Breaking News
Rabu, 27 Mei 2026

Opini Pos Kupang

Bangun Pertanian Lahan Kering

Presiden Joko Widodo telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2020 tentang penetapan daerah tertinggal

Tayang:
Editor: Kanis Jehola
Dok
Logo Pos Kupang 

Bagaimana mungkin para petani dipaksa membuka tanah keras dan berbatu dan mengolahnya dengan mengandalkan tenaga manusia? Faktor gizi, keterbatasan tenaga manusia, dan cuaca panas terik membuat durasi waktu kerja petani sangat singkat.

Akibatnya, lahan yang digarap terbatas. Perlu menjadi catatan, sekitar 1,16 juta penduduk NTT (48,7 persen) bekerja di sektor pertanian dan merupakan mata pencaharian utama (BPS 2019).

Kami berharap agar mindset pembangunan ekonomi daerah harus mengalami transformasi. Pemerintah perlu mengetahui karakteristik daerah, baru selanjutnya merancang kebijakan yang sesuai kondisi daerah. NTT yang memiliki potensi sangat besar dalam pertanian lahan kering memerlukan kebijakan efektif, solutif dan tepat sasar.

Diversifikasi Pangan

Setelah membantu para petani membuka lahan kering, pemerintah perlu memprioritaskan diversifikasi pangan dan pengembangan pangan lokal khas NTT. Lupakan soal penanaman dan pengembangan pangan utama yaitu beras yang berada di jalur lahan basah.

Beragam komoditas lain, seperti jagung sangat potensial untuk dikembangkan. Bagi Pulau Timor, jagung menjadi pangan unggulan yang dapat menopang penghidupan sehari-hari masyarakatnya (substiten) dan menjadi komoditi yang menyejahterakan petani. Tanaman jagung sangat cocok dengan keadaan alam yang kering di Pulau Timor.

Varietas jagung yang tumbuh di Timor adalah jagung Hibrida, Lamuru, Bisma, Srikandi Kuning, Srikandi Putih dan varietas lokal. Dari semua jenis varietas, varietas paling populer adalah varietas lokal Piet Kuning yang mendominasi persebaran dengan luas tanam mencapai 246.000 ha (sekitar 78 persen dari total lahan jagung).

Selain itu, pemerintah perlu mengembangkan tanaman perkebunan dan hortikultura di Pulau Timor, Sumba, Rote dan Sabu. Dari aspek sebaran wilayah, sebelas kabupaten tertinggal berada di pulau-pulau ini dan mayoritas wilayahnya adalah lahan kering. Kami melihat ada praktik pertanian yang berbeda di Timor, Sumba, Rote dan Sabu dengan di Flores.

Tujuh kabupaten di Flores sukses keluar dari daerah tertinggal ditengarai karena telah mengembangkan sektor perkebunan dan hortikultura. Hal ini yang perlu diikuti para petani di Timor, Sumba, Rote dan Sabu.

Karakter tanah di beberapa wilayah di Sumba dan Timor sebenarnya sangat potensial untuk pengembangan tanaman perkebunan seperti kopi, kemiri, kelapa, dan tebu. Kopi Eban di TTU, Kopi Atambua di Belu tidak kalah kualitasnya dengan produk kopi daerah lainnya.

Untuk tanaman hortikultura, kedua pulau tersebut sangat potensial untuk ditanam jeruk, bawang putih, bawang merah, kacang hijau, kacang tanah, sayur-sayuran dan singkong.

Dari segi kualitas, Direktorat Perbenihan Hortikultura telah menetapkan Jeruk Keprok Soe termasuk salah satu varietas yang layak dikembangkan untuk subsitusi impor jeruk. Sampai saat ini, potensi jeruk di NTT belum dikembangkan secara maksimal.

Data BPS NTT tahun 2018 menunjukkan produksi Jeruk Keprok menempati urutan keempat (19.782 ton). Posisi pertama ditempati pisang (105.129 ton), pepaya (55.067 ton), dan mangga (47.291). Kabupaten TTS menghasilkan 14.862 ton, disusul TTU 1160 ton. Produksi Keprok Soe masih sangat minim jika ditakar dari potensi luas lahan dan iklim yang mendukung.

Kendalanya petani belum maksimal mendapatkan bantuan untuk melakukan pembibitan dan menyelesaikan persoalan hama. Masalah lainnya soal penjualan. Petani menjual dengan harga sangat murah karena harga ditekan tengkulak.

Untuk mendukung petani, pemerintah perlu memperbaiki infrastruktur pertanian penunjang, juga membangun jalan yang menghubungkan sentra produksi pertanian dengan pasar. Pemerintah juga perlu merevitalisasi peran penyuluh pertanian untuk memberi edukasi, melatih dan mendampingi petani agar terampil menanam dan memelihara komoditi perkebunan dan hortikultura di lahan kering.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved