Menjemput Barokah di Lereng Kolhua - NTT
Mentari baru beranjak naik. Jarum jam baru menunjuk angka 06.40 Wita. Sepuluh bocah tampak berbaris rapi di halaman Toko Hasan, di bilangan Kol
Penulis: Ryan Nong | Editor: Ferry Ndoen
Yuvli (8), bocah kelas 2 salah satu sekolah negeri di wilayah itu mengaku rutin mengambil nasi kuning saban Jumat di toko itu. Ia dan kawan kawan biasanya ke tempat itu sebelum pukul 07.00 Wita. Hal yang sama mereka mereka lakukan juga sewaktu masih bersekolah.
Ia mengaku senang karena bisa mendapatkan nasi kuning sebagai bekal sarapan pagi sebelum aktivitas setiap Jumat. "Senang saja karena dapat nasi kuning di sini," ujar dia.
Pengunjung lain, Louis (34) juga mengaku hal yang sama. Ia mengaku senang karena mendapat berkah saat berbelanja berapapun nilai belanjaannya. Menurut dia, praktek berbagi yang dilakukan di tempat itu mengingatkan semua untuk menghidupkan nilai nilai kebersamaan yang makin pudar dewasa ini. Nilai nilai keutamaan yang tergerus kemajuan teknologi dan perkembangan jaman.
"Ini mungkin terlihat sederhana dan kecil saja. Tapi nilainya besar dan ini juga seperti saling mengingatkan supaya kita bisa berbagi satu dengan yang lain," pungkas dosen salah satu kampus swasta saat ditemui di tempat itu.
Menurutnya, kehidupan modern yang cenderung mulai mengental sisi egoisme menjadi salah satu tantangan yang mesti disikapi secara bijak utamanya soal kebersamaan dan hubungan interpersonal. "Tidak ada yang akan kekurangan karena memberi, tidak aka ada yang habis karena berbagi". (Ryan Nong)

