Breaking News:

Opini Pos Kupang

Memetik Hikmah Pasca Bencana Alam NTT

Dewasa ini, menguat kesadaran manusia dan alam tak terpisahkan. Pada hakekatnya kompleksitas alam bersatu dengan semua makhluk hidup

Editor: Kanis Jehola
Memetik Hikmah Pasca Bencana Alam NTT
DOK POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

Tetapi penebangan liar telah merajalela selama bertahun-tahun dan diperkirakan menghancurkan hampir 10 juta hektar hutan. Di samping itu Indonesia juga dijuluki sebagai negara penghasil sampah terbesar ke dua di dunia. Setiap tahunnya sebesar 1,3 juta ton sampah plastik di Indonesia bermuara di laut. (diakses 18/21). Sadarkah kita dengan semua itu?

Situasi tersebut menampilkan tindakan kita yang semena-mena tanpa memkirkan konsekuensi dibalik semua itu. Tidak heran sering terjadi perubahan iklim (climate change), pemanasan global (global warming), bencana alam seperti kekeringan, longsor, banjir, dan yang lain sebagainya terus melanda.

Semua itu dilihat karena kita telah mengabaikan tanggung jawab kebebasan dengan merubah pola pikir futuristik bahwa alam bukan hanya untuk generasi sekarang tapi juga generasi yang akan datang. Itu berarti merusak alam secara tidak langsung merusak citra masa depan seisi jagad.

Bencana alam NTT untuk kita berbenah

Tentu, masih segar dalam ingatan kita terkait situasi NTT belakangan ini. Semua masyarakat NTT diperhadapkan dengan kondisi alam yang menampilkan keadaannya dalam iming-iming tidak tentu.

Di tengah carut marut persoalan dalam Negeri ini, kita pun juga menyaksikan bencana alam dan badai siklon tropis seroja yang menimpa rumah, lahan pertanian, sawah, infrastruktur dan bahkan menghanyutkan banyak masyarakat NTT.

Lantas, kita bertanya ada apa dengan alam ini? Alam yang kita agung-agungkan dapat menopang hidup malah pada detik tertentu justru mamusnahkan para penghuninya. Lagi-lagi kita mesti berbenah, kenapa semua itu terjadi?

Patut disadari bahwa bencana alam itu mesti dipahami sebagai suatu ajakan penting kepada semua masyarakat NTT untuk tetap mencintai alam semesta ini. Kita bisa memetik hikmahnya barangkali bencana alam bukan menjadi ancaman melainkan tersirat pesan terselubung bahwa alam memberikan suatu teguran reflektif.

Teguran itu bukan bermaksud memusnahkan tapi bermakna simbolik agar semua manusia di dunia ini tanpa terkecuali berintrospeksi diri, sadar ada apa dengan alam ini.
Kita melihat peristiwa bencana alam NTT dari segi positif meskipun telah menciptakan sejarah piluh bagi semua rakyatnya. Kita mesti mepandangnya sebagai suatu himbauan konkret untuk merenung akan pentingnya merawat alam.

Bukan hanya itu, dari bencana yang telah terjadi kita juga belajar pentingnya kepedulian terhadap sesama. Kita menyaksikan di mana-mana ada aksi nyata secara langsung atau pun tidak langsung. Ada yang berupa memberiakan donasi dan juga turut berpartisipasi menangani lokasi bencana.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved