Ini Penjelasan Kapolres Lembata Soal Isu Tsunami di Kota Lewoleba
Polres Lembata mencari tahu oknum pelaku yang pertama kali menyebarkan berita adanya 'air laut naik' atau tsunami tersebut.
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Rosalina Woso
Ini Penjelasan Kapolres Lembata Soal Isu Tsunami di Kota Lewoleba
POS-KUPANG.COM|LEWOLEBA--Warga Kota Lewoleba dibuat panik tidak karuan dengan beredarnya informasi adanya tsunami pada Jumat 16 April 2021 malam sekitar pukul 23.30 Wita. Informasi ini beredar setelah terdengar gemuruh dan getaran cukup kuat akibat erupsi Ile Lewotolok malam itu pada pukul 23.00 Wita.
Warga berbondong-bondong menyelamatkan diri dengan berjalan kaki, dan dengan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat, menuju ke tempat ketinggian di Bukit Lusikawak, Kelurahan Lewoleba, Kecamatan Nubatukan.
Dua orang warga dinyatakan meninggal dunia saat dalam kepanikan menyelamatkan diri. Banyak pihak meminta Polres Lembata mencari tahu oknum pelaku yang pertama kali menyebarkan berita adanya 'air laut naik' atau tsunami tersebut.
Kapolres Lembata AKBP Yoce Marthen enggan menyebut peristiwa semalam diakibatkan adanya oknum yang menyebarkan berita bohong (hoax).
Baca juga: Pasca Banjir, 10 Orang Warga di Desa Amakaka Kabupaten Lembata Hingga Saat Ini Belum Ditemukan
"Kita coba lihat lagi masalah hoax atau tidak, dalam artian ini kan ada gejala-gejala alamnya ada, seperti gunungnya itu bergemuruh," kata Kapolres Yoce ditemui di Posko Bencana Alam Aula Kantor Bupati Lembata, Sabtu 17 April 2021.
Erupsi gunung Ile Lewotolok ini menurutnya juga mempengaruhi gejala alam lainnya.
Menurutnya, warga di Kota Lewoleba masih trauma dan takut dengan peristiwa bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini sehingga tentu menimbulkan kepanikan.
Baca juga: Warga Lewoleba Kabupaten Lembata Panik dan Lari ke Ketinggian, Begini Faktanya
Gejala alam seperti gemuruh dan dentuman kuat dari gunung Ile Lewotolok itu dirasakan semua masyarakat dan itu bukan kejadian yang direkayasa. Gemuruh seperti inilah yang bisa berdampak pada gejala alam lainnya.
Hanya saja, semua pihak perlu mendapatkan informasi resmi dari lembaga yang berwenang dan berkompeten yakni BMKG apakah gemuruh tersebut akan berdampak pada gejala alam lainnya atau tidak. Dia pun kemudian mendapatkan informasi resmi dari BMKG kalau gejala alam tersebut tidak mengakibatkan tsunami.
"Masalahnya nanti kalau kita bilang betul (karena) hoax, sewaktu-waktu nanti ada gejala (alam) lagi, tapi sudah diinfokan, malah akan timbul masalah baru lagi," katanya.
Kapolres Yoce menyebutkan peristiwa semalam belum bisa disebut akibat adanya penyebar kabar bohong (hoax), karena sebelumnya sudah ada gejala-gejala alam seperti dentuman, gemuruh dan erupsi dari gunung Ile Lewotolok.
"Kecuali tidak ada gejala-gejala (alam), lalu tiba-tiba langsung bilang (ada tsunami), nah itu yang akan kita tindak lanjuti," paparnya.
Baca juga: Wagub NTT, Josef Adrianus Nae Soi Pastikan Relokasi Warga Pasca Bencana di Kabupaten Lembata
Lebih lanjut, dia menerangkan pada saat kejadian itu, pihaknya sudah menyampaikan imbauan supaya warga yang sudah berada di puncak Lusikawak dan daerah ketinggian lainnya untuk pulang kembali ke rumah masing-masing.
Dia mengimbau supaya warga juga tetap waspada karena bencana alam sewaktu-waktu bisa saja terjadi. Namun, tetap jangan ketakutan berlebihan. Kalau ingin menyelematkan diri maka harus pastikan semuanya aman (safety) supaya tidak membahayakan diri sendiri dan keluarga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/warga-kota-lewoleba-kabupaten-lembata-dibuat-panik.jpg)