Capres Kombinasi Militer-Sipil Diprediksi Meraih Elektabilitas Tinggi Saat Pilpres 2024, Benarkah?

Setelah Megawati Soekarnoputri jadi Presiden kelima RI, posisinya digantikan Susilo Bambang Yudhoyono yang memiliki latar belakang militer lalu Jokowi

Editor: Frans Krowin
KOMPAS.com/ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN
Presiden Joko Widodo memimpin rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (26/2/2020). 

Kendati dari sisi elektabilitas Anies lebih unggul, namun ia dianggap tak lebih populer dibandingkan Sandiaga (83,9 persen) yang menduduki urutan ketiga dalam hal elektabilitas (9,6 persen).

Analisis Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari menyatakan, Anies akan menjadi saingan terberat Prabowo jika keduanya sama-sama mencalonkan diri sebagai presiden pada Pilpres 2024.

Tidak adanya batasan usia maksimum dalam mencalonkan diri yang diatur di dalam UU 7/2017, membuat Prabowo dapat dengan leluasa mencalonkan diri.

"Tampak jika lawan terberat untuk Prabowo Subianto adalah Anies Baswedan," kata Qodari saat memaparkan hasil survei di Century Park Hotel, Jakarta.

Masih masuknya nama Prabowo sebagai sosok yang memiliki elektabilitas tinggi dinilai tidak terlepas dari latar belakangnya sebagai seorang militer.

Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto
Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto (merdeka.com)

Taktik Jahat 6 Terdakwa Kasus Jiwasraya Dibongkar Jaksa, Pakai Nama Samaran Untuk Kaburkan Identitas

Prabowo Bisa Tumbang Hadapi Anies Baswedan Di Pilpres 2024? Seperti Megawati Kalah dari Gus Dur

Rapat Virtual Online, Anggota Wakil Rakyat Ini Telanjang Dada dan Pakai Celana Dalam, Intip Fotonya!

Direktur Eksekutif PPI Adi Prayitno menuturkan, saat ini ada kecenderungan masyarakat merindukan sosok pemimpin dengan latar belakang militer untuk kembali memimpin Indonesia.

Hal itu pun turut terafirmasi dengan riset yang mereka lakukan terhadap latar belakang atau profesi dan kombinasi pasangan capres dan cawapres.

Dilihat dari latar belakang, capres dan cawapres yang bersal dari kalangan TNI menduduki peringkat ketiga (15,2 persen) setelah profesional (22,6 persen) dan tokoh agama (17,1 persen).

Sementara, kombinasi militer-sipil menduduki urutan pertama tingkat ketersukaan (30,9 persen) untuk kombinasi capres-cawapres, dibandingkan sipil-sipil (27,9 persen), sipil-militer (15,2 persen), maupun militer-militer (8,5 persen).

"Ini cukup sederhana, ada semacam kerinduan atau semacam era siklus sepuluh tahunan di era republik ini," kata Direktur Eksekutif PPI Adi Prayitno saat menyampaikan hasil survei di Hotel Gren Alia Cikini, Jakarta, Minggu (23/2/2020).

Pasca-Soeharto lengser pada 1998, dalam kurun enam tahun setelahnya Indonesia dipimpin oleh tiga sosok Presiden dengan latar belakang sipil yakni BJ Habibie, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, dan Megawati Soekarnoputri.

Setelah itu, posisi Mega digantikan oleh Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono yang memiliki latar belakang militer.

SBY pun digantikan oleh sosok yang berlatar belakang sipil setelah memimpin dua periode selama sepuluh tahun, yakni Jokowi.

Kini, setelah Jokowi menduduki posisi yang sama untuk dua periode, menurut Adi, ada semacam kerinduan agar Indonesia kembali dipimpin oleh sosok militer.

"Sepertinya siklus sepuluh tahunan ini jadi perhitungan publik supaya dalam lima tahun berikutnya itu adalah dari kalangan militer," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Median Rico Marbun mengatakan, Prabowo perlu melakukan tiga hal jika ingin elektabilitasnya tetap terjaga hingga 2024 mendatang.

Pertama, Prabowo harus menunjukkan kinerja yang baik sebagai Menteri Pertahanan.

Kedua, Prabowo harus bisa meraih simpati tiga jenis pemilih di masyarakat.

"Ketiganya yakni yang suka (aksi) 212, yang tidak suka 212 dan yang merasa tidak ada hubungannya dengan 212.

Nah, kalau dia bisa menarik perhatian dari tiga kelompok pemilih ini, apalagi pemilihnya Pak Joko Widodo itu belum menjatuhkan pilihannya sampai sekarang, sebagian besar masih tersebar secara merata ke calon-calon lain," jelas Rico.

Alasan lain, kata Rico, karena pemilih Anies tidak memilih berdasarkan kompetensi. "Orang yang memilih Anies karena dianggap religius dan dekat dengan ulama. Tidak ada yang salah juga dengan itu.

Tapi karakter pemilihnya begitu. Alasan lain, karena faktor personalnya Anies Baswedan dianggap tutur katanya lebih bagus," ungkap Rico.

Sehingga, faktor kompetensi ternyata belum terlalu dipertimbangkan oleh pemilih Anies. "Itu juga mungkin yang menyebabkan kenapa elektabilitas Anies nomor dua. Ternyata setelah saya sendiri berhadapan dengan datanya, ternyata nomor satu masih Pak Prabowo, bukan Anies Baswedan," katanya.

Jika ingin elektabilitasnya naik, Anies disarankan untuk bekerja dengan lebih serius di DKI Jakarta.

"Jadi apa yang dia lakukan sekarang ini sudah ada limitnya. Itu dia baru bisa naikkan kalau dia kinerjanya membaik. Seperti misalnya mengatasi banjir barulah dia bisa naik (elektabilitasnya)," tambah Rico.

Hal itu pun diamini oleh Adi, bahwa salah satu yang menyebabkan elektabilitas Anies kalah dibandingkan tokoh lainnya yaitu persoalan banjir.

Menurut dia, sejumlah polemik seperti Formula E dan lem aibon tidak cukup ampuh untuk membuat elektabilitasnya turun.

Namun, lain halnya dengan persoalan banjir yang terjadi sejak awal 2020 hingga saat ini.

"Kalau survei sebelumnya semakin Anies dikritik habis-habisnya, orang semakin simpatik kepada Anies. Tapi sekarang dengan banjir, tanpa di-bully pun Anies turun dengan sendirinya," ujarnya. "Jadi banjir di Jakarta mengalahkan Anies," tutup Adi. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Capres dari Militer Diprediksi Mendapat Elektabilitas Tinggi pada Pilpres 2024", https://nasional.kompas.com/read/2020/02/23/22105831/capres- dari-militer-diprediksi-mendapat-elektabilitas-tinggi-pada-pilpres

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved