Pro dan Kontra Hadirnya PT Semen Singa Merah NTT di Luwuk dan Lingko Lolok Manggarai Timur

Ini Keterangan warga Pro dan Kontra Terhadap Hadirnya PT Semen Singa Merah NTT di Kampung Luwuk dan Lingko Lolok

Penulis: Robert Ropo | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/ROBERT ROPO
Kampung Lingko Lolok di Desa Satar Punda 

"Kadang yang mempersoalkan di Medsos itu orang yang tidak punya lahan disini, ini yang kami merasa sedih. Pada prinsipnya kami terima perusahan ini demi kesejahteraan kami. Buktinya perusahan belum eksen 100 persen kami sudah sejahtera,"ungkap Bernabas.

Bernabas juga menjelaskan masyarakat Luwuk yang mendukung sudah menerima kompensasi sebesar Rp 10 juta tahap pertama dari perusahan. Sedangkan kompensasi tahap kedua Rp 10 juta belum dan nanti untuk renovasi rumah sebanyak Rp 30 juta dengan alasan karena kampung Luwuk tidak direlokasi.

Sementara itu Tua Teno Torong Luwuk Romanus Rabon juga menegaskan, sangat mendukung kehadiran pihak pabrik semen. Hal itu dikarena ia juga mempunyai hak untuk menerima demi kesejahteran warga kampung Luwuk dan juga keluarga

"Kehadiran PT Semen ini saya dukung, mengapa saya dukung, karena warga Kampung Luwuk belum maju, semoga dengan semoga kesepakatan antara kami dengan pabrik diharapkan sesuai dengan semestinya,"tegas Romanus.

Lebih lanjut Romanus mengatakan ditempat yang akan dibangun pabrik ada hamparan sawah masyarakat termasuk dirinya, namun sawah itu tidak menjanjikan lantaran resapan air laut masuk ke sawah, sehingga mengakibat produksi padi kurang alias sedikit. Sedangkan untuk jarak dari ksmpung ke lokasi pabrik sekitar 2 Km.

Warga juga mengatakan, total Untuk Kampung Luwuk ada 65 KK dari jumlah itu, ada 58 orang mendukung kehadiran pabrik semen. Sedangkan 7 KK menolak kehadiran pabrik semen di kampung Luwuk.

Sementara itu warga Kampung Lingko Lolok yang menerima, Klemens Saldin ketika ditemui wartawan di lokasi kampung Lingko Lolok, Kamis (7/5/2020) menjelaskan, sebagian besar warga Lingko Lolok mendukung kehadiran pabrik semen.

"Kami disini terima karena jujur dari 89 KK di Lingko Lolok, 87 KK yang menerima, sedangkan 2 KK yang tidak menerima,"jelas Klemens diamini warga Lingko Lolok lainya, Ferdinandus Hasman, Gordi Ba'as, Benediktus Uni dan sejumlah warga lainya.

Klemens mengatakan, pihaknya menerima karena untuk mau membawa perubahan bagi warga Kampung Lingko Lolok. Karena sejauh ini banyak anak sekolah yang gagal melanjutkan pendidikan karena kondisi ekonomi yang kurang mampu.

"Sehingga kami sangat berharap mudah-mudahan dengan anak cucu kami dengan industri semen ini anak cucu kami bisa melanjutkan sekolah,"ungkap Klemens.

Dikatakan Klemens, jika hanya kehadiran tambang tanpa disertai pabrik, maka pihaknya bersatu untuk menolak, namun karena dengan pabrik maka pihaknya menerima dengan setia, sebab dengan kehadiran pabrik juga membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Lingko Lolok dan umumnya masyarakat Manggarai Timur,

Klemens juga mengaku, kondisi kampung Lingko Lolok sangat menderita selain kekurangan air bersih, hasil pertanian hanya mengandalkan jambu mete dan juga menambah ekonomi dengan menjual kayu api.

Klemens juga menegaskan, bahwa mereka menerima kehadiran pabrik bukan karena unsur paksaan atau tekanan dari pihak tertentu, namun murni untuk mau membawa perubahan bagi masyarakat setempat. Pihaknya bersyukur batu kapur ditanah mereka bisa menghasilkan uang.

Gordi Ba'as juga menambahkan untuk kesepakatan pihaknya dengan perusahan yaitu relokasi kampung dengan ukuran Rumah ukuran yang dibangun perusahan 60 M2, air bersih, Iistrik 1300 W, Uang kompensasi Rp 150 juta/KK, Uang perabot Rp 50 juta.

Selain itu harga tanah, Poin-poin kesepakatan mereka antara lain harga tanah nonsertifikat Rp 12 ribu/m2, harga lahan bersertifikat Rp 14 ribu/m2, serta tanaman seperti kayu jati, jambu mete saat ini di lokasi pabrik semen masih melakukan patok lahan, pembangunan gereja, Paud dan Mbaru Gedang.

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved