Virus Corona

Begini Reaksi China Ketika Joe Biden Minta Lembaga Intelijen Selidiki Asal Usul COVID-19

Sebuah studi gabungan China-WHO yang diterbitkan pada bulan Maret mengatakan bahwa sangat tidak mungkin SARS-CoV-2 bocor dari laboratorium.

Editor: John Taena
Freepik
ilustrasi virus corona - Presiden Joe Biden memerintahkan Badan Intelijen Amerika Serikat untuk menyelidiki asal usul virus corona (COVID-19) dalam 90 hari. 

POS-KUPANG.COM - Badan Intelijen Amerika Serikat diperintahkan Presiden Joe Biden untuk melapor kepadanya dalam tiga bulan ke depan tentang asal-usul virus corona (COVID-19).

Biden meminta Badan Intelijen AS untuk memastikan apakah COVID-19 pertama kali muncul di China dari sumber hewan atau dari kecelakaan laboratorium.

"Badan Intelijen harus melipatkandakan upaya mereka untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi yang dapat membawa kita lebih dekat ke kesimpulan yang pasti, dan melaporkan kembali kepada saya dalam 90 hari," kata Joe Biden dikutip dari Channel News Asia.

Baca juga: Segera Terkuak, Hasil Invesigasi di Wuhan Akan Dirilis, WHO Tahu Asal Covid-19?

Adam Schiff, Ketua Komite Intelijen DPR, meminta China untuk segera datang demi menghindari kesimpulan prematur atau bermotif politik.

"Hambatan terus-menerus dari Beijing terhadap pemeriksaan yang transparan dan komprehensif terhadap fakta dan data yang relevan tentang sumber virus corona hanya dapat menunda pekerjaan penting yang diperlukan untuk membantu dunia mempersiapkan diri dengan lebih baik sebelum potensi pandemi berikutnya," kata Schiff.

"Meskipun demikian, saya yakin bahwa (komunitas intelijen) dan elemen lain dari pemerintah kami akan terus mengejar semua kemungkinan petunjuk dan memberikan temuan terbaru berbasis bukti yang sejalan dengan persyaratan 90 hari Presiden," sambungnya.

Baca juga: Kebohongan China Soal Virus Covid-19 Diungkap, WHO Beberkan Asal Usul Virus Corona di Wuhan Tiongkok

Sementara itu, Kedutaan Besar China di Amerika Serikat mengatakan, mempolitisasi asal-usul COVID-19 hanya akan menghambat penyelidikan lebih lanjut dan merusak upaya global untuk mengekang pandemi.

Pada Rabu (26/5/2021) malam, dalam sebuah pernyataan di situsnya, Kedutaan China mengatakan beberapa kekuatan telah terpaku pada manipulasi politik dan permainan menyalahkan.

Ketika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersiap untuk memulai studi fase kedua tentang asal-usul COVID-19, China berada di bawah tekanan untuk memberi penyelidik lebih banyak akses di Wuhan.

China telah berulang kali membantah laboratorium itu bertanggung jawab, dengan mengatakan Amerika Serikat dan negara lain berusaha mengalihkan perhatian dari kegagalan mereka sendiri untuk menahan virus.

Yanzhong Huang, rekan senior untuk kesehatan global di Council on Foreign Relations di Washington, mengatakan kurangnya keterbukaan China adalah faktor utama di balik kebangkitan teori kebocoran laboratorium.

Baca juga: Peneliti WHO Ungkap China Bohongi Dunia Soal Virus Corona di Wuhan

"Tidak ada yang benar-benar baru di sana untuk membuktikan hipotesis tersebut," katanya dikutip dari Channel News Asia.

"Dalam penyelidikan asal usul pandemi, sangat penting memiliki transparansi untuk membangun kepercayaan pada hasil penyelidikan," lanjutnya.

Tabloid Global Times, bagian dari kelompok surat kabar People's Daily Partai Komunis yang berkuasa, mengatakan pada Rabu (26/5/2021) malam bahwa jika teori kebocoran laboratorium akan diselidiki lebih lanjut, Amerika Serikat juga harus mengizinkan penyelidik masuk ke fasilitasnya sendiri, termasuk laboratorium di Fort Detrick.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved