Breaking News:

Isu Terkena Merger, Marselus: Jumlah Mahasiswa Unika St Paulus Ruteng Melebihi 1.000 Orang

Isu terkena merger, Marselus: jumlah mahasiswa Unika St Paulus Ruteng melebihi 1.000 orang

Penulis: Robert Ropo | Editor: Kanis Jehola
Isu Terkena Merger, Marselus: Jumlah Mahasiswa Unika St Paulus Ruteng Melebihi 1.000 Orang
POS-KUPANG.COM/Dok Pribadi
Wakil Rektor II Bidang Kelembagaan dan Sumber Daya UNIKA St Paulus Ruteng, Dr. Marselus Ruben Payong, M.Pd

Isu terkena merger, Marselus: jumlah mahasiswa Unika St Paulus Ruteng melebihi 1.000 orang

POS-KUPANG.COM | RUTENG---Berdasarkan informasi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi ( Kemendikbud Ristek) akan melakukan merger terhadap Perguruan Tinggi Swasta ( PTS) yang mempunyai mahasiswa kurang dari 1.000 orang.

Menurut data BPS, di NTT, ada sekitar 47 Perguruan Tinggi Swasta ( PTS) yang memiliki mahasiswa di bawah 1.000 mahasiswa. Karena itu puluhan Kampus Swasta di NTT terancam dimerger.

Terkait informasi ini, Wakil Rektor II Bidang Kelembagaan dan Sumber Daya Unika St Paulus Ruteng, Dr. Marselus Ruben Payong, M.Pd, ketika mintai tanggapannya oleh POS-KUPANG.COM, Jumat (7/5/2021) mengatakan, ide merger ini sebenarnya untuk rasionalisasi pelayanan sangat baik, namun harus butuh dipilah.

Baca juga: Viral Video di Media Sosial Seorang Pria Tampar Imam Salat di Masjid, Ini Kata Polisi

Baca juga: Stok Pangan di Sumba Timur Masih Cukup

Karena menurutnya, Perguruan Tinggi dari mulai yang paling besar Universitas dan Institut, kemudian Sekolah Tinggi dan juga paling dasar Akademi dan Politeknik. Dimana untuk aturan jumlah mahasiswanya hanya 1.000 kebawah itu berlaku khusus untuk Universitas dan Akademi, karena menyelenggarakan multi disiplin ilmu.

Namun jika untuk sekolah tinggi dia menyelenggarakan 1 rumpun ilmu, karena itu aturan merger itu sebenarnya tidak berlaku.

"Boleh ada aturan minimalnya, tapi menurut saya tingkat jumlah mahasiswa paling rendah 500 atau turun lagi 400, itu bisa dikategorikan tidak terlalu layak untuk dikatakan sebagai sebuah perguruan tinggi atau perguruan tinggi yang sakit boleh dimerger. Kemudian, Akademi jumlah dibawa 300 karena jenis perguruan tinggi vokasi dan menyelenggarakan 1 bidang vokasi saja,"kata Marselus.

Baca juga: Ketua PDHI NTT Sebut Pasca Bencana Banyak Hewan Peliharaan Tidak Terurus

Baca juga: Cara Taan Tou Ajak Pengungsi Refleksikan Hubungan Alam dan Manusia Pasca Bencana

Ada juga perguruan tinggi Vokasi yaitu perguruan tinggi dan politeknik. Jika politeknik berlaku 100 bisa terima, tetapi sekolah tinggi Akademi harus ukurannya 1000 itu tidak wajar/tidak rahasional dan perlu ditinjau kembali.

Menurutnya tetapi ini baru dilihat dari sisi jumlah siswa, namun ada hal lain yang perlu dilihat yaitu sehat tidak perguruan tinggi tersebut, sebab ada perguruan tinggi tertentu yang sehat dan ada yang tidak sehat.

Jika Perguruan Tinggi yang sehat meskipun jumlah mahasiswanya kecil, namun perguruan tinggi tersebut bisa menyelenggarakan dengan baik terkait reputasi, riset-riset dan finansialnya.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved