Breaking News:

Opini Pos Kupang

Membaca Hak Publik di Kantor Pertanahan

Dalam era pembangunan dewasa ini tanah telah menjadi aset berharga, sumber kemakmuran dan juga kesejahteraan bagi masyarakat luas

Membaca Hak Publik di Kantor Pertanahan
Dok
Logo Pos Kupang

Oleh : Victor William Benu, Asisten Ombudsman RI Perwakilan NTT

POS-KUPANG.COM - Dalam era pembangunan dewasa ini tanah telah menjadi aset berharga, sumber kemakmuran dan juga kesejahteraan bagi masyarakat luas. Banyaknya irisan kepentingan mengakibatkan sering terjadi sengketa tanah, sehingga memerlukan proses yang baik dalam pengurusannya. Namun demikian, sudah menjadi rahasia umum bahwa permasalahan pertanahan sebagian besar terkait pada sektor pelayanannya.

Berdasarkan data Ombudsman Republik Indonesia sejak 3 tahun terakhir, menunjukan bahwa secara nasional substansi pertanahan tidak pernah absen menempati posisi puncak sebagai substansi yang paling sering dilaporkan masyarakat. Fakta ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Tjiptono (2005), bahwa pelayanan yang berkualitas akan memberikan kepuasan kepada pengguna layanan, sedangkan kualitas pelayanan yang rendah dapat menyebabkan banyaknya keluhan dari pengguna layanan.

Pencurian Motor di Perumnas Maumere, Polisi Lagi Pelajar Rekaman CCTV

Berbicara tentang kualitas pelayanan, kata kualitas itu sendiri memang memiliki beragam dimensi subjektif. Oleh sebab itu perlu adanya standar tentang apa dan bagaimana kualitas pelayanan publik itu sudah bisa dikatakan baik atau belum.

Meskipun standar ini tentunya juga belum dapat memuaskan semua pihak yang terlibat, namun paling tidak dengan adanya standar ini, maka masyarakat yang merasa keberatan dan tidak puas dengan layanan publik yang diterima dapat melakukan komplain.

Tiga Pelaku Curanmor di TTU Diancam dengan Hukuman 9 Tahun Penjara

Dengan demikian, maka setiap penyelenggara pelayanan publik termasuk Kantor Pertanahan harus memiliki standar pelayanannya, sebagaimana juga telah diatur dalam UU 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.

Dalam Undang-undang ini mengatur 14 komponen standar layanan yang wajib dipenuhi penyelenggara, yang kemudian melalui Permenpan-RB Nomor 15 Tahun 2014 tentang Pedoman Standar Pelayanan digolongkan menjadi 2 (dua) komponen, yakni: pertama, komponen standar pelayanan yang terkait dengan proses pengelolaan pelayanan di internal organisasi (manufacturing) yaitu dasar hukum, sarana dan prasarana, dan/atau fasilitas, kompetensi pelaksana, pengawasan internal, jumlah pelaksana, jaminan pelayanan, jaminan keamanan dan keselamatan pelayanan, serta evaluasi kinerja pelaksana.

Kedua, komponen standar pelayanan yang terkait dengan proses penyampaian pelayanan (service delivery) yaitu persyaratan, sistem, mekanisme, dan prosedur, jangka waktu pelayanan, biaya/tarif, produk pelayanan, penanganan pengaduan, saran dan masukan. Komponen service delivery ini wajib dimaklumatkan sehingga menjadi pegangan publik.

Hasil Kepatuhan Pelayanan

Sebagai bentuk pengawasan dalam penerapan standar pelayanan publik, sejak tahun 2015 Ombudsman yang memiliki kewenangan untuk mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik, rutin melakukan Penilaian Kepatuhan Terhadap Standar Pelayanan Publik. Pada bulan November 2019 yang lalu, Ombudsman mengeluarkan rilis hasil penilaian untuk tahun 2019 yang telah diklasifikasikan ke dalam traffic light system (zona merah, zona kuning, dan zona hijau).

Halaman
123
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved