Breaking News:

Salam Pos Kupang

Kebijakan DP 0 Persen Belum Tentu Menguntungkan

PEMERINTAH melalui Bank Indonesia ( BI) resmi memberlakukan pelonggaran ketentuan uang muka kredit atau Down Payment (DP) menjadi 0 persen

Editor: Kanis Jehola
Kebijakan DP 0 Persen Belum Tentu Menguntungkan
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

POS-KUPANG.COM - PEMERINTAH melalui Bank Indonesia ( BI) resmi memberlakukan pelonggaran ketentuan uang muka kredit atau Down Payment (DP) menjadi 0 persen untuk pembelian sepeda motor dan mobil baru. Adapun kebijakan ini mulai diberlakukan pada 1 Maret 2021 sampai 31 Desember 2021.

Stimulus ini diberikan untuk mendorong pertumbuhan kredit di sektor otomotif, di mana saat pandemi sektor otomotif sempat mengalami kemerosotan. Tak hanya itu, BI juga melonggarkan rasio Loan to Vakue/Financing to Value (LTV/FTV) Kredit/Pembiayaan Properti menjadi paling tinggi 100 persen. Artinya, konsumen dapat mendapat kredit pemilikan rumah (KPR) dengan DP 0 persen.

Food Estate dan Kemiskinan di NTT

Kebijakan ini langsung ditanggapi oleh para leasing maupun dealer penjualan mobil. Harapan akan banyaknya pembeli makin tinggi. Masyarakat yang sebelumnya kesulitan untuk memiliki mobil, kini hanya bermodalkan kelengkapan administrasi, langsung bawa pulang mobil.

Pertanyaan sekarang, apakah memang kebijakan DP nol persen ini akan membawa dampak bagus bagi ekonomi masyarakat? Ada banyak hal yang bisa kita lihat dari kebijakan ini.

Para penjual atau leasing tentu sudah memperhitungkan untung dan ruginya jual mobil tanpa DP. DP, masuk dalam hitungan harga jual on the road sebuah mobil. DP adalah uang muka murni, berkisar 20 persen atau 30 persen dari harga kendaraan. Artinya, kalau tanpa DP, berarti seorang pembeli membayar 100 harga mobil itu lewat cicilan per bulan.

1.360 Warga Manggarai Timur Akan Disuntik Vaksin Covid-19 Periode Kedua, 25 Orang Wartawan

Ini yang kemudian masih menjadi pertanyaan. Dan pertanyaan ini menjadi rahasia bagi para penjual mobil. Apakah tidak ada DP berarti bunga pembelian juga murah? Apakah besarnya cicilan DP 0 persen masih sama dengan yang 20-30 persen?

Leasing, dalam kebijakan penentuan besarnya cicilan, biasanya menyesuaikan dengan kemampuan bayar dari konsumen. Artinya, meski tanpa DP, tentu tidak gampang atau mudah seseorang bisa kredit sebuah mobil. Harus diperhatikan juga kemampuan bayar atau cicil setiap bulan.

Artinya, di masa pandemi covid-19 yang belum diketahui kapan berakhirnya ini, masyarakat juga harus kuat berhitung. Saya bisa bayar satu dua bulan, tapi apa bulan berikutnya masih bisa mencicil? Artinya, kalau kemudian mobil ditarik karena tak mampu mencicil, tentu akan ada kerugian dari pihak leasing.

Apakah mobil yang sudah jadi barang bekas itu akan langsung terjual? Hal ini bisa menjadi masalah baru bagi perekonomian. Bila salah berhitung, maka para penjual akan mengalami kerugian yang besar. Akankah kita mau memanfaatkan moment ini agar ramai-ramai memiliki mobil? **

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved