Sabtu, 16 Mei 2026

Cerpen

Cerpen Theos Seran: Malam Kenduri

Cerpen Theos Seran: Malam Kenduri. Sementara gurat malam semakin membuatku tetap bersikukuh ke makam menjaga pusara ayahku.

Tayang:
pos kupang
Malam Kenduri 

Mereka mengenakan topeng sarung bermotifkan kain adat kampungku dengan sambil menutupi hampir sebagian tubuh mereka sehingga aku tak cukup jelas mengenali mereka.

Aku berusaha menarik katepelku sekuat tenaga dan membidik tepat pada kepala orang yang berpostur tubuh tinggi tersebut. Sambil mengerang kesakitan aku berlari kencang dan menabrak sosok manusia yang bepostur tubuh lebih pendek tersebut.

Kuraih sebuah balok besar dan kupukukan sekuat tenaga ke mata kakinya dan keduanya tersungkur tanpa daya di samping pusara itu.

Secepat kilat aku berusaha melepaskan kain penutup kepala mereka dan mengarahkan lampu senter yang memang telah kusimpan sedari tadi menuju ke arah wajah kedua sosok manusia itu yang sedang mengerang kesakitan sambil berpelukan seolah ingin bersama dalam untung ataupun malang.

Aku terbelalak kaget ketika cahaya senterku menerpa kedua sosok manusia itu. Sosok manusia yang berpostur tubuh tinggi itu ialah Manek Ktolaran yang adalah rival ayahku sedangkan sosok manusia yang berpostur tubuh agak pendek itu ialah ibuku.

Perlakuan Reino Barack ke Syahrini di Belakang Kamera Diungkap Seorang Makeup Artist, Benaran Mesra?

"Ibuuuuuuuuuu...! Apa yang sedang ibu lakukan di sini?"
Sendi-sendiku terasa lemas ketika mengetahui orang yang kubenci selama ini ialah ibuku sendiri. Ibuku diam seribu bahasa sambil sesekali terisak. Kami saling menatap dengan beragam perasaan yang tak karuan. Aku kelu mengucapkan sepatah katapun selain air mata yang membanjiri pelupuk mataku.

"Ibu, engkau tega menipuku dan ayah," tukasku sambil menatap dalam-dalam wajah ibuku yang agak keriput dimangsa usia.

"Nai, maafkan semua kesalahan ibu, ibu sangat bersalah terhadapmu dan ayah. Perihal kematian ayah bukan diakibatkan guna-guna melainkan." Tukas ibu dengan suara terbata-bata hingga tak sempat menyelesaikan penjelasannya.

"Melainkan apa bu?" Tukasku dengan suara yang cukup keras karena kesal dan kecewa.

"Ibu telah meracuni ayahmu dengan racun mumpuni itu hingga meninggal demi cinta ibu pada Manek Ktolaran, dan maksud kedatangan kami ke pusara ini untuk mengambil sisa harta kita yang telah ibu sembunyikan beberapa waktu lalu di samping pusara ayah, maafkan ibu nak, maafkan ibu," kata ibu sambil menangis tersedu-sedu sambil memegang erat tanganku.

Sementara itu Manek Ktolaran terduduk membisu sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Paroki St. Josep Naikoten, Gunakan 4 Sarana Dalam Perayaan Pekan Suci

"Aku baru tahu alasan mengapa ibu tak begitu peduli pada ayah ketika ia masih hidup. Rupanya ibu memiliki pria simpanan di luar sana dan ibu berusaha menipu aku darah dagingmu sendiri dan orang-orang dengan meletakkan harta itu di samping pusara ini."

Aku amat kesal dengan ibuku. Aku berlari sekencang-kencangnya kembali ke rumah dan menangisi hidupku yang pekat, sepekat malam. Ibu tak hanya membunuh ayah tetapi juga membunuh hidupku.

Berhari-hari aku bertengger dalam derita batin yang belum berujung, sementara itu ibu dan Manek Ktolaran telah menyerahkan diri ke polisi. Aku kini hidup sebatang kara bak orang mati dalam kuburan.

Akhirnya Aku berusaha memaafkan ibu meski ingatan malam kenduri itu belum mampu aku lupakan, mungkin esok, lusa atau bahkan ketika malam keduriku sendiri.
(Penulis menetap di wisma St. Mikhael Ledalero, Maumere).

Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved