100 Tahun PK Ojong Pendiri Kompas Gramedia, Ojong Berintegritas, Media Sekarang Tersesat
SEBAGAI orang yang lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juli 1920, wajar makanan favorit PK Ojong masakan padang
POS-KUPANG.COM - SEBAGAI orang yang lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juli 1920, wajar makanan favorit PK Ojong masakan padang. Sedangkan minuman kesukaannya adalah kopi. Karena memegang teguh disiplin, kerja keras, serta hemat, PK Ojong selalu marah kalau dibelikan kopi yang agak mahal atau makanan kecil berlebihan untuk kudapan di kantor.
Dalam mengembangkan bisnisnya, PK Ojong yang memberi nama perusahaannya Gramedia sebagai kepanjangan Grafika dan Media ini, berpegang pada nilai-nilai kejujuran.
Bagi PK Ojong, keuntungan yang hendak dikejar bukan dengan penipuan, melainkan dengan prinsip-prinsip yang sehat: mencari nama baik, menumbuhkan kepercayaan, agar omzet bertambah terus-menerus agar perusahaan bisa berkembang.
• Belajar dari Rumah, Guru Diminta Antar Tugas ke Rumah Siswa yang Tidak Miliki Jaringan Internet
Bukan saja baik di mata Tuhan, tetapi juga bagi masyarakat, yaitu untuk memperbaiki masyarakat, untuk mengangkat derajat masyarakat.
Kegigihannya dalam bisnis tak pernah mengorbankan idealisme. Bahkan ketika Kompas dibreidel oleh kekuasaan Soeharto pada 1978, terjadi perdebatan di lingkungan internal, terutama antara PK Ojong dan Jakob Oetama.
Saat itu Soeharto yang sangat berkuasa marah karena Kompas memberitakan soal pencalonan Presiden.
• Bau Busuk dari Got di Kelurahan Kelimutu
Peristiwa itu membuat resah wartawan dan karyawan Kompas. PK Ojong dan Jakob Oetama menyikapi kejadian dengan tenang, namun keduanya berbeda sikap. Saat itu Soeharto mengijinkan Kompas kembali terbit tapi harus mengikuti kemauannya.
Sikap PK Ojong jelas, sekali mati tapi berarti. Ia menolak untuk mengikuti kemauan rejim Soeharto. Sebaliknya Jakob Oetama setuju beradaptasi dengan kekuasaan, agar Kompas kembali terbit.
Argumentasi Jakob Oetama pun cukut kuat, bahwa masyarakat Indonesia saat membutuhkan bacaan yang berkualitas dan mencerahkan. Mengikuti kemauan orde baru bukan berarti tunduk, justru merupakan siasat untuk tetap hadir agar masyarakat cerdas.
Perbedaan sikap dan pandangan kedua pendiri Kompas Gramedia ini dikisahkan dalam buku "Menulis dari Dalam", yang mengisahkan bagaimana filosopi dan gaya menulis jurnalistik Kompas.
Goenawan Mohamad, pendiri Majalah Tempo mengenal sosok insan pers terbaik Indonesia PK Ojong sebagai pribadi pekerja keras yang tak pernah berhenti belajar. Pertemuan awal Goenawan dengan PK Ojong bermula dari kedekatannya dengan salah satu cendekiawan ternama Arief Budiman.
Goenawan tak mengingat betul detail tahun pertemuannya dengan salah satu pendiri Kompas Gramedia itu. Namun, sejak tahun 1966, dirinya dan PK Ojong kerap bertemu membahas seputar perkembangan dunia sastra.
Pertemuan keduanya menggiring pada lahirnya sebuah pergaulan yang teramat sehat dan berharga bagi Goenawan. "Terutama karena pergaulan di bidang pemikiran (dengan PK Ojong, red)," ucap Goenawan kepada Tribun Network, Jumat (17/7/2020).
Banyak pengetahuan dan wawasan berharga berkaitan dengan kaidah-kaidah jurnalistik yang didapat Goenawan dari sosok PK Ojong. Salah satunya berkaitan dengan usulan penting PK Ojong kepada Goenawan sebelum mendirikan Majalah Tempo.
Goenawan menceritakan, ketika ingin mendirikan Majalah Tempo, ia mendapat masukan tentang pentingnya mengedepankan etos kerja dari PK Ojong. PK Ojong mendorong Goenawan bekerja tanpa kenal lelah 7 hari 24 jam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/goenawan-mohamad.jpg)