Opini Pos Kupang
Politik Keberpihakan ala Rashford
Manchester United membuka musim 2020-2021 dengan penuh harapan untuk memenangkan semua kompetisi baik regional, nasional
Tak berhenti pada kritik yang konstruktif Rashford membuka mata publik negaranya dan pelaku-pelaku bisnis. Dia mendapat simpati dari warga Inggris. Tercatat dalam sejarah britis raya begitu banyak supermarket, restoran, instansi kepemerintahan di tingkat lokal dan nasional yang memberikan bantuan.
Sejumlah restoran dan tokoh kecil dan besar memberikan kartu makanan gratis untuk anak-anak miskin.
Kegigihannya dalam setiap pertandingan bola dan perjuanganya untuk memberikan harapan hidup pada anak-anak miskin mendorong fans untuk mengeritik kemirisan para pelaku politik sayap kanan dan garis keras negaranya.
Anak-anak muda di Inggris pun membuka mata dan mengambil bagian dari aksi nyata kemanusiaan ini. Bagi Manchester United adalah sebuah kehormatan memiliki seorang pemain cerdas dan berhati emas dalam klub.
Kini Rashford menjadi simbol kritik lugas dan tegas bagi kota dan negaranya yang jatuh miskin akibat mal praktek politik dan kebijakan negara yang tak menguntungkan rakyat. Hal ini diperparah oleh keputusan parlemen yang memisahkan diri dari Uni Eropa.
Ibuku adalah Inspirasiku
Rashford memiliki kisah sendiri. Terlahir di Wythenshawe, sebuah kota kecil di pinggiran Manchester. Sebuah wilayah dengan tingkat kemiskinan tinggi. Sejumlah besar warganya hidup dari bantuan sosial negara.
Ibunya (Melanie Rashford ) bekerja sebagai kasier di sebuah toko dan memiliki penghasilan rendah. Namun, wanita kuat dalam hidupnya mendidik dan membesarkan Marcus juga saudara dan saudarinya dengah hati dan empati.
Memang untuk mengubah kehidupan sosial butuh komponen masyarakat yang mampu melihat dengan hati. Melanie Rashford memegang prinsip sederhana yakni: orang tidak perlu menunggu menjadi orang kaya untuk berbuat amal kepada sesama yang membutuhkan bantuan.
Dengan prinsipnya ini Melanie berjuang bersama puteranya Marcus untuk membuka kampanye bantuan kepada orang-orang gelandangan di Manchester terutama pada musim dingin. Perjuangan ibunya untuk memberikan cinta dan kehangatan pada orang-orang miskin menguatkan sang anak untuk membantu.
Ketika baru berusia tujuh tahun Marcus diterima di Akademie Manchester karena bakat bolanya yang luar biasa. Ini adalah moment paling penting dalam hidupnya karena saat itulah Marcus mulai berpikir untuk membantu orang-orang miskin seperti yang dicontohkan oleh sang ibu.
Bukan hanya membuat kampanye hadiah, Marcus dan ibunya membuat aksi untuk makan siang gratis. Marcus bercerita tentang perjuangan ibunya membantu orang-orang miskin dan gelandangan, Ibuku membuat sesuatu yang terbaik.
"Beliau membeli barang-barang makanan yang harganya kurang dari satu pound (Rp 19.000) untuk mereka".
Lalu sang bintang melihat kembali ke masa kecilnya dan berujar, "Waktu kami masih kecil ibu berupaya untuk selalu membelikan Joghurt sebagai penambah gizi makanan.
Setiap anak memiliki tujuh joghurt untuk tujuh hari dalam seminggu. Ini sangat tidak masuk akal untuk standar hidup di sebuah negara industri yang kaya. Namun kenyataanya, hal ini masih saja terjadi hingga saat ini. Kita sudah berada di tahun 2020".
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/perihal-status-honorer-lolos-pppk.jpg)