4 Fakta Baru Serta Kronologi Lengkap Penyerangan Desa & Ancaman Pembunuhan Pendeta di Kupang NTT
4 Fakta Baru Serta Kronologi Lengkap Penyerangan Desa & Ancaman Pembunuhan Pendeta di Kupang NTT
Selang beberapa saat kades dan beberapa orang bersamanya keluar dari persembunyian dan mengambil sepeda motor yang sudah rusak kemudian dititipkan di rumah warga terdekat.
Ia kemudian kembali ke rumah melihat istri anaknya. Tidak lama berselang, ada sebuah mobil warna kuning membawa sekelompok pemuda tak dikenal dengan membawa busur, panah dan sejata tajam lainnya menuju rumahnya.
Melihat itu, ia mengajak istri anaknya masuk ke hutan menyelamatkan diri. Dari tempat persembunyian itu, ia melihat asal mengepul. Massa yang diduga preman bayaran itu membakar ludes rumahnya.
"Beruntung saya bersama keluarga segera lari ke hutan, jika tidak kami pasti dibunuh," tandasnya.
Menurut Yusak, pihaknya tidak bisa melakukan perlawanan karena saat itu, massa itu dilengkapi dengan senjata tajam. Ia juga mengaku ada beberapa warga setempat ikut bersama massa dalam penyerangan itu.
"Tidak tahu apa kesalahan saya, saya bukan penggugat, juga bukan tergugat, tugas saya hanya melayani warga yang oleh mereka saya mendapat jabatan ini. Saya tidak pernah dididik untuk membalas jahat dengan jahat," ujar Yusak menitikan air mata.
Yusak menyayangkan pemberitaan di beberapa media yang menyebutkan bahwa dia yang memimpin massa untuk melakukan pembakaran rumah warga.
"Saya tegaskan bahwa pemberitaan itu tidak benar. Apakah logis saya pimpin orang untuk bakar rumah saya? Saya bahkan tidak bisa keluar dari persembunyian sampai malam dan saya langsung menuju Kupang selamatkan diri," tegasnya.
Menurut dia, 21 rumah warga yang dibakar ini jauh dari objek sengketa.
"Ini benar-benar tidakan kriminal. Saat eksekusi lahan, semua berjalan lancar dibawa pengawalan polisi. Kenapa tiba-tiba ada penyerangan? Siapa otak di balik kasus ini? Polisi harus tegas," katanya.
Dia menjelaskan, aksi tidak berperikemanusiaan itu mengakibatkan 14 rumah hangus terbakar, 7 rumah rusak berat dan belasan ternak warga dibunuh para pelaku.
Dia berharap polisi bertindak profesional dalam menangani kasus pengrusakan dan pembakaran rumah warga.
Fakta-fakta Mencengangkan kedua:
Tragedi pembakaran rumah warga desa Taloetan, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang, NTT oleh sekelompok massa meninggalkan trauma mendalam bagi warga juga Pendeta gereja GMIT Gibeon Bone, Pdt. Erna Ratu Eda Fanggidae, S.Th.
Selain 21 rumah warga dibakar massa, sejumlah ternak piaraan warga pun dibunuh. Bahkan, pendeta perempuan ini diancam dan nyaris dihabisi.
Pdt. Erna Ratu Eda Fanggidae, S.Th menuturkan kejadian tersebut terjadi saat ia sedang memimpin rapat.
"Kami lagi rapat di gereja, tiba-tiba seorang jemaat memberi kabar bahwa ada orang bakar rumah warga dan para pelaku menuju gereja, semua panik," ujarya kepada wartawan, Kamis 1 Aprik 2021.
Karena takut, Pendeta Erna kemudian meminta koster untuk membunyikan lonceng gereja agar warga membantu mereka di gereja. Pasalnya di gereja kebanyakan perempuan.
"Sebagai seorang perempuan saya juga tidak bisa berbuat apa-apa, saya hanya meminta semua yang ada di dalam gerja untuk tidak keluar," katanya.
Tak lama berselang, sebuah mobil warna kuning membawa sekelompok pemuda yang tidak dikenal melintas.
"Saya lihat dari jendela para pemuda itu membawa panah, golok dan senjata tajam lainnya. Beberapa orang yang bersama saya makin ketakutan. Saya mencoba menenangkan mereka. Di antara massa itu, ada juga warga disini, saya kenal karena mereka jemaat saya," tandasnya.
Suasana makin mencekam. Pendeta Erna kemudian mengambil toga dan mengenakannya, kemudian berlutut dan berdoa memohon perlindungan Tuhan.
"Selesai berdoa, saya keluar dan berjalan ke depan gereja. Saya lihat rumah - rumah sudah terbakar, asap hitam mengepul, saya menangis, dalam hati berkata Tuhan ampuni mereka," ungkap Pendeta Erna.
Tak lama kemudian, ada dua pelaku yang membawa kelewang (golok) menuju ke arahnya. Dia sempat ciut, namun demi menyelamatkan jemaatnya yang berada di dalam gereja, ia memberanikan diri.
Disaat bersamaan, mobil kuning yang mengangkut massa pembakar itu melaju dengan kencang ke arahnya. Mereka menghentikan mobil. Beberapa orang pelaku kemudian mengancam membakar dan membunuhnya.
"Ini dia juga, bakar dia, bunuh dia," teriak para pelaku. "Saya jawab, silahkan bunuh saya. Tapi mereka tidak lakukan. Mungkin karena saya memakai toga pendeta, kalau tidak saya pasti sudah dibunuh," katanya.
Ia mengatakan, pasca kejadian, ia mengaku trauma hingga beberapa tahapan ibadah pekan suci paskah, batal digelar.
"Ada polisi yang selalu jaga, tapi saya masih trauma," tandasnya.
Ia mengaku sudah membuat laporan ke Polres Kupang, namun laporannya tak diterima.
"Laporan saya tidak diterima, saya tidak tau alasannya apa," tutupnya.
Terpisah, Kapolres Kupang, AKBP Aldinan R.J.H Manulang, yang dikonfirmasi wartawan, Jumat 2 April 2021 mengatakan, kasus tersebut masih diproses karena kedua belah pihak saling melaporkan.
"Masih berproses, kedua belah pihak saling melaporkan. Mohon dukungan untuk percepatan," ujarnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Amar Ola Keda)