Berita NTT Terkini

Penutur Bahasa Beilel Hanya Tiga Orang, Bahasa Daerah NTT Terancam Punah

Penutur bahasa beilel hanya tiga orang, bahasa daerah NTT terancam punah

Editor: Kanis Jehola
istimewa
Kepala Kantor Bahasa NTT, Syaiful Bahri Lubis 

Penutur bahasa beilel hanya tiga orang, bahasa daerah NTT terancam punah

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Dari 72 bahasa daerah yang ada di NTT, 14 diantaranya terancam punah. Namun sejauh ini pemerintah daerah ( Pemda) belum melakukan apapun untuk mencegah punahnya bahasa daerah tersebut.

"Kita belum mendengar Pemda bersuara tentang hal ini. Kita tidak melihat di Bappeda kabupaten/kota dan provinsi menganggarkan terkait pelestarian bahasa daerah. Malah UPTD Bahasa yang dahulu ada di provinsi, dihapuskan. Perda tentang pelestarian Bahasa juga belum ada di NTT," ungkap Kepala Kantor Bahasa NTT, Syaiful Bahri Lubis, Kamis (4/3/2021).

Lubis menjelaskan, pemerintah pusat, melalui Kemendikbud, Badan Bahasa, dan Kantor Bahasa, sangat peduli dan sangat intens melakukan pencegahan agar jangan sampai punah. Pemerintah pusat terus mendorong pelestarian bahasa daerah.

NEWS ANALISIS Dr. Marsel Robot, M.Si Pakar Bahasa Undana: Jadi Mulok

Pemerintah daerah, kata Lubis, belum sepenuhnya mendukung dari segi anggaran. Tetapi hanya mengandalkan anggaran pusat, Kemendikbud melalui Kantor Bahasa Provinsi NTT.

"Kita masih kalah dengan LSM dan NGO nasional dan internasional mengenai pelindungan Bahasa di NTT," tuturnya.

Lubis berharap, kedepan, Pemda mau mendukung Kantor Bahasa baik dari segi program maupun anggaran. Bahkan, sepertinya Pemda masih lebih peduli bahasa asing dibandingkan pelestarian bahasa daerah.

Personel Satgas Yonarmed 6/3 Kostrad Evakuasi Antonia Terseret Banjir Sungai Tolai

Menurut Lubis, penerapan bahasa daerah menjadi muatan lokal (Mulok) sekolah sangat penting untuk didorong. Apalagi untuk bahasa yang jumlah penuturnya banyak hal tersebut tentunya sangat perlu.

Khusus bahasa yang penuturnya sedikit, menurut Lubis, cukup didorong agar tetap dipakai di ranah keluarga. Remaja milenial jangan malu berbahasa daerah. Orang tua juga harus memaksakan diri menggunakan bahasa daerah di rumah.

"Masuknya HP dan televisi juga turut mempercepat tidak bangganya anak-anak memakai bahasa daerah," pungkasnya.

Dijelaskan, berdasarkan hasil pemetaan bahasa yang dilakukan Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Provinsi NTT memiliki 72 bahasa daerah. Jumlah tersebut masih bisa bertambah atau berkurang sesuai verifikasi data yang dilakukan di lapangan.

"Jumlah ini bisa saja berbeda dari lembaga lain, semisal SIL atau juga Perguruan Tinggi, tergantung metode penghitungan yang dilakukan," kata Lubis.

Lubis juga mengungkapkan, dari 72 bahasa daerah tersebut, 14 diantaranya hampir punah. Tiga di antaranya sudah masuk pada fase sangat kritis, yaitu bahasa Beilel, bahasa Kafoa, dan bahasa Sar.

Bahkan tambah Lubis, bahasa Beilel tinggal 3 orang penutur, yaitu Usman (65), Karim (68), dan Bernandus (83). Bahasa Beilel terdapat di Dusun Habolat, Desa Probur Utara, Kecamatan Alor Barat Daya, Kabupaten Alor.

Untuk menentukan bahasa yang masuk kategori punah pun, ujar Lubis, berbeda-beda standar meskipun sebagian besar indikatornya sama.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved