Breaking News:

Salam Pos Kupang

Normal Baru Belum Terwujud

PANDEMI Corona atau Covid-19 telah menghadirkan peradaban baru. Suka tidak suka, mau tidak mau, setiap orang dipaksa harus mau melakukan

Normal Baru Belum Terwujud
Dok
Logo Pos Kupang

POS-KUPANG.COM - PANDEMI Corona atau Covid-19 telah menghadirkan peradaban baru. Suka tidak suka, mau tidak mau, setiap orang dipaksa harus mau melakukan suatu hal yang sebelumnya dianggap tidak biasa atau abnormal menjadi sesuatu yang normal, umum.

Dibungkus dengan istilah 'kenormalan baru' yang dilatari kemisterian kapan pandemi Covid-19 akan berakhir. Tak seorang pun yang tahu. Pun belum ditemukannya vaksin untuk mengobati penyakit yang menyerang fungsi pernapasan ini.

Kenormalan baru dianggap sebagai cara yang tepat untuk berdamai dengan Covid-19 dengan melakukan cara-cara yang dianggap sebagai perubahan baru seperti mengurangi berbagai kegiatan di luar rumah dengan bekerja dari rumah, belajar di rumah bukan lagi di sekolah, bahkan beribadah juga dilakukan di rumah. Muaranya hanya satu memutus rantai penyebaran Covid-19.

Ihwal Inovasi (Membaca Arahan Presiden)

Bagaimana aplikasinya? Masyarakat NTT belum sepenuhnya memahami apa itu kenormalan baru. Bahkan mereka bingung. Tak heran hanya dianggap sebagai sebuah wacana, masih hidup dengan pola lama.

Berkumpul lagi, berpesta lagi tanpa menerapkan protokol kesehatan. Kenormalan baru masih di permukaan. Dilakukan karena terpaksa, bukan sebagai sebuah peradaban. Prinsip yang utama adalah harus bisa menyesuaikan pola hidup. Kita harus beradaptasi dengan beraktivitas dan bekerja. Apalagi Lembaga Biologi Molekuler atau LBM Eijkman sempat menyatakan, virus corona tidak akan hilang dari muka bumi dalam waktu yang lama. Karena itu, istilah berdampingan lebih tepat digunakan daripada berdamai dengan virus corona.

Ternak Warga Berkeliaran Bebas di Jalan Umum

Berdampingan dengan hidup secara normal namun ditambah dengan menerapkan protokol kesehatan. Itu Kuncinya.
Kita yakin dengan menerapkan kenormalan baru sebagai peradaban, virus corona secara perlahan-lahan menghilang.

Apalagi manusia punya sejarah dan pengalaman hidup berdampingan dengan mikroba seperti virus influenza, HIV, dan demam berdarah. Semuanya bisa dikendalikan asalkan tahu bagaimana mencegah penularannya. Dan, untuk Covid-19, WHO menerapkan new normal yang terbukti mampu mengendalikan penularannya.

Pengendalian harus bisa dilakukan di tempat-tempat yang memiliki kerentanan tinggi, misalnya panti jompo, fasilitas kesehatan mental, dan wilayah dengan banyak penduduk. Langkah pengendalian dengan pencegahan juga harus diterapkan di tempat kerja.

Langkah-langkah pencegahan di tempat kerja harus ditetapkan seperti jarak fisik, fasilitas mencuci tangan dan etika pernapasan.
Kita dukung Pemerintah Kota Kupang yang telah menepatkan Perwali Tatanan Normal Baru dan disosialisasikan kepada masyarakat agar diterapkan secara masif.

Pentingnya upaya berlanjut dalam menyosialisasikan aturan-aturan berkenaan dengan tatanan normal baru, diikuti dengan pengawasan yang ketat di lapangan. Jangan pernah berharap sekali sosialisasi masyarakat akan mengerti.

Pemerintah juga perlu menggunakan semua saluran yang ada untuk berkomunikasi. Konsistensi pemerintah dalam menjalankan komunikasi risiko sangat penting karena masyarakat kita memiliki kelenturan dalam menerima informasi baru.

Dalam arti dapat melupakan informasi yang sudah disampaikan sebelumnya jika ada informasi baru yang muncul.

Bagaimanapun perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci optimisme dalam menghadapi Covid-19 ini dengan tetap menjalankan kehidupan sehari-hari ditambah dengan penerapan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah. Menyelamatkan nyawa dan menekan angka pertumbuhan penularan Covid-19 menjadi sangat penting.

Kita tidak bisa berleha-leha dan berpura-pura menyebut virus corona sudah pergi, meski sebagian besar penduduk masih rentan. Meski nantinya pemerintah merelaksasi aturan tinggal di rumah, setiap orang di manapun harus tetap waspada.

Pertahankan jarak, pakai masker, serta rutin cuci tangan. Siapa pun memikul tanggung jawab yang sama atas kesehatan sendiri dan orang-orang di sekitar. Bahkan setelah adanya vaksin nantinya. *

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved