Rabu, 27 Mei 2026

Fransiskus Kurnia Minta Pemkab Mabar Perhatikan Petani Lembor, Ini Alasannya

Fransiskus Kurnia minta Pemkab Mabar perhatikan petani Kecamatan Lembor, ini alasannya

Tayang:
Penulis: Gecio Viana | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/Gecio Viana
Sejumlah warga saat berada di persawahan Lembor, Kabupaten Mabar, Senin (3/5/2021). 

Menurutnya warga yang merantau karena ingin memperbaiki ekonomi keluarga, penutupan jaringan irigasi tanpa ada solusi bagi masyarakat, akan semakin meningkatkan angka warga yang merantau.

"Jumlah penduduk kami sekitar 2.668 KK dan yang bekerja sebagai petani lebih dari 1000 KK dari 5 kampung, yang jelas ini tidak bekerja lagi karena irigasi tutup total," katanya.

Selain berharap penyelesaian proyek rehabilitasi jaringan irigasi dipercepat, pihaknya pun berharap agar warga dapat bekerja sebagai buruh atau tukang dalam proyek tersebut.

Dengan bekerja sebagai buruh atau tukang dalam proyek, lanjut dia, warga desa yang bekerja sebagai petani tidak menjadi pengangguran.

"Karena ada lapangan kerja," katanya.

Diberitakan sebelumnya, sejumlah petani merasa resah karena tidak bisa bertani pasca pengerjaan proyek rehabilitasi jaringan irigasi di daerah itu, Sabtu (8/5/2021).

Kementerian PUPR melalui Direktoral Jenderal Sumber Daya Air Balai Wilayah Besar Nusa Tenggara II - Satker NVT Pelaksanaan Jaringan Air Nusa Tenggara II Provinsi NTT Irigasi dan Rawa, akan melaksanakan Rehabilitasi Jaringan Permukaan Kewenangan Pusat D. I Lembor di Kabupaten Manggarai Barat.

Proyek senilai Rp 37.999.160.000 itu sesuai papan proyek memiliki waktu pengerjaan selama 450 hari kalender.

Warga yang bekerja sebagai petani tidak menolak pengerjaan proyek tersebut, namun warga merasa khawatir karena tidak dapat bertani, saat ketiadaan air dalam kurun waktu beberapa bulan ke depan.

Seorang petani dari Desa Poco Rutang, Seltus Stenli Bota Mbambuk (44) menjelaskan, di daerah tersebut terdapat 3 bendungan yang menjadi sumber air bagi persawahan Lembor, yakni Bendungan Wae Lombur, Bendungan Wae Sele dan Bendungan Wae Raho/Wae Kanta.

Pihaknya mendapatkan informasi bahwa akan dilakukan penutupan jaringan irigasi pada 8 Mei 2021.

Hal ini, lanjut dia, menimbulkan keresahan masyarakat yang mengandalkan sektor pertanian sawah sebagai sumber kehidupan.

Menurutnya, adanya rehabilitasi jaringan irigasi sangat baik, demi efektivitas produksi pertanian karena lancarnya aliran air dan musim tanam yang seragam bagi para petani.

Namun demikian, kendala yang dihadapi pihaknya adalah pasca penutupan jaringan irigasi, para petani tidak memiliki alternatif pilihan bekerja.

Terlebih, pandemi Virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika yang mewabah telah menyengsarakan masyarakat.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved