Selasa, 28 April 2026

Opini Pos Kupang

Pilkada 2020 Kuburan Incumbent

Semenjak mantan Presiden SBY ( Soesilo Bambang Yudhoyono) mencalonkan diri menjadi Presiden RI di periode kedua pada tahun 2009

Editor: Kanis Jehola
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang 

Oleh : Utuh M.J. Taedini Peneliti Utama Losta Institute

POS-KUPANG.COM - Semenjak mantan Presiden SBY ( Soesilo Bambang Yudhoyono) mencalonkan diri menjadi Presiden RI di periode kedua pada tahun 2009, istilah incumbent atau petahana mulai nge-trend di Indonesia.

Sejak saat itu hampir semua perhelatan politik di Indonesia baik dimomen pilpres (pemilihan presiden), momen pilkada (pemilihan kepala daerah) maupun momen pileg (pemilihan legsilatif) ada istilah incumbent atau petahana.

Kata incumbent sendiri berasal dari Bahasa Inggris yang berarti orang yang sedang memegang jabatan yang mengikuti pemilihan kembali untuk mempertahankan jabatannya tersebut.

Baca juga: KPU Manggarai Tetapkan Hery-Heri Terima Kasih Deno-Madur

Istilah ini juga mengandung asumsi, jika ada seorang incumbent pada suatu jabatan, maka juga berarti ada seorang penantang yang ingin merebut jabatan itu.

Dalam Bahasa Indonesia kata incumbent adalah petahana yang berasal dari kata "tahana" yang berarti kedudukan, kebesaran, atau kemuliaan. Dalam kata kerja, maka muncul kata "bertahana" yang memiliki arti "bersemayam; duduk".

Baca juga: MK Terima 135 Sengketa Pilkada, 4 dari NTT

Pada tanggal 9 Desember 2020 Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggelar pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak di 270 daerah di Indonesia termasuk di Nusa Tenggara Timur (NTT), pilkada dilakukan di 9 kabupaten yakni Ngada, Manggarai, Manggarai Barat, Sumba Timur, Sumba Barat, Belu, Malaka, Timor Tengah Utara dan Sabu Raijua.

Pesta demokrasi di NTT kali ini bisa dikatakan sebagai "kuburan" bagi incumbent, sampai tulisan ini dibuat dari hasil rekapitulasi KPU, seluruh calon kepala daerah yang bertatus incumbent tumbang dalam pemilihan.

Di Kabupaten Ngada, Paulus Soli Woa yang berpasangan dengan Gregorius Upi Terpuruk di urutan ke empat dengan hanya meraih 17,2 persen tertinggal dari pasangan Andreas Paru-Raymundus Bena yang unggul di urutan pertama dengan memperoleh 27,7 persen suara.

Di Kabupaten Manggarai pasangan penantang Herybertus GL Nabit -Heribertus Ngabut unggul dengan 60.7 persen melenggang jauh dari Deno Kamilus -Victor Madur yang merupakan pasangan incumbent jilid dua. Demikian halnya dengan Sabu Raijua, Malaka dan Belu dimana semua incumbent tertinggal dari penantangnya.

Di Kabupaten Sabu Raijua pasangan Nikodemus Rihi Heke -Yohanes Uli Kale tertinggal dari pasangan Orient Riwu Kore -Tobias Uly, di Kabupaten Malaka pasangan Stef Bria Seran -Wande Taolin kalah tipis dari penantang Simon Nahak -Kim Taolin.

Persaingan ketat ini juga terjadi di Kabupaten Belu dimana incumbent Willybrodus Lay yang berpasangan dengan J.T Ose Luan juga kalah tipis dengan pasangan Agustinus Taolin -Aloysius Hale Seren. Demikian halnya di Kabupaten Sumba Barat, Bupati incumbent Agustinus Niga Dapawole yang berpasangan dengan Gregorius Pandango juga kalah tipis dari Yohanes Dade -John Lado Bora Kabba.

Untuk incumbent wakil bupati, di Sumba Timur Umbu Lili Pekuwali yang berpasangan dengan Yohanis Hiwa Wunu hanya memperoleh suara 42,8 persen tertinggal dari penantangnya pasangan Khristofel Praing -Dawid Wadu yang memperoleh 57,2 persen suara.

Sama halnya dengan Kab Manggarai Barat, incumbent wakil bupati Maria Geong yang berpasangan dengan Silvester Syukur kalah dari pasangan Edistasius Endi dan Yulianus Weng.

Untuk Kabupaten Timor Tengah Utara memang bupati incumbent Raymundus Fernandez tidak bertarung lagi namun pasangan Kristina Muki -Yosep Tanu bisa dikatakan berasosiasi dengan incumbent karena Kristina Muki adalah isteri dari incumbent juga dikalahkan new comer yakni pasangan David Juandi -Eusabius Binsasi.

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved