasi desa, akuntabilitas sosial dan pemetaan partisipatif atau yang dikenal dengan Pra.
Pada umumnya, komite sekolah yang hadir menyampaikan bahwa selama ini mereka tidak terlibat dalam proses perencanaan desa karena tidak mengerti proses yang sebenarnya, kalaupun diundang, mereka hanya datang dan mendengarkan saja. Mereka juga mengatakan bahwa proses yang selama ini terjadi di desa belum sepenuhnya sesuai dengan pengetahuan yang mereka peroleh saat pelatihan.
Baca juga: Akuntabilitas Sosial Dorong Peningkatan Anggaran Desa Dalam Mendukung PAUD Inklusi
Mereka berkomitmen sekembali dari pelatihan ini akan aktif untuk terlibat dalam proses perencanaan desa mulai dari tingkat dusun, desa sampai pada musyawarah pengambilan keputusan khususnya untuk mengawal perencanaan dan penganggaran PAUD.
Organisasi Profesi Ikatan Guru Taman Kanak Indonesia (IGTKI) adalah salah satu aktor yang terlibat dalam proyek PAUD Ramah Anak.
Salah seorang pengurus yang aktif mewakili IGTKI selama proyek berjalan adalah Agustina Abuk Lekik, S.Pd, AUD. Selain sebagai pengurus pada Seksi Organisasi IGTKI, perempuan berusia 51 tahun yang akrab disapa Ibu Agus ini juga adalah seorang guru TK yang menjabat sebagai kepala sekolah di TK Mutiara, Kelurahan Kambajawa, Kabupaten Sumba Timur.
Menurut Agus, dirinya terlibat dalam proyek PAUD Ramah Anak ini tepatnya pada bulan November 2018 lalu. Saat itu ia mewakili IGTKI untuk mengikuti Training of Trainer (ToT) modul satu PAUD Ramah Anak di Kupang.
Selanjutnya, ia bersama para fasilitator dari unsur organisasi atau lembaga lainnya juga mengikuti beberapa ToT, seperti ToT modul dua tentang Kurikulum 2013, modul tiga tentang Pengasuhan Responsif dan modul empat tentang Teknik Fasilitasi. Seluruh pelatihan yang sudah mereka ikuti kemudian mereka terapkan di tingkat kabupaten. Sehingga semakin banyak teman-teman guru TK/PAUD yang juga mendapatkan pengetahuan tentang PAUD Ramah Anak.
Agus menceritakan bahwa ada banyak pengetahuan yang ia dapatkan setelah mengikuti kegiatan ToT tersebut. Pengetahuan yang sebelumnya tidak ia dapatkan secara detail. Dari antara pengetahuan yang ia peroleh, pengertian terkait gender yang terdapat dalam modul satu itu yang sangat berarti baginya. Menyadarkan ia bahwa selama ini mereka masih membeda-bedakan peran antara laki-laki dan perempuan. Sambil tertawa lepas, Ibu Agus kemudian mencontohkan bahwa anak-anak selama ini terpisah atau dipisahkan. Anak laki-laki main bolakaki, perempuan main masak-masakkan.
"Hei, ini masak-masakkan anak laki-laki tidak boleh main yang ini. Ini punya bagian perempuan. Itu punya bagian laki-laki," katanya.
Ia menjelaskan, setelah mendapatkan pengetahuan terkait gender, dirinya mulai menerapkan di sekolahnya. Selain itu, dia juga membagikan informasi tentang responsif gender kepada teman-teman guru di sekolahnya dan mereka mulai mendorong agar anak laki-laki dan perempuan bisa melakukan peran yang sama.
Menurut Ibu Agus, membeda-bedakan peran laki-laki dan perempuan itu sudah menjadi tradisi turun-temurun dari orang tua. Hal tersebut harus diubah agar anak-anak dapat bertumbuh optimal dengan bebas.
Mereka dapat melakukan berbagai peran sesuai keinginan mereka. Ia kemudian mencontohkan bahwa laki-laki boleh menjadi chef untuk masak-masak dan menjadi sangat terkenal.
"Anak perempuan boleh bermain bolakaki juga. Jadi, selama ini kan kalau mulai main bola, guru-guru marah, hei, hei, hei kau perempuan jangan bermain. Saya bilang, hei itu anak perempuan suruh main juga. Jadi ada anak perempuan yang hobi mau bermain, lepas saja. Laki atau perempuan semua, boleh," ujarnya sambil tertawa lagi.
Ia juga membagikan pengetahuan ini kepada seluruh teman guru PAUD yang tergabung dalam organisasi IGTKI. Ibu Agus mengakui, saat ini mereka sudah menerapkan di sekolah masing-masing. Jika ada jadwal monitoring yang melibatkan dirinya sebagai pengurus IGTKI, maka ia akan menanyakan penerapan hal tersebut kepada guru-guru di PAUD yang mereka kunjungi.
Ia juga melihat PAUD mulai berbenah. Bagi yang mendapatkan bantuan dana dari pemerintah untuk rehab gedung, mereka anjurkan untuk membuat fasilitas sesuai dengan yang diajarkan dalam proyek PAUD Ramah Anak. Misalnya, membuat WC yang dipisah antara laki-laki dan perempuan, membuat tangga landai, pintu yang terbuka ke keluar, jendela tidak menggunakan kaca nako. Juga desain permainan yang tidak berbahaya untuk anak-anak.
Perlu Pengasuhan Responsif pada PAUD
Pengasuhan responsif merupakan metode yang tepat diterapkan di PAUD. Metode dengan menggunakan modul ini relevan sekali, apalagi di masa Pandemi Covid-19.
"Dari semua modul pelatihan yang sudah saya ikuti, modul pengasuhan responsif yang paling bermanfaat saat ini. Apalagi, dengan adanya situasi pandemi Covid-19," kata Apriyana Pandarangga, S.Pd. AUD, salah satu Asesor Badan Akreditasi Nasional (BAN).
Menurut Yana, sapaan akrab Apriyana, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana membantu orang tua agar bisa membimbing anak-anak mereka di rumah. Karena itu, dengan modul pengasuhan responsif tersebut, sangat tepat sekali untuk digunakan karena sederhana dan mudah dipahami oleh orang tua.
"Jadi itu pengasuhan responsif, betul-betul bagus sekali," katanya. Modul ini bisa sangat bermanfaat bagi guru-guru PAUD dalam memfasilitasi orang tua agar mampu membimbing anak mereka di rumah," kata Yana.
Menurut Yana, materi dalam modul itu sangat-sangat sederhana sehingga mudah dipahami oleh orang tua.
Selain sebagai seorang Asesor BAN, yang sudah lama malang melintang dalam dunia pendidikan anak usia dini di Kabupaten Sumba Timur, Yana juga pernah menjadi Kepala TK Negeri Pembina Waingapu, Ketua IGTKI, Pengawas TK dan hingga kini aktif menjalankan tugasnya sebagai Asesor BAN.
Tugas utamanya adalah mengakreditasi penyelenggaraan PAUD di Kabupaten Sumba Timur dan kabupaten lainnya di NTT, sekaligus memberikan dukungan teknis untuk peningkatan kualitas PAUD yang bersangkutan.
Yana juga merupakan salah satu fasilitator terlatih dalam program PAUD Ramah Anak yang berasal dari unsur Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Timur. Ia telah mengikuti beberapa kegiatan training of trainer (ToT).
Yana menjelaskan, ada empat modul pelatihan yang sudah dikuti, di antaranya, modul PAUD Ramah Anak, Kurikulum 2013, Pengasuhan Responsif dan Teknik menjadi Fasilitator.
Pelatihan-pelatihan tersebut ia ikuti secara bertahap di mana pada setiap tahapan selalu disertai dengan pelatihan terapan. Misalnya, setelah peserta mengikuti pelatihan PAUD Ramah Anak, mereka harus lakukan pelatihan terapan kepada guru-guru PAUD di masing-masing daerah, kemudian dilanjutkan dengan pelatihan modul berikutnya.
Sebagai fasilitator terlatih, Yana dan teman-temannya telah berbagi pengetahuan terkait modul-modul yang telah mereka pelajari kepada hampir seluruh PAUD, baik TK maupun kelompok bermain yang ada di Sumba Timur.
Biaya pelaksanaan pelatihan terapan tersebut menurutnya dialokasikan dari anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Kalau dihitung dari tahun 2018 hingga sekarang, guru-guru PAUD yang telah mereka latih jumlahnya sekitar 200 orang. Awalnya, sebelum ada program PAUD Ramah Anak ini, hampir seluruh PAUD berjalan apa adanya. Pengetahuan yang telah dimiliki dan sering didiskusikan hanya seputar perubahan kurikulum termasuk Kurikulum 2013.
"Dengan adanya materi-materi yang kami dapat dan bagikan dari kegiatan PAUD Ramah Anak itu, telah menambah wawasan mereka. Sedianya apa yang harus mereka lakukan, peran mereka sebagai pendidik PAUD," ujarnya.
Ia berharap ke depan, para guru PAUD bisa dibekali juga dengan pengetahuan dan keterampilan tentang pemanfaatan bahan lokal dan daur ulang sebagai alat permainan dan stimulasi pembelajaran di PAUD. Hal ini penting karena selain akan membuat biaya operasional PAUD menjadi lebih efisien, juga dalam proses akreditasi temuan penggunaan lokal akan menjadi poin yang sangat tinggi bagi PAUD. (yel)