Victor Tidak Lagi Ragu Susun Anggaran untuk PAUD Inklusif
Ia menceritakan bahwa dalam perencanaan dan penganggaran desa yang mereka lakukan, kebutuhan dukungan untuk PAUD sudah ditingkatkan
Penulis: Oby Lewanmeru | Editor: maria anitoda
Agus menceritakan bahwa ada banyak pengetahuan yang ia dapatkan setelah mengikuti kegiatan ToT tersebut. Pengetahuan yang sebelumnya tidak ia dapatkan secara detail. Dari antara pengetahuan yang ia peroleh, pengertian terkait gender yang terdapat dalam modul satu itu yang sangat berarti baginya. Menyadarkan ia bahwa selama ini mereka masih membeda-bedakan peran antara laki-laki dan perempuan. Sambil tertawa lepas, Ibu Agus kemudian mencontohkan bahwa anak-anak selama ini terpisah atau dipisahkan. Anak laki-laki main bolakaki, perempuan main masak-masakkan.
"Hei, ini masak-masakkan anak laki-laki tidak boleh main yang ini. Ini punya bagian perempuan. Itu punya bagian laki-laki," katanya.
Ia menjelaskan, setelah mendapatkan pengetahuan terkait gender, dirinya mulai menerapkan di sekolahnya. Selain itu, dia juga membagikan informasi tentang responsif gender kepada teman-teman guru di sekolahnya dan mereka mulai mendorong agar anak laki-laki dan perempuan bisa melakukan peran yang sama.
Menurut Ibu Agus, membeda-bedakan peran laki-laki dan perempuan itu sudah menjadi tradisi turun-temurun dari orang tua. Hal tersebut harus diubah agar anak-anak dapat bertumbuh optimal dengan bebas.
Mereka dapat melakukan berbagai peran sesuai keinginan mereka. Ia kemudian mencontohkan bahwa laki-laki boleh menjadi chef untuk masak-masak dan menjadi sangat terkenal.
"Anak perempuan boleh bermain bolakaki juga. Jadi, selama ini kan kalau mulai main bola, guru-guru marah, hei, hei, hei kau perempuan jangan bermain. Saya bilang, hei itu anak perempuan suruh main juga. Jadi ada anak perempuan yang hobi mau bermain, lepas saja. Laki atau perempuan semua, boleh," ujarnya sambil tertawa lagi.
Ia juga membagikan pengetahuan ini kepada seluruh teman guru PAUD yang tergabung dalam organisasi IGTKI. Ibu Agus mengakui, saat ini mereka sudah menerapkan di sekolah masing-masing. Jika ada jadwal monitoring yang melibatkan dirinya sebagai pengurus IGTKI, maka ia akan menanyakan penerapan hal tersebut kepada guru-guru di PAUD yang mereka kunjungi.
Ia juga melihat PAUD mulai berbenah. Bagi yang mendapatkan bantuan dana dari pemerintah untuk rehab gedung, mereka anjurkan untuk membuat fasilitas sesuai dengan yang diajarkan dalam proyek PAUD Ramah Anak. Misalnya, membuat WC yang dipisah antara laki-laki dan perempuan, membuat tangga landai, pintu yang terbuka ke keluar, jendela tidak menggunakan kaca nako. Juga desain permainan yang tidak berbahaya untuk anak-anak.
Perlu Pengasuhan Responsif pada PAUD
Pengasuhan responsif merupakan metode yang tepat diterapkan di PAUD. Metode dengan menggunakan modul ini relevan sekali, apalagi di masa Pandemi Covid-19.
"Dari semua modul pelatihan yang sudah saya ikuti, modul pengasuhan responsif yang paling bermanfaat saat ini. Apalagi, dengan adanya situasi pandemi Covid-19," kata Apriyana Pandarangga, S.Pd. AUD, salah satu Asesor Badan Akreditasi Nasional (BAN).
Menurut Yana, sapaan akrab Apriyana, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana membantu orang tua agar bisa membimbing anak-anak mereka di rumah. Karena itu, dengan modul pengasuhan responsif tersebut, sangat tepat sekali untuk digunakan karena sederhana dan mudah dipahami oleh orang tua.
"Jadi itu pengasuhan responsif, betul-betul bagus sekali," katanya. Modul ini bisa sangat bermanfaat bagi guru-guru PAUD dalam memfasilitasi orang tua agar mampu membimbing anak mereka di rumah," kata Yana.
Menurut Yana, materi dalam modul itu sangat-sangat sederhana sehingga mudah dipahami oleh orang tua.
Selain sebagai seorang Asesor BAN, yang sudah lama malang melintang dalam dunia pendidikan anak usia dini di Kabupaten Sumba Timur, Yana juga pernah menjadi Kepala TK Negeri Pembina Waingapu, Ketua IGTKI, Pengawas TK dan hingga kini aktif menjalankan tugasnya sebagai Asesor BAN.
Tugas utamanya adalah mengakreditasi penyelenggaraan PAUD di Kabupaten Sumba Timur dan kabupaten lainnya di NTT, sekaligus memberikan dukungan teknis untuk peningkatan kualitas PAUD yang bersangkutan.
Yana juga merupakan salah satu fasilitator terlatih dalam program PAUD Ramah Anak yang berasal dari unsur Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Timur. Ia telah mengikuti beberapa kegiatan training of trainer (ToT).