Breaking News:

Opini Pos Kupang

Pengoplosan Fakta dan Pemerkosaan Kedua oleh Media

Presiden Joko Widodo pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN), 9 Februari 2021 mengharapkan agar pers tetap berada di garis terdepan

Pengoplosan Fakta dan Pemerkosaan Kedua oleh Media
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

Oleh: JB Kleden, ASN Kementerian Agama

POS-KUPANG.COM - Presiden Joko Widodo pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN), 9 Februari 2021 mengharapkan agar pers tetap berada di garis terdepan untuk mengabarkan setiap perkembangan situasi dan menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat, menjaga optimisme serta harapan.

Ada tiga hal penting dalam pernyataan singkatini. Pertama kepeloporan pers dalam pekabaran, kedua menjadi jembatan komunikasi, ketiga membangun optimisme dan menumbuhkan harapan. Pekabaran dan jembatan komunikasi adalah fungsi imperatif yang tidak boleh diabaikan, menumbuhkan optimisme dan harapan adalah fungsi preferensial yang perlu dijalankan pers.

Tentunya emphasis dari harapan Presiden tersebut punya target penting, mengingat di era sekarang ini, pers (media konvensional/mainstream) tidak lagi menjadi satu-satunya penjaga gerbang informasi dan melakukan pekabaran.

Tugas dan Peran Plh Bupati

Di era internet ini, hampir setiap saat dan hampir setiap orang dapat memproduksi content informasi dan berita sendiri dalam media independen yang kita sebut media sosial. Ruang publik kita tidak lagi hanya diisi media konvensional tetapi juga dibanjiri informasi dari media sosial. Nyaris tidak ada aktivitas sosial yang luput dari kritisisme aktivis media sosial.

JIKA dalam media konvensional kita mengenal pembedaan yang jelas antara wartawan, redaktur, produksi dan publikasi, dengan media sosial setiap orang sekaligus menjadi wartawan, redaktur dan produser tanpa ada yang mengontrol.

Liputan tidak lagi in actu di tempat kejadian peristiwa, tapi dari mesin pencarian google, WhatsApp, Twitter dll. Publikasi berita tidak lagi diterbitkan/siarkan kepada khalayak, tetapi diposting dan dipamerkan (display) dalam jaringan. Medianya bukan lagi surat kabar, tv, radio, tapi komputer dan smartphone.

Kasus Keterangan Palsu, Bupati Manggarai Barat dan Advokat Anton Ali Penuhi Panggilan Kejati

Etosnya bukan lagi kode etik, tetapi kecepatan. Bersamaan dengan itu ketelitian menjadi tidak penting, kebenaran berita ditunda, sampai jika ada komplein. Istilah gaulnya, hit and run. Jurnalisme yang lebih menekankan kecepatan pencapaian informasi dengan menomorduakan kelengkapan dan kelayakan jurnalistik. Sifat jurnalisme yang eksplosif-insinuatif ini juga mengabaikan etika saat berhadapan dengan obyek berita dan masyarakat.

Berita pers dengan demikian lebih sering dibilang gossip (bukan hoax). Dan seperti kebanyakan gossip, jurnalisme hit and run membuat pers lebih mirip sebagai medium berceloteh. Ia dibutuhkan bukan penting tetapi karena di sana ada big talk on small things, ada small talks on big things dan selebihnya adalah small talks on small things dengan foto menggiurkan tanpa terenskripsi end to end. Kutahu yang ku mau.

Fenomena media sosial ini memang berkontribusi positif terhadap proses demokrasi dan deliberasi di Indonesia. Tetapi bersamaan dengan itu kita menemukan munculnya gejala-gejala simtomatik, yakni penyimpangan dari standar dan norma jurnalisme yang terjadi secara ekstrim dan massif. Simtomatik media tidak hanya menjadi gejala umum media sosial tetapi juga merambah media arus utama dan online. Beberapa bahkan seperti kehilangan akal dan terang-terangan meninggalkan obyektifitas dan independensi.

Halaman
123
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved