Salam Pos Kupang

Mengkhawatirkan Pasien Covid-19 Bertambah

PROVINSI Nusa Tenggara Timur terbilang sebagai salah satu provinsi yang agak terlambat terpapar virus Corona atau Covid-19

Editor: Kanis Jehola
Dok
Logo Pos Kupang 

POS-KUPANG.COM - PROVINSI Nusa Tenggara Timur terbilang sebagai salah satu provinsi yang agak terlambat terpapar virus Corona atau Covid-19. Namun seiring dengan perjalanan waktu, jumlah warga terpapar Corona di NTT semakin hari semakin bertambah. Meskipun tidak cenderung frontal seperti di daerah zona merah seperti Jakarta.

Pertumbuhan jumlah orang terpapar sepertinya mengejutkan karena jumlah warga terpapar tiba-tiba bertambah. Persoalan bertambahnya tentu dapat dimaklumi tetapi hal yang menjadi masalah adalah, jumlah warga NTT terpapar Covid19 justru merupakan korban terpapar dari zona merah, Jawa dan
Bali.

Blanko e-KTP di TTS Kosong

Pertumbuhan jumlah penderita menjadi bertambah dan terkesan signifikan justru datang dari keterbukaan transportasi udara, darat dan laut. Orang percaya atau tidak, warga NTT yang terkapar hanya karena yang bersangkutan didatangi tamu yang pernah ke Jawa atau Bali.

Masalah yang paling parah sebenarnya, soal pelaku perjalanan dari hari ke hari bertambah. Kondisi ini sebenarnya menjadi kekuatiran bagi semua pihak di Provinsi NTT.

Langgar Protokol Kesehatan

Daerah ini terbuka dan sangat memungkinkan kalau pelaku perjalanan justru datang diam-diam dan menolak untuk diperiksakan kesehatannya saat tiba di NTT. Orang-orang semacam ini justru secara diam-diam telah menyebarkan Covid-19 di NTT.

Hal menarik lainnya, fenomena bertambahnya pasien di NTT bisa jadi fenomena Gunung Es. Contohnya, Kota Kupang baru saja terdapat 7 orang warga terpapar Covid19 tetapi menjadi aneh orang yang datang dari Kupang ke daerah lainnya di NTT justru hasil pemeriksaannya reaktif. Ini sebenarnya menjadi masalah yang harus dipikirkan secara baik.

Kemudian, hal yang menjadi kekuatiran saat ini, mobilitas masyarakat dari luar NTT sepertinya sudah sangat bebas. Pertanyaannya, apakah mereka-mereka ini sudah benar-benar tidak tertular di daerah asal ataukah pemeriksaan rapid test asal-asalan lalu tercatat sehat.

Dikuatikan bahwa masa kenormalan baru yang sedang dipopulerkan pemerintah jangan sampai disalahartikan oleh segelintir orang. Mereka melihat ini sebagai sesuatu yang dilakukan sebebas- bebasnya.

Saat ini, kita sendiri tidak bisa mencermati secara detil, bagaimana sikap pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten. Terlihat, para pejabat dari NTT saat ini sudah hilir mudik datang ke Jakarta. Pertanyaan, apakah mereka-mereka ini aman? Tidakkah orang sadari, bahwa sekelas Menteri Negara saja sudah tertular Covid-19 di Jakarta.

Apakah pejabat dari NTT datang ke Jawa lalu pulang aman? Kondisi ini tentu tidak bisa diprediksi sama sekali. Masalah yang paling dikuatirkan sebenarnya soal perkantoran masuk dalam klaster baru penyebaran Covid-19.

Cukup banyak pegawai perkantoran keluar masuk daerah zona merah lalu tiba di NTT tidak melakukan isolasi mandiri tetapi langsung bekerja dan menemui masyarakat. Ini hal-hal yang benar- benar tidak terpikirkan dengan cermat pula.

Seharusnya, kondisi NTT yang sangat terbuka saat ini, harus memikirkan benar soal lockdown terbatas. Kita tentu jangan buru-buru masuk dalam tataran kenormalan baru tanpa memikirkan bagaimana antisipasi penyebaran covid-19 yang dilakukan para pelaku perjalanan yang tidak bertanggungjawab.

Sebenarnya, sikap para pejabat yang jalan dari satu daerah ke daerah lainnya termasuk enggan memakai masker saat mendatangi warga, mungkin juga merupakan contoh kurang bagus. Masyarakat di desa akan cepat meniru hal-hal sederhana seperti itu. Artinya, contoh hidup seorang pejabat pemerintah sebenarnya harus diatur benar agar masyarakat desa tidak terjebak dalam salah berprilaku dalam masa kenormalan baru seperti yang berlaku saat ini.

Mungkin juga orang tidak menyadari benar soal kontak langsung dengan pasien Covid-19. Apakah benar, semua orang dengan kesadaran sendiri datang ke fasilitas kesehatan terdekat setelah melakukan kontak dengan pasien Covid-19.

Jangan sampai ada yang enggan memeriksakan kesehatan meskipun pernah melakukan kontak langsung. Orang-orang seperti ini justru sangat menakutkan. Mereka bisa menjadi transmisi lokal yang menyulitkan aparat untuk menelusuri dari mana sumber penularan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved