Opini Pos Kupang
Covid-19, Ateisme dan Kematangan Iman
John C.Lennox, menyimpulkan bahwa Covid-19, selain merupakan peristiwa sosio-pandemik, tetapi juga kejadian sosio-religius
Orang yang dewasa secara religius adalah orang yang tidak mudah patah arang dan menyerah pada nasib (fatalis), tetapi yang selalu berusaha untuk terus bangkit dari keterpurukannya dengan selalu menyandarkan diri pada kuasa Yang Ilahi.
Melalui wabah ini, kita tidak hanya diajak untuk berbagi rasa dengan para korban pandemi, tetapi juga makin memurnikan kembali gambaran kita tentang Allah yang kita imani. Gambaran Allah yang terlalu antropomorfis, sebagaimana yang diimani oleh banyak agama besar di dunia memiliki kelemahan-kelemahan tertentu.
Di satu pihak, gambaran itu bisa menjebak kita kepada sikap-sikap infantilisme yang membawa kepada ketidakmampuan untuk bertindak. Di pihak lain, kita akan gampang mengkambinghitamkan berbagai persoalan hidup kepada Yang Ilahi, bila yang dilami adalah pengalaman-pengalaman tragis, penderitaan, dan kemalangan. Seolah-olah Allah merupakan penyebab berbagai malapetaka. Jika dibiarkan, sikap ini merupakan sebuah pintu masuk kepada ateisme. (*)