Opini Pos Kupang

Covid-19, Ateisme dan Kematangan Iman

John C.Lennox, menyimpulkan bahwa Covid-19, selain merupakan peristiwa sosio-pandemik, tetapi juga kejadian sosio-religius

Editor: Kanis Jehola
zoom-inlihat foto Covid-19, Ateisme dan Kematangan Iman
Dok
Logo Pos Kupang

Oleh: Marianus M. Tapung dan Marsel R. Payong, (Dosen Unika St. Paulus Ruteng)

POS-KUPANG.COM - Pada bukunya, "Where is God in a Coronavirus World?", yang kemudian diulas Wisantoso dalam Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan (2020), John C.Lennox, menyimpulkan bahwa Covid-19, selain merupakan peristiwa sosio-pandemik, tetapi juga kejadian sosio-religius.

Jika dari kaca mata sosio-pandemik, Covid-19 berhubungan dengan aktivitas relasional dengan sesama dan lingkungan, terkait perilaku hidup sehat dan bersih (PHBS), maka dari perspektif sosio-religius, pandemi ini lebih pada `peringatan' Tuhan terhadap manusia.

Melalui kajian mendalam secara teologis, historis dan saintifik, Lennox memulai pembahasannya dengan "common sense" bahwa penyakit yang membawa penderitaaan (rasa sakit) memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia.

Coklit Data di Dusun Marolante Perbatasan Kabupaten Ngada-Manggarai Timur Selesai

Penderitaan memberi `warning' tentang adanya bahaya atau ancaman, sehingga setiap orang berusaha melakukan tindakan perlindungan kepada kekuatan yang lebih besar atau lebih tinggi.

Upaya mencari pelindungan ini merupakan bagian tindakan manusiawi, dan justru dapat berkontribusi membentuk karakter religius seseorang atau sekelompok masyarakat. Ketika mengalami penderitaan setiap orang menyadari situasi batas, dan dengan segala cara berusaha keluar dari keadaan tersebut.

Karl Jaspers (1883-1969) menyebut situasi batas ini dengan istilah "chiffer-chiffer"; situasi tak tak berdaya (powerless); tetapi membuat orang tertantang untuk tetap bertahan dan berjuang untuk keluar dari situasi tersebut.

Polsek Borong Manggarai Timur Tangkap 6 Orang Warga Diduga Pelaku Judi Kupon Putih

Karakter mampu bertahan dan berjuang merupakan keutamaan religius yang menjadi luaran dari berbagai model pergulataan saat orang mengalami penderitaan. Bahkan begitu pentingnya pengalaman penderitaan ini, ada orang atau sekelompok orang yang rela, bahkan sengaja berada dalam penderitaan; demi bertumbuh dan berkembangnya karakter ini. Lennox mengutip Dostoyevsky (1821-1881) yang mengatakan, "Pain and suffering are always inevitable for a large intelligence and a deep heart."

Penderitaan selalu tidak terelakan untuk mereka yang memiliki kecerdasan dan kesabaran hati. Mereka yang terlibat dalam penderitaan adalah orang-orang yang terbukti dan teruji dalam menjalani hidup ini.

Dalam konteks inilah, Lennox sangat menentang konsep fatalistik kaum Ateis yang menyebut bahwa wabah Corona ini sama sekali tidak bermakna untuk kehidupan manusia. Menurut kaum ateis, Corona adalah model kecelakaan yang bersumber dari alam semesta dengan ketidakpedulian tanpa ampun (pitiless indifference).

Corona bagian dari proses alamaih yang tak terbantahkan. Jika ada orang yang terjangkit virus dan lalu mati karena daya tubuh rendah, maka hal tersebut merupakan bagian dari kemauan seleksi alam semesta. Lennox menepis anggapan kaum ateis ini.

Menurutnya, ateisme terjebak dalam pola pikir fatalistik, dan sama sekali tidak memiliki rasa empati dengan kondisi dunia saat ini. Pemikiran ateistik tidak dapat menolong dunia saat ini dalam menghadapi masalah penderitaan.

Menurut Lennox, walaupun kaum ateis berhasil menyingkirkan Allah dari pemikirannya, tetapi mereka tidak bisa serta merta menyingkirkan pengharapan akan keluarnya dunia dari wabah ini. Dan menurutnya, satu-satunya pengharapan hanya bersumber dari Allah.

Sudah cukup lama masalah penderitaan, kemalangan, bencana, dan kejahatan menjadi pangkal dari kritik kaum ateis terhadap orang-orang beriman. Menurut kaum ateis, jika Allah orang beriman itu baik, bagaimana mungkin Ia menimpakan kesusahan dan penderitaan di atas muka bumi?

Menyaksikan pandemi yang menelan menjakiti hampir 16 juta di seluruh dunia, persoalan klasik ini muncul kembali. Bagaimana kita bisa memahami bahwa Allah itu baik, padahal Ia telah merenggut nyawa orang-orang yang amat kita kasihi (orang tua, anak, isteri, suami, sahabat, atau sanak saudara)?

Salah seorang pemikir ateis yang sangat getol menganalisis perilaku orang-orang beragama adalah Sigmund Freud (1856-1939). Bagi Freud, agama hanya bersifat fungsional belaka karena ia merupakan jawaban manusia atas frustrasi yang dialaminya. Kritiknya terhadap agama tertuang dalam karyanya berjudul Die Zukunft einer Illusion (1927).

Menurut Freud, manusia pada dasarnya memiliki keinginan untuk menjadi mahakuasa. Namun keinginan itu selalu saja dibayangi oleh kekuatan-kekuatan alam yang tidak pernah bisa diramalkan dan diatasi seperti penyakit, wabah, gempa bumi, tsunami, air bah, banjir, gunung berapi, dsb. yang mendatangkan maut. Akibat dari ancaman-ancaman itu maka manusia mengalami frustrasi karena ia merasa tidak berdaya (Dister, 1994).

Berhadapan dengan ancaman-ancaman alam dan non-alam yang menyebabkan frustrasi, manusia memberikan reaksi seperti anak kecil. Manusia membayangkan alam seolah-olah sebagai yang berpribadi atau memiliki karakteristik seperti manusia. Ia membayangkan bahwa alam dapat berlaku seperti bapak dan ibunya yang memiliki kepribadian.

Dengan mempribadikan alam itu maka manusia mencoba "menjinakkan" alam agar bisa dikuasai. Maka dengan perilaku seperti anak kecil, manusia menangis, meminta-minta, membujuk, memohon dengan harapan supaya alam tidak murka. Ia berlaku seperti anak manis yang datang kepada "bapak" dengan wajah yang ramah dan memelas agar "bapak" tidak memarahinya.

Tujuan dari personifikasi alam ini adalah agar alam tidak murka dan selalu ramah terhadap manusia. Dengan konsep ini, Freud ingin mengatakan bahwa perilaku beragama adalah perilaku yang kekanak-kanakan (regresi) atau suatu mekanisme kompensasi yang infantil karena ketidakmampuan manusia untuk mengatasi berbagai persoalan hidupnya.

Kritik ini yang sekarang menjadi aktual ketika pandemi dengan kekuatan yang luar biasa itu telah memporakporandakan tatanan hidup seluruh dunia, dan telah menelan korban ratusan ribu jiwa.

Pandemi ini sekaligus menjadi momentum yang tepat untuk memurnikan kembali penghayatan keagamaan kita. Sikap pasrah dan tawakal yang disertai dengan doa dan permohonan yang tiada henti-hentinya agar Allah memberikan ampunan dan lindungan kepada kita tidaklah cukup.

Sebagai bencana non-alam, pandemi Covid-19 menjadi momentum untuk menguji posisi horisontal keberagamaan kita, yakni hubungan kita dengan sesama -dan ini sangat nyata diungkapkan melalui solidaritas yang luar biasa dari berbagai elemen masyarakat baik dari dalam negeri maupun luar negeri; dan di pihak lain, pandemi ini juga menjadi momentum untuk menilai posisi vertikal keberagamaan kita yakni bagaimana hubungan kita dengan Yang Ilahi.

Semenjak pandemi ini melanda warga dunia, di mana-mana dipanjatkan doa-doa dan ritual-ritual tertentu oleh berbagai penganut agama sesuai dengan tradisi dan keyakinan agamanya; tentu dengan mengikuti protokol kesehatan seperti jaga jarak, memakai masker dan membersihkan tangan sebelum beribadat. Ada sholat ghaib yang dilaksanakan di mesjid-mesjid, ada misa arwah (misa requiem) yang dilaksanakan di gereja-gereja, juga ritus-ritus lainnya yang menandai suasana perkabungan, dan tidak terhitung doa-doa pribadi yang dipanjatkan untuk mereka yang meninggal dan bagi mereka yang terpapar virus.

Intinya, kita memohon keselamatan jiwa bagi para korban pandemi Covid-19 ini, mereka yang terpapar, tenaga medis yang berjuang keras untuk menangani wabah ini, serta kepada kita yang masih sehat dan belum terinfeksi. Selain doa-doa, lagu-lagu dan puisi-puisi religius juga membahana di mana-mana.

Apakah ini pertanda kebangkitan religius? Ataukah suatu letupan emosional sesaat lantaran kengerian semakin tingginya eskalasi paparan virus yang menyebabkan korban yang meninggal bertambah dari hari ke hari? Ini perlu kita renungkan lebih jauh karena pandemi Covid-19 dari sisi religius merupakan ujian yang maha berat bagi kaum beriman pada umumnya.

Dikatakan ujian, karena kita tertantang untuk merumuskan kembali iman kita kepada Allah. Allah yang sering kita citrakan sebagai Maha Penyayang, Maha Pelindung, Maha Pemurah, Maha Pengasih, atau Maha Penghibur itu seolah bisu terhadap jeritan dan isak tangis anak manusia yang tidak berdaya dan kita didesak untuk mencoba mengerti dan memahami kebisuanNya. Apakah Allah masa bodoh dengan penderitaan dan kemalangan umat manusia saat ini?

Doa dan permohonan adalah bagian dari ungkapan hubungan kita dengan Yang Ilahi atau suatu perwujudan dari posisi vertikal keberagamaan kita. Tetapi dengan menekankan itu saja, agama bisa menjadi sebuah sarana pelarian yang tidak mendatangkan jawaban apapun yang memuaskan.

Namun, kita juga perlu menanggapi `peringatan' kaum ateis agar sikap religius harus terhindar dari sikap eskipisme. Eskipisme membuat manusia melarikan diri dari segala persoalan hidupnya dan tidak mampu belajar untuk menjadi tegar dan dewasa dalam menyikapinya.

Kedewasaan religius tidak dibuktikan melalui seberapa banyak doa yang kita panjatkan atau seberapa intens kita mengikuti ritual-ritual keagamaan, tetapi seberapa mampu kita bertahan dalam cobaan sembari berusaha untuk belajar memahami makna di balik peristiwa itu.

Orang yang dewasa secara religius adalah orang yang tidak mudah patah arang dan menyerah pada nasib (fatalis), tetapi yang selalu berusaha untuk terus bangkit dari keterpurukannya dengan selalu menyandarkan diri pada kuasa Yang Ilahi.

Melalui wabah ini, kita tidak hanya diajak untuk berbagi rasa dengan para korban pandemi, tetapi juga makin memurnikan kembali gambaran kita tentang Allah yang kita imani. Gambaran Allah yang terlalu antropomorfis, sebagaimana yang diimani oleh banyak agama besar di dunia memiliki kelemahan-kelemahan tertentu.

Di satu pihak, gambaran itu bisa menjebak kita kepada sikap-sikap infantilisme yang membawa kepada ketidakmampuan untuk bertindak. Di pihak lain, kita akan gampang mengkambinghitamkan berbagai persoalan hidup kepada Yang Ilahi, bila yang dilami adalah pengalaman-pengalaman tragis, penderitaan, dan kemalangan. Seolah-olah Allah merupakan penyebab berbagai malapetaka. Jika dibiarkan, sikap ini merupakan sebuah pintu masuk kepada ateisme. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved