Opini Pos Kupang

Bangun Pertanian Lahan Kering

Presiden Joko Widodo telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2020 tentang penetapan daerah tertinggal

Bangun Pertanian Lahan Kering
Dok
Logo Pos Kupang

Oleh : Y F Ansy Lema, Anggota DPR RI Komisi IV Fraksi PDI Perjuangan, Dapil NTT II

POS-KUPANG.COM - Presiden Joko Widodo telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2020 tentang penetapan daerah tertinggal. Di dalamnya, terdapat 62 kabupaten di Indonesia. Dari total itu, Provinsi NTT memberikan sumbangsih 13 kabupaten tertinggal atau memberikan porsi persentase 21 persen. Angka ini menempatkan NTT dalam posisi kedua sebagai daerah tertinggal setelah Papua (22 kabupaten tertinggal).

Tiga belas kabupaten tersebut adalah Kabupaten Sumba Barat, Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya, Kupang, Timor Tengah Selatan (TTS), Belu, Alor, Lembata, Rote Ndao, Manggarai Timur, Sabu Raijua, dan Malaka. Pertanyaannya, apa penyebab 13 kabupaten di NTT masuk kategori tertinggal?

Lurah Oeba Maksimalkan Efektivitas Kerja RT, RT Jadi Relawan Satgas Covid-19

Dalam Perpres disebutkan enam kriteria daerah tertinggal, yaitu perekonomian masyarakat, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, kemampuan keuangan daerah, aksesibilitas, dan karakteristik daerah. Namun, hemat kami, salah satu penyebab utama 13 kabupaten di NTT masuk zona tertinggal adalah pengolahan pertanian lahan kering yang belum optimal. Kondisi pertanian lahan kering memiliki efek domino terhadap perekonomian masyarakat dan kualitas sumber daya manusia (SDM) di NTT yang masih jauh dari standar nasional.

Berdasarkan data BPS, angka kemiskinan NTT per September 2019 sebesar 20,62. Indeks pembangunan Manusia (IPM) NTT tahun 2019 di angka 65,23. Dalam dua kategori ini, NTT berada di posisi tiga terbawah, hanya lebih baik dari Papua dan Papua Barat.

Realitas NTT

Berdasarkan data Dinas Pertanian NTT tahun 2018, luas lahan di NTT adalah 4.743.418 hektar. Dari total luas lahan tersebut, 214.387,90 hektar lahan basah dan 1.331.373 hektar lahan kering, selebihnya lahan bukan pertanian. Artinya, rasio komposisi luas lahan basah (sawah) dan lahan kering adalah 1 : 6. Data yang disodorkan ini menunjukan ada kaitan antara ketertinggalan dan pola pengolahan lahan kering.

Hipmi Nagekeo Serahkan Bantuan untuk Tenaga Medis

Penduduk di tiga belas kabupaten tertinggal tersebut mayoritas berada di titik lahan kering. Sebut saja, TTS, Sumba Timur, Manggarai Timur dan Kupang yang memiliki lahan kering terbesar. TTS memiliki total lahan kering, yaitu tegal/kebun, ladang/huma, dan perkebunan sebesar 147.106 hektar, Sumba Timur sebesar 114.052 hektar, Manggarai Timur sebesar 102.421,3 hektar dan Kupang 97.515,7 hektar.

Karakteristik daerah lahan kering memiliki struktur lahan yang keras dan berbatu. Ini mengakibatkan penanganan pertanian lahan kering membutuhkan upaya ekstra. Tidak bisa disamakan dengan penanganan pertanian lahan basah.

Kondisi ini paralel dengan ekonomi masyarakat yang berkarakter lahan kering. Di Kabupaten TTS, misalnya, sebagai kabupaten lahan kering terbesar, jumlah produksi jagung di daerah ini cukup besar mencapai 223.152 ton dengan luas panen 74.384 hektar (BPS NTT 2018).

Halaman
1234
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved