Kamis, 16 April 2026

Berita NTT Terkini

Hari Raya Nyepi Pada Masa Pandemi Covid-19: Budiana Imbau Patuhi Protokol Kesehatan

Hari Raya Nyepi pada masa pandemi Covid-19: Budiana imbau patuhi protokol kesehatan

Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM
Maknai Nyepi Umat Hindu di Tengah Pandemi Covid-19, PHDI Kota Kupang Minta Umat Hindu Patuhi Prokes 

Hari Raya Nyepi pada masa pandemi Covid-19: Budiana imbau patuhi protokol kesehatan

POS-KUPANG.COM - UMAT Hindu merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1943 pada Minggu (14/3/2021). Perayaan kali ini dipastikan berbeda dengan tahun sebelumnya, karena digelar di tengah pandemi Covid-19.

Adapun tema Nyepi kali ini adalah Memaknai Nyepi Menuju Hidup Shanti dan Jagaditta. "Perayaan hari raya Nyepi tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya, karena digelar di tengah pandemi Covid-19," kata Wakil Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Kupang, Dr I Gusti Made Budiana saat Ngobrol Asyik Bersama Pos Kupang, Rabu (10/3/2021). Acara dipandu jurnalis Pos Kupang Annie Eno Toda.

Baca juga: Kisah Korban Bus Pariwisata Masuk Jurang: Mimin Merangkak Keluar dari Jendela

Sebagai wujud mentaati peraturan pemerintah tentang protokol kesehatan, kata Budiana, PHDI Kota Kupang telah mengeluarkan imbauan kepada seluruh umat Hindu terkait pembatasan pengumpulan massa.

PHDI Kota Kupang mengintruksikan agar rangkaian prosesi Nyepi akan dihadiri terbatas umat Hindu.

"Dalam rangkaian prosesi nantinya akan bisa dihadiri minimali 10 orang. Ini untuk mencegah klaster baru penyebaran virus Covid-19," ujar Budiana.

Baca juga: Rektor Unwira Kupang P Dr Philipus Tule, SVD: Dorong Mahasiswa Berinovasi Saat Pendemi

Lebih lanjut Budiana menjelaskan makna Nyepi. Menurutnya, semua manusia menginginkan kedamaian, kemakmuran, kebahagiaan dan kesejahteraan.

Ia menyebut ada empat tahapan prosesi yang dirangkaikan dalam perayaan Hari Raya Nyepi, yakni melasti, kaur kesang, nyepi dan dharma shanki.

Tahapan melasti digelar di laut yang bermakna pencucian alam seperti buang kotoran alam berupa kemiskinan, penyakit masyarakat lainnya.

"Diri kita dibersihkan melalui upacara di laut. Menyucikan diri kita karena selama setahun berdosa dan kita akan dibersihkan dengan tahapan terakhir mengambil sari laut," terang Budiana.

"Karena sangat rentan dengan pengumpulan massa, tahun ini kita lakukan melasti ngumpen di Pantai Oeba dengan sederhana, dengan tidak kurangi maknanya," tambahnya.

Tahapan kedua, kaur kesang. Artinya membayar. Tujuannya memberi persembahan kepada kekuatan negatif kepada alam sehingga lebur menjadi kekuatan positif yang mendukung kehidupan manusia.

"Menetralisir kekuatan negatif sehingga tercapai kekuatan positif dengan alam. Hubungan dengan Tuhan, dengan sesama dan manusian dengan alam, yang kita seimbangkan dengan kaur kesang," ujarnya.

Ketiga, Nyepi yang selalu jatuh di bulan Maret dan dilakukan satu hari setelah kaur kesang.

Ia menegaskan, umat Hindu yang melaksanakan nyepi, memiliki empat pantangan, yakni Amatigeni yaitu tidak menyalakan api yang bermakna mematikan nafsu negatif.
Amatikharib yaitu tidak boleh bekerja. Umat Hindu di hari Nyepi dilarang melaksanakan aktivitas apapun.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved