Warga Akui Fasilitas Pelabuhan Lewoleba Terburuk
Andi Lasar, mungkin jadi salah satu dari sekian banyak warga Lembata yang prihatin dengan kondisi fasilitas di Pelabuhan Lewoleba
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA - Andi Lasar, mungkin jadi salah satu dari sekian banyak warga Lembata yang prihatin dengan kondisi fasilitas di Pelabuhan Lewoleba. Jika dibandingkan dengan pelabuhan lainnya di NTT menurut Andi, Pelabuhan Lewoleba adalah yang terburuk fasilitasnya.
Padahal, aktivitas bongkar muat di pelabuhan utama Kabupaten Lembata itu saat ini semakin ramai.
"Coba lihat saja sendiri, secara kasat mata, kondisi fisik, sarana dan prasarana Pelabuhan Laut Lewoleba masih memprihatinkan," kata Andi di Lewoleba, Senin (11/1/2021).
Baca juga: IGD RS SK Lerik Aktif Kembali Layani Warga Kota Kupang
Hal yang sama juga diutarakan Dominikus Karangora, warga Lewoleba yang berdomisili di Kawasan Kota Baru.
Dia berujar kalau pemerintah daerah tidak sanggup lagi membenahi fasilitas pelabuhan yang ada sebaiknya pengelolaannya diserahkan saja kepada Kementerian Perhubungan.
Baca juga: Kepala Bappeda Kota Kupang, dr Ari Wijana: Kita Hidupkan Kembali Pajak Air Tanah
"Setiap kali masuk pelabuhan kita bayar retribusi, tapi fasilitas yang kita dapat di dalam pelabuhan memprihatinkan sekali," tandas Domi.
Pantauan Pos Kupang, Senin (11/1/2021), dermaga tersebut sampai saat ini tidak dibiarkan merana. Kondisi fisik dermaga juga sudah keropos. Pagarnya juga sudah rusak dan terminal penumpang juga seperti 'Rumah Hantu'.
Karet vender di depan dermaga baru maupun dermaga lama pun tidak ada. Fungsi karet vender itu yakni untuk menahan benturan kapal ke dermaga saat olah gerak sandar kapal dan saat bongkar muat terlepas.
Lapangan penumpukan kontainer sampai saat ini belum dipasang pavin block. Walau sudah digunakan selama ini, tempatnya masih berlantai tanah dan, bergelombang. Hal ini berisiko saat muat atau menurunkan peti kemas dari atas tronton.
Praktisi Pelayaran asli Lembata David Vigis Koban juga merasa prihatin dengan kondisi pelabuhan yang dibangun pada tahun 1983 tersebut.
Menurutnya, kondisi ini menyebabkan proses angkut para penumpang dari kapal pun sangat terganggu.
Kapten Kapal Lembata Express ini menandaskan bahwa seharusnya pemerintah kembali memanfaatkan jeti apung di sebelah timur dermaga sebagai lokasi berlabuh kapal cepat. Saat ini ada lima kapal cepat yang beroperasi, namun fasilitas tidak menunjang.
"Padahal, ini sistemnya boarding tiket, muat sesuai kapasitas," ujar David Vigis.
Pemda Lembata, katanya, harus menyerahkan pengelolaan pelabuhan kepada Kementerian Perhubungan, yang dalam hal ini Dirjen Perhubungan Laut. "Dengan kondisi dermaga yang mulai parah ini, tidak sedikit biaya renovasi," pungkasnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/warga-akui-fasilitas-pelabuhan-lewoleba-terburuk.jpg)