Breaking News:

Opini Pos Kupang

Natal: Wittgenstein contra Agustinus

Natal bagi umat Kristiani adalah moment terindah untuk mengenangkan kelahiran sang Juruselamat

Natal: Wittgenstein contra Agustinus
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

Oleh : Gabriel Adur, Misionaris di Keuskupan Agung Freising-Muenchen Jerman

POS-KUPANG.COM - Natal bagi umat Kristiani adalah moment terindah untuk mengenangkan kelahiran sang Juruselamat. Seluruh gereja mengakuinnya sebagai misteri Ilahi menjelma menjadi manusia.

Mengabarkan sukacita ini? "Tentang apa yang kita tidak bisa bicarakan (tidak tahu dan tidak mengerti), maka kita harus diam", ungkapan ini pernah diucapkan seorang filsuf Jerman Ludwig Wittgenstein.

Ini jawaban sang filsuf tentang pertanyaan iman di atas. Kalau dia benar, kita hanya bisa mengiakannya. Kalau Wittgenstein benar, mungkin jawabannya adalah kotbah singkat dan padat tentang kelahiran almasih.

Baca juga: REI EXPO Gairahkan Ekonomi

Namun kita masih memiliki seorang filsuf dan teolog cerdas Santu Agustinus. Sang teolog mengawasi umat kristiani dalam kesantunan filsosofisnya: "kita mungkin tidak bisa menjelaskan misteri ini seutuhnya. Namun kita tidak boleh mendiamkannya. Kita toh bisa menyanyikannya".

Sulit Menjelaskannya

Kita mungkin tidak bisa menjelaskanya dengan ketarbatasn rasio yang kita miliki bahwa dalam Yesus, yang kelahirnnya kita rayakan, seluruh kebaikan dan keramahan dan keberpihakan Allah dinampakan. Kita mungkin tak dapat merangkainya dalam kata-kata dan argumen-argumen bahwa dalam diriNya Allah memiliki rencana-rencana terindah untuk dunia.

Memahami dan menjelaskan seutuhnya tentang pesan-pesan Natal Tuhan mungkin tak bisa kita buat. Juga, kadang dalam kehidupan nyata, kita tidak bisa mengerti seutuhnya, mengapa seorang bisa mengesampingkan segala egonya untuk membantu sesama.

Baca juga: Local Heroes Award 2020: Ansi Dedikasikan untuk Anak Korban Kekerasan

Kita juga tak bisa seutuhnya menjelaskan ketika orang menunjukan rasa simpati yang tulus, namun mungkin kita hanya bisa merasakannya. Ketika orang merasakan kebaikannya, maka mungkin orang bisa mengekspresikannya.

Misteri Natal tak mungkin kita bisa paparkan seutuhnya tetapi kita tak boleh mendiamkannya. Alasannya jelas melalui kelahiran Sang Almasih, Allah menunjukan universalitas cintaNya pada umat manusia. Allah yang solider dan berpihak pada situasi kita.

Halaman
1234
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved