4 Fakta Baru Serta Kronologi Lengkap Penyerangan Desa & Ancaman Pembunuhan Pendeta di Kupang NTT
4 Fakta Baru Serta Kronologi Lengkap Penyerangan Desa & Ancaman Pembunuhan Pendeta di Kupang NTT
Sebelum membakar rumahnya, massa yang menut dia, preman bayaran itu menjarah kios miliknya. Puluhan ternak piaraan warga desa pun dibunuh.
"Mereka semua bawa senjata tajam dan bensin. Kita terpaksa berlari selamatkan diri. Rumah, kios, bengkel dan segala isi ludes terbakar," katanya.
Dia menambahkan, dari puluhan massa yang tak dikenalnya itu, ada enam warga desa setempat yang ikut dalam aksi pembakaran rumah itu.
"Orang-orang ini sebagai penunjuk jalan. Mereka yang perintahkan bakar rumah warga. Polisi seharusnya tangkap mereka. Semua warga melihat langsung keterlibatan mereka," tandasnya.
Terpisah, Kapolres Kupang, AKBP Aldinan R.J.H Manulang, yang dikonfirmasi wartawan, Jumat 2 April2021 mengatakan, kasus tersebut masih diproses karena kedua belah pihak saling melaporkan.
"Masih berproses, kedua belah pihak saling melaporkan. Mohon dukungan untuk percepatan," ujarnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Amar Ola Keda)
Fakta-fakta MENCENGANGKAN Pertama:
Eksekusi lahan sengketa di Dusun II, Desa Taloetan, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat 26 Maret 2021 lalu berbuntut panjang.
Kepala Desa Taloetan, Yusak Bilaut mengatakan, perkara itu dimenangkan oleh Paulus Tabah selaku penggugat. Sementara Nahor Bana dkk, sebagai tergugat dinyatakan kalah oleh majelis hakim pengadilan negeri Oelamasi.
Berdasarkan putusan majelis hakim, eksekusi pun dilakukan pada Jumat 26 Maret 2021. 10 rumah warga yang menjadi tergugat digusur. Namun anehnya, kata dia, lima rumah yang di luar objek yang disengketakan juga turut digusur.
"Amar putusan yang dibacakan panitera waktu eksekusi, 10 rumah yang digusur, bukan 15," ujarnya kepada wartawan saat menggelar konferensi pers, Kamis 1 April 2021.
Meski demikian, warga tak melakukan perlawanan apapun saat eksekusi. Warga yang tergusur pun memilih membangun tenda darurat di luar objek sengketa itu.
Sebagai pemimpin di desa itu, pada Minggu 28 Maret 2021, ia bersama seorang pendeta dari Jakarta mengunjungi dan membawa bantuan bagi warga yang rumahnya digusur.
Setelah menmberi bantuan, mereka pun berdoa bersama. Tak lama kemudian, tiba-tiba datanglah sekelompok massa yang membawa senjata tajam melakukan penyerangan di lokasi itu. Beberapa kendaraan warga termasuk pendeta pun dirusaki dan dibakar massa.
"Kerusuhan pun tidak dapat dielakan. Kami akhirnya lari ke hutan di belakang rumah darurat yang dibangun warga. Sementara sekelompok pemuda tidak dikenal itu makin beringas," katanya.