Kampung Adat Namata Sabu Raijua Puncaki Voting Sementara API 2020 Kategori Kampung Adat Terpopuler
Kampung Adat Namata NTT Puncaki Voting Sementara Nominasi API 2020 Kategori Kampung Adat Terpopuler
Penulis: Maria Enotoda | Editor: maria anitoda
POS-KUPANG.COM - Kampung Adat Namata NTT Puncaki Voting Sementara Nominasi API 2020 Kategori Kampung Adat Terpopuler
Kabar gembira sekaligus membanggakan kembali hadir untuk Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Pasalnya beberapa ikon destinasi wisata NTT masuk dalam nominasi API 2020.
• Foto Bareng Raffi Ahmad, Rok Edge yang Dipakai Nagita Slavina Disorot, Bagian Tubuhnya Ini Terlihat
• Kandas Sama Dita Soedarjo, Ternyata Ini Sosok Pacar Baru Denny Sumargo, Punya Jabatan Penting
• Akhirnya! Iqbaal Ramadhan Pamerkan Kemesraannya dengan Zidny Lathifa saat Kondangan Bareng
Ikon wisata tersebut terdiri dari Daging Se'i di Kota Kupang (kode API 1G) di kategori makanan tradisional terpopuler, sentra tenun ikat Ina Ndao di Kota Kupang (API 5H) di kategori destinasi belanja terpopuler, Pulau Meko di Kabupaten Flores Timur (API 8E) di kategori wisata air serta dataran tinggi Fulan Fehan di Kabupaten Belu (API 10C).
Berikut Liang Bua di Kabupaten Manggarai (API 12F) di kategori situs sejarah, kampung adat Namata di Kabupaten Sabu Raijua (API 13C), Pulau Semau di Kabupaten Kupang (API 17I) di kategori destinasi wisata baru dan Mulut Seribu di Kabupaten Rote Ndao (API 18D) di kategori surga tersembunyi.
Informasi terbaru yang dikutip POS-KUPANG.COM dari halaman akun instagram ayo_jalan2 poling sementara periode ke-1 bulan Agustus nominasi API 2020 sudah diumumkan.
Dimana Kampung Adat Namata yang berlokasi di Kabupaten Sabu Raijua mendapat suara sementara terbanyak dengan presentase 19,9% dalam kategori Kampung Adat terpopuler.

Selain itu ada juga Mulut Seribu yang berlokasi di Kabupaten Rote Ndao yang mendapat suara sementara dengan presentase 9,5% dalam kategori Surga Tersembunyi terpopuler.
Periode promosi dan pemungutan suara (voting) berlangsung mulai 1 Agustus 2020 hingga 31 Desember 2020.
Berikut cara votingnya:
Sekilas tentang Kampung Adat Namata
Bagi Masyarakat di Kabupaten Sabu-Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), nama Namata bukanlah sebuah hal baru. Namata merupakan nama salah satu Kampung Adat (yang juga adalah Kampung Megalitik) yang berada di wilayah Adat Habba atau tepatnya di Kecamatan Sabu Barat, Desa Raeloro. Selain sebagai nama Kampung Adat, Namata juga merupakan nama salah satu suku Besar yang ada di Kabupaten Sabu Raijua khususnya di wilayah Adat Habba yang dalam wilayah administrasi masuk pada Kecamatan Sabu Barat.
Kampung Adat Namata terbentuk dan didirikan oleh salah seorang tokoh terkenal Sabu-Raijua pada zaman dahulu yang bernama Robo Aba. Beliau memiliki 4 orang anak yang mana, dari ke empat anak inilah awal mula terbentuknya 4 (empat) Suku besar yang ada di Sabu Raijua khusunya di Kecamatan Sabu Barat. Anak pertamanya bernama Tunu Robo yang menurunkan Udu (suku) Namata; Anak Kedua bernama Pilih Robo yang menurunkan Udu (suku) Nahoro; Anak Ketiga bernama Hupu Robo yang menurunkan Udu (suku) Nahupo; Dan Anak Keempat bernama Dami Robo yang menurunkan Udu (suku) Nataga.
Robo Aba pada masa itu merupakan salah satu pemimpin besar di wilayah Adat Habba setelah adanya pembagian 5 wilayah Adat di Kabupaten Sabu Raijua pada zaman Way Waka. Sebelum tinggal dan berkediaman di Namata, Robo Aba awalnya tinggal di kampung yang bernama Hanga Rae Robo, yang sekarang terletak di Desa Robo Aba, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua. Pada suatu hari ia menyuruh anaknya Tunu Robo bersama beberapa pasukan lainnya untuk pergi berburu ke sebelah barat dari Kampung Hanga Rae Robo yang bernama Radja Mara Kanni Bahi (sekarang menjadi Namata).
Di daerah yang bernama Radja Mara Kanni Bahi inilah mereka menemukan begitu banyak babi hutan atau dalam bahasa Sabu disebut wawi Addu. Ketika sedang berburu di Radja Mara Kanni Bahi, Tunu Robo beserta pasukannya menemukan satu ekor babi hutan yang sedang tidur di bawah pohon duri, sehingga secara bersamaan mereka menembaki babi hutan tersebut dengan menggunakan tombak, namun sayangnya tembakan mereka tidak berhasil, karena tombak yang mereka gunakan patah pada saat mengenai hewan buruannya.