Opini Pos Kupang
Restorasi Pendidikan NTT Menuju Generasi Emas 2045
Tulisan ini merupakan sebuah catatan lepas, juga inspirasi kunjungan dan safari pendidikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT
Dalam konteks ini, apa yang dilakukan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi NTT selama safari pendidikan di kabupaten Lembata sangat positif. Di setiap sekolah yang dikunjungi, ada presentasi profil sekolah.
Beliau memberi apresiasi atas keunggulan sekolah, memberi gagasan segar pengembangan sekolah sekaligus memberi solusi atas tantangan yang dihadapi sekolah. Semua bermuara pada kualitas dan prestasi peserta didik di sekolah.
Komitmen restorasi pendidikan di Provinsi NTT perlu menonjolkan ciri keterampilan abad ke-21 yang benar dan nyata di kelas kita sejak dini. Pertama, melahirkan pemikir (critical thinker). Proses pembelajaran tidak melulu hafalan tetapi melatih siswa untuk menyampaikan gagasannya.
Jika ia setuju dengan gagasan orang lain apa alasannya, juga sebaliknya. Guru bisa meminta siswa menyampaikan idenya tentang masalah aktual, seperti kemacetan, banjir, kekeringan, penangangan Covid-19, peluang dan tantangan BDR dan berbagai masalah aktual di sekitarnya.
Kelak, melalui strategi dan metode pembelajaran seperti ini lahir banyak pemikir yang mampu memecahkan masalah-masalah (solving problem) masyarakat dan bangsa. Albert Einstein menulis, "Education is not the learning of facts, but the training of the mind to think."
Kedua, melahirkan komunikator (communicator). Siswa dilatih menyampaikan ide secara lisan dengan baik (understanding and communicating ideas). Ia harus percaya diri bahwa menyampaikan gagasan lebih baik daripada diam.
Lihatlah bagaimana kelas kita. Ketika guru meminta siswa menjawab atau mengajukan pertanyaan, respon siswa sangat lamban dan sedikit sekali siswa yang bertanya atau menjawab karena tidak dilatih percaya diri.
Alih-alih memberi kesempatan siswa aktif bertanya dan menjawab, guru kita malah lebih dominan dalam pembelajaran. Kata orang, keburukan komunikasi lisan, merupakan kedangkalan pengetahuan.
Ketiga, melahirkan kolaborator (collaborator). Sedikit sekali siswa yang memiliki keterampilan jamak, misalnya bisa menggambar, mendesain konten, menyampaikan pendapat, dan berhitung.
Guru bisa mengelompokan siswa berdasarkan ragam kecerdasan dan bekerja sama dalam tim yang sangat menguatkan. Kemampuan ini penting bagi siswa (working with others). Siswa harus mampu menerima perbedaan setiap individu dan melihatnya sebagai kekuatan bukan kelemahan atau sumber perpecahan.
Keempat, melahirkan penemu atau pencipta (creator). Siswa melatih diri untuk tidak cepat puas terhadap yang sudah ada. Mereka perlu berlatih menemukan hal baru untuk menjawab persoalan demi hidup yang lebih baik.
Siswa belajar menjadi inovator mulai dari hal-hal sederhana hingga yang kompleks (producing high quality work). Kita perlu melahirkan generasi bangsa yang kreatif dan inovatif. Kita memerlukan siswa yang mampu memikirkan hal yang tidak dipikirkan orang lain.
Hendaknya mereka sampai pada tahap tidak takut melakukan kesalahan, seperti kata Albert Einstein, "A person who never made a mistake never tried anything new."
Restorasi Pendidikan Provinsi NTT akan efektif berjalan bila ada revolusi mental. Di Era Presiden Jokowi sangat percaya bahwa revolusi mental yang akan membawa bangsa ini keluar dari berbagai permasalahan bangsa.
Perubahan paradigma masyarakatlah yang akan membawa bangsa ini bergerak ke arah masa depan yang gemilang baik di sektor pendidikan, ekonomi maupun kebudayaan.
Perbaikan mental masyarakat negeri ini berarti perbaikan menyeluruh pendidikan kita.
Segenap daya dan upaya dari pemerintah, komunitas sekolah dan seluruh pemangku kepentingan dikerahkan, berkolaborasi positif memperbaiki kualitas pendidikan kita.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ketika-jokowi-menjenguk-korban-bencana.jpg)