Tanggapan Bupati Djafar Soal Jumlah Penduduk Miskin di Ende Naik

jumlah penduduk miskin di kabupaten ini pada 2019 sebanyak 63,45 ribu jiwa dan 2020 mengalami kenaikan menjadi 65,22 ribu jiwa.

Penulis: Laus Markus Goti | Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/LAUS MARKUS GOTI
Bupati Ende Djafar Achmad saat Lauching Kampung Tangguh Covid-19 di Pulau Ende, Kamis (18/2/2021). 

Selanjutnya, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) juga mengalami kenaikan yakni sebesar 0,08 poin menjadi 1,19  dibanding 2019 yang sebesar 1,11.

Selain Pandemi Covid-19, Faktor Apa Saja yang Memengaruhi Angka Kemiskinan?

Paulus menjelaskan, untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach).

Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran.

Sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Susenas di Kabupaten Ende dilaksanakan dengan sampel 53 Blok, setiap blok jumlah 10 rumah tangga.

"Dalam pencacahan kita menanyakan hampir semua pengeluaran, pola konsumsi, kondisi rumah, listrik, air, jamban," ungkapnya.

Paulus mengatakan, rokok dan tembakau menjadi salah satu faktor kenapa jumlah penduduk miskin di Ende naik. 

Paulus menyebut, kendati bukan merupakan kebutuhan dasar, namun rokok banyak dikonsumsi penduduk miskin. Pengeluaran untuk rokok dan tembako di Ende, tergolong tinggi. 

"Misalnya satu KK ada empat orang, bapanya merokok. Satu hari isap satu bungkus. satu bungkus rokok, Rp. 20.000, kan bisa beli beras sudah dua kilo. Sementara beras dua kilo bisa makan tiga hari. Belum lagi soal, rokok ada efeknya," kata Paulus.

Promo J.CO Hari ini Sabtu 27 Februari 2020, Ngopi Hemat Berdua Rp 19.000, Buruan Yuk

Nasdem Salurkan Bansos di Lembata dan Sampaikan Masalah Virus Babi Kepada Bunda Julie Laiskodat

175 Anggota Polda NTT Sudah Divaksin Covid-19 

Faktor lain, yang sebabkan jumlah penduduk miskin naik, yakni, dari satu sisi lapangan kerja kurang di sisi lain, angkatan kerja banyak. "Sementara sektor non formal belum berkembang, gaji ada yang bawah UMR," ungkapnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oris Goti)

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved