Opini Pos Kupang

Menyiapkan Pengganti Nabunome

Salam Pos Kupang, Sabtu, 17/10, mengangkat (Nasib) cabang atletik NTT. Bagi PK, wafatnya Eduardus Nabunome sekaligus membuat orang terkejut

Editor: Kanis Jehola
zoom-inlihat foto Menyiapkan Pengganti Nabunome
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

Bisa diakui bahwa jenis test seperti ini nyaris dilakukan. Tidak adanya guru dengan latar belakang olahraga yang akrab dengan jenis tes menyebabkan potensi dasar atlet pada usia 7 -11 nyaris terdeteksi.

Hal itu akan lebih jauh lagi potensi latihan. Edu sendiri berujar, untuk seorang atlet lari marathon, latihan menempatkan telapak kaki akan berpengaruh terhadap jumlah langkah yang bila disatukan bisa saja menjadi kendala gagalnya seseorang. Karena itu pengaturan posisi telapak kaki menjadi sangat penting.

Kedua. Pembinaan olahragawan professional mestinya dilaksanakan secara sangat terbatas demi fokus. Negara-negara di Eropa misalnya sejak dulu fokus pada satu cabang olahraga. Jerman Timur fokus pada renang. Rumania fokus pada senam dan Cekoslovakia pada tenis lantai.

Indonesia mesti membiasakan diri untuk mengembangkan olahraga sesuai kondisi fisik yang sedikit banyaknya dipengaruhuhi oleh postur antropometris tubuh. Nabunome pernah menyebutkan, tiga daerah NTT bisa menjadi gudang atlet pelari yaitu Ngada, TTS, dan Lembata.

Mestinya bukan hanya tiga daerah di atas. Menyadari bahwa atletik yang merupakan induk semua olahraga dapat dikembangkan tanpa biaya yang besar maka semestinya diadakan pelatihan para guru SD agar mereka sekaligus memiliki keahlian dalam memantau potensi olahragra siswa sejak usia dini. Program ini kalau dilaksanakan secara bersama-sama, maka akan menjadi gebrakan demi melahirkan atlet pelari pengganti Nabunome.

Ketiga, melahirkan atlet berprestasi tidak bisa dikategorikan sebagai olahragawan biasa. Secara umum mereka dikategorikan cerdas (120-129) atau bahkan sangat cerdas (130-139). Beberapa di antaranya bahkan dikategorikan genius karena memiliki kecerdasan di atas 140. Gerard Pique (170), Arsene Wenger (157), Mario Balotelli (157), Lampard (150).

Jenis kecerdasan seperti ini menyadarkan bahwa terdapat korelasi antara olahraga dengan jenis kecerdasan. Hal ini pula telah mendorong para ilmuwan untuk menekankan korelasi antarkeduanya. Dalam buku Creative Teaching, Mengajar Mengikuti Kemauan Otak (terbit Gramedia 2018), penulis menekankan bahwa Gerakan fisik akan memengaruhi sirkulasi oksigen. Semakin lancar peredaran oksigen maka daya serap pemahaman akan lebih kuat.

Hal ini sejalan dengan apa yang disebut Paul Dennison: Movement is the door to learning. Bagi Dennison, Gerakan adalah aktivitas membuka pintu kepada pembelajaran. Karena itu tidak bisa diharapkan adanya aktivitas belajar yang ideal kalau tidak diawali dengan gerakan sebagai pintu masuk.

Untuk NTT, kemampuan Eduardus Nabunome mendalami kepelatihan atletik hingga Jerman dengan daya intelektualitas yang tinggi membenarkan bahwa kemampuan olahraga kalau mau dimaksimalkan maka harus berjalan bersamaan dengan pembelajaran. Hal ini mendorong semua pemerhati olahraga agar mengembangakan dua hal ini secara bersamaan kalau mau mencetak atlet baru selevel Eduardus Nabunome dalam beberapa tahun ke depan. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved