Breaking News:

Berita NTT Terkini

NEWS ANALISIS Dr. Marsel Robot, M.Si Pakar Bahasa Undana: Jadi Mulok

NEWS ANALISIS Dr. Marsel Robot, M.Si Pakar Bahasa Undana Kupang: Jadi Mulok

Editor: Kanis Jehola
NEWS ANALISIS Dr. Marsel Robot, M.Si Pakar Bahasa Undana: Jadi Mulok
Kompas.com
Dr. Marsel Robot, M.Si

NEWS ANALISIS Dr. Marsel Robot, M.Si Pakar Bahasa Undana Kupang: Jadi Mulok

POS-KUPANG.COM - Bahasa daerah di NTT terancam punah akibat pluralitas dan rendahnya pelestarian. Bahasa, dalam hal ini bahasa daerah, seharusnya menjadi ungkapan moralitas tiap warga negara, termaksud masyarakat NTT yang kini secara wajar telah di hegemoni Bahasa Indonesia.

Contohnya, ketika dua orang warga NTT dari dua daerah berbeda melakukan perkawinan tentu akan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa keseharian. Hal ini berarti, dua bahasa daerah secara tidak sadar sedang dihancurkan.

Personel Satgas Yonarmed 6/3 Kostrad Evakuasi Antonia Terseret Banjir Sungai Tolai

Tingkat pluralitas memaksa masyarakat agar menggunakan bahasa Indonesia yang secara tidak langsung juga menyebabkan kepunahan dari bahasa daerah itu sendiri.

Selain itu, belum adanya usaha perawatan secara intensif juga mengakibatkan tergerusnya bahasa daerah. Padahal, terdapat program dasar bahasa dan sastra Indonesia yang berada di beberapa kampus di NTT yang seharusnya dapat di manfaatkan mahasiswa dalam melakukan penelitian tentang bahasa daerah agar tetap eksis.

Dua Kubu Demokrat Sulit Rekonsiliasi

Hilangnya bahasa daerah ini juga disebabkan oleh perubahan-perubahan melalui budaya modern, juga ritual-ritual yang mulai menggunakan bahasa Indonesia. Sudah sangat sulit bahasa daerah bertahan.

Sifat bahasa daerah juga, dianggap sebagai penghambat dalam menunjukan kepribadian seseorang. Di sisi lain, ragamnya bahasa daerah di tiap wilayah, mestinya dibarengi dengan pelestarian yang alot. Misalnya ada bahasa sakral yang tidak bisa diucapkan oleh orang lain. Ini juga menjadi ketakutan bagi orang lain dalam mempelajari bahasa daerah.

Keterbatasan mengcover bahasa daerah melalui lembaga juga menjadi sebab kecil, juga di sekolah-sekolah yang dinilai tidak adanya usaha penyelamatan atas bahasa daerah ini.

Saya menyarankan agar bahasa daerah dimasukkan ke dalam muatan lokal melalui lembaga pendidikan, yang diyakini bahasa daerah merupakan modus ungkapan dari karakter kebudayaan lokal dalam masyarakat. Merawat bahasa secara endemik melalui lembaga pendidikan juga, akan mampu menjaga kehakikian dan nilai estetika bahasa daerah itu sendiri.

Saya mengritisi penggunaan bahasa Inggris yang diarahkan pemerintah yang justru hanya menunjukan kepentingan pragmatis dan berbeda dengan bahasa daerah yang lebih kepada kepentingan martabat.

Apa yang dilakukan pemerintah, amat pragmatis dan tidak subtantif dan ini bentuk-bentuk ketersesatan yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun sekolah-sekolah.

Selain peran lembaga pendidikan dan pemerintah dalam merawat bahasa daerah, lingkungan keluarga juga berkewajiban menanamkan dan mendidik kembali kelestarian bahasa daerah.

Para pegiat kreasi atau kreator juga harus memulai penggunaan bahasa daerah dalam tiap konten agar dengan sendirinya perawatan bahasa tersebut tetap terjaga. (cr8)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved