Kampung Adat Namata Sabu Raijua Puncaki Voting Sementara API 2020 Kategori Kampung Adat Terpopuler
Kampung Adat Namata NTT Puncaki Voting Sementara Nominasi API 2020 Kategori Kampung Adat Terpopuler
Penulis: Maria Enotoda | Editor: maria anitoda
Akhirnya mereka kembali dengan tangan hampa, dan memberitahukan kepada Robo Aba, bahwa di tempat yang bernama Radja Mara kanni Bahi ini, merupakan tempat yang banyak wawi addu (babi hutannya).
Keesokan harinya Robo Aba memerintahkan anaknya Tunu Robo dengan beberapa pasukan untuk berburu kembali ke tempat yang sama dengan suatu pesan bahwa apabila mereka berhasil membunuh babi tersebut maka mereka harus membawa tanah dimana babi tersebut tidur yaitu tanah pada bagian kepala, tanah pada bagian perut dan bagian kaki belakang.
Singkat ceritra, Tunu Robo beserta pasukannya berhasil mendapatkan babi hutan/wawi Addu dan membawa tanah seperti yang di mintakan oleh Ayahnya, Robo Aba.
Tanah yang diserahkan oleh anaknya, diperhatikan betul tekstur tanah yang diambil tersebut oleh Robo Aba, dan akhirnya dia memutuskan (mentitahkan) tempat berburu yang bernama Radja Mara Kanni Bahi menjadi tempat berburunya babi hutan atau dalam bahasa Sabu disebut ERA PEMATA WAWI ADDU. Pada saat itulah tempat yang bernama Radja Mara Kani Bahi dirubah menjadi nama Namata.
Lokasi yang bernama Namata tersebut ketika dilihat oleh Robo Aba,ternyata tempat dan tekstur tanahnya sangat cocok di jadikan sebagai salah satu perkampungan, sehingga saat itulah ia memutuskan untuk berpindah tempat tinggal dari Hanga Rae Robo ke Namata.
Pada saat berpindah dari Hanga Rae Robo ke Namata maka kegiatan pembuatan Kampung Adat atau dalam bahasa Sabu disebut Haro Nada yaitu pergantian nama dari tadinya nama kampung tersebut Radja Mara menjadi Kampung Adat Namata dilakukan secara resmi melalui ritual adat.
Setelah Ritual Haro Nada dilakukan maka langkah selanjutnya yang dibuat oleh Robo Aba adalah memindahkan Rumah adatnya yang bernama Rahi Hawu. Rumah adat Robo Aba yang diberi nama Rahi Hawu sampai saat ini dipercayai sebagai rumah pertama yang didirikan oleh Robo Aba.
Setelah memindahkan rumahnya dari Hanga Rae Robo ke Namata maka Robo Aba mulai membangun perkampungan megalitik untuk keperluan Ritual Adat, maka diambilah batu-batu megalitik yang ada dikampung sebelumnya, dipindahkan ke Kampung Namata. Pada zaman sebelum Robo Aba sudah ada Nada di Merabbu, yang saat ini terletak di Desa Dainao, Kecamatan Sabu Liae serta Nada di Kolo Teriwu yang terletak di Desa Teriwu, Kecamatan Sabu Barat.
Oleh karena itu maka terjadilah pemindahan nada dari Teriwu ke Namata yang ditandai dengan pemindahan batu-batu keramat yang diambil mulai dari merabu dan tertiwu. Akan tetapi tidak semua batu bisa dipindahkan hingga sampai ke Namata sehingga ada batu yang tertinggal di Merabbu, Teriwu, Wowadu Dai Ie atau Batu Gempa Bumi yang tertinggal di kampung yang bernama Dai Ie (Desa Titinalede), Wagga Mengaru serta Hanga Raerobo
Berikut beberapa batu keramat yang berada di Kampung Adat yaitu:
1. Wowadu Mejadi Deo atau tempat duduknya Mone Ama yang memegang Jabatan tertinggi sebagai DEO RAI dari Udu Namata.
Batu ini merupakan batu keramat yang tidak boleh disentuh oleh siapapun selain oleh Deo Rai beserta wakilnya yang di sebut Bawa Iri Deo. Di atas batu inilah Deo Rai Akan duduk pertama kalinya untuk melaksanakan Ritual.
2. Wowadu Lawa Rai.
Batu ini merupakan batu keramat ke dua yang tidak boleh di sentuh oleh siapapun selain Deo Rai. Letak batu ini di depan batu Mejaddi Deo. Batu ini punya hubungan dengan semua yang ada di di Rai Hawu atau Pulau Sabu Raijua sehingga batu inilah yang dipercaya sebagai batu pemegang kendali keamanan, kesuburan, kemakmuran dan kesejahteraan Tanah leluhur Sabu Raijua.
3. Wowadu Kika Ga.
Batu ini merupakan batu yang diambill dari merabbu. Kika Ga sesuai dengan cerita orang Sabu adalah Manusia pertama orang Sabu yang awalnya hidup di tempat yang bernama Hu Penyoro Mea dan membuat Nada atau Kampung kramat yang bernama Kolomerabbu.
4. Wowadu Hawu Miha.
Batu ini merupakan batu yang diambil dari nama nenek moyang orang Sabu pada generasi ke-39. Hawu Miha anak dari hasil perkawinan antara kaka beradik Ngara Rai dengan Piga Rai. Hawu Miha memiliki 3 saudara yaitu Djawa Miha yang dipercaya merantau ke Pulau Jawa, Ede Miha yang merantau ke Flores dan Huba Miha yang merantau ke Pulau Sumba.
5. Wowadu Ngahu.
Batu ini merupakan batu keramat yang berfungsi untuk menentukan kemenangan perang, sehingga pada zaman dahulu ketika terjadi perang maka sebelum berangkat perang akan dilaksanakan ritual diatas Wowadu Ngahu dan yang melaksanakan Ritual diatas batu tersebut hanyalah Maukia Muhu dari Udu Namata. Jabatan Maukia Muhu sama halnya dengan jabtan sebagai panglima perang .