Breaking News:

Opini Pos Kupang

Menempatkan Imajinasi sebagai Obor Pendidikan

Tak ada yang lebih menyedihkan selain mendapati kenyataan bahwa imajinasi tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah dan kampus-kampus

Editor: Kanis Jehola
Menempatkan Imajinasi sebagai Obor Pendidikan
DOK POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

Oleh: Kopong Bunga Lamawuran, Wartawan dan Pengarang

POS-KUPANG.COM - Tak ada yang lebih menyedihkan selain mendapati kenyataan bahwa imajinasi tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah dan kampus-kampus. Daya yang konon dicuri manusia dari Tuhan itu ternyata tidak diberi tempat dalam hampir seluruh jenjang pendidikan kita.

Alpanya pengajaran imajinasi dalam dunia pendidikan, tentu memberi dampak buruk bagi setiap orang yang menyenyam bangku pendidikan formal. Orang akhirnya tidak tahu bahwa di dalam dirinya, ada kekuatan besar yang bisa dia gunakan untuk memajukan kehidupannya.

Dengan imajinasi, orang menciptakan hal baru, membuat perusahan baru, membangun gedung baru, menemukan ilmu pengetahuan baru. Tulisan singkat ini ingin memberi gambaran tentang pentingnya imajinasi dalam dunia pendidikan dan kehidupan nyata.

Esensi dari pendidikan adalah menuntun seorang manusia untuk menemukan siapa dirinya, yang diwakili oleh satu pertanyaan singkat nan sederhana ini: `Siapa saya?' Jawaban atas pertanyaan `Siapa saya?' ini tidak semudah seperti mengatakan `Saya adalah seorang wartawan', atau `Saya adalah seorang sastrawan ataupun dosen'. Untuk menjawab pertanyaan `Siapa saya?', mau tidak mau kita harus belajar dan merenungkan pula `Siapa dan apa itu manusia!'.

Baca juga: Manfaatkan GeNose di Bandara El Tari

Baca juga: Pengembangan Potensi Daerah Harus Atasi Kemiskinan di Pulau Timor - NTT

Belajar memahami manusia, saya kira merupakan sebuah proses pencarian yang melelahkan dan membingungkan. Karena sewaktu seseorang berhasil menuliskan sebuah buku fiksi, maka kita berpikir dia adalah seorang sastrawan.

Atau sewaktu seseorang berdiri di depan kelas dan mengajar sejumlah mahasiswa, kita mengatakan dia adalah seorang dosen. Tapi, manusia bukanlah seorang dosen, sastrawan, atapun wartawan.

Karena semua hal itu hanyalah satu pikiran yang kita kenakan pada seseorang. Dan manusia bukanlah sebuah pikiran atau pekerjaan. Pikiran atau pekerjaan hanyalah satu ciptaaan kecil yang bisa dilakukan manusia.

Selama ini, pendidikan formal tidak pernah atau sedikit sekali mengajarkan kepada kita tentang siapa itu manusia! Fokus pendidikan selama ini adalah mempelajari hal-hal di luar dari diri manusia, sehingga tidak mengherankan bahwa setelah lulus kuliah, seseorang tidak tahu siapa dirinya atau siapa itu manusia.

Baca juga: Peduli Bencana di NTT, Universitas Sebelas Maret Serahkan Donasi Rp 50 Juta Melalui Undana Kupang

Baca juga: Sudah Siapkan Pembelaan, Kuasa Hukum Reza Artamevia Kecewa Jaksa Kembali Batal Bacakan Tuntutan

Pada tahapan pencarian yang lebih jauh, esensi pendidikan bukan saja untuk menemukan bakat atau pekerjaan atau passion, tapi justru lebih penting adalah mengenal `siapa manusia', daya-daya apa saja yang ada dalam diri manusia, yang bisa dia gunakan untuk kemajuan hidupnya. Salah satu daya yang saya maksud adalah imajinasi.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved