Cerpen
Cerpen Theos Seran: Malam Kenduri
Cerpen Theos Seran: Malam Kenduri. Sementara gurat malam semakin membuatku tetap bersikukuh ke makam menjaga pusara ayahku.
Selain persiapan fisik aku juga telah mempersiapkan batinku untuk bertemu dengan setan terkutuk yang telah membunuh ayahku. Aku akan memukulinya habis-habisan dan bila perlu aku akan membunuhnya sekalian.
Malam pekat itu pun akhirnya tiba juga. Orang-orang kampung mulai berdatangan menuju pusara ayahku dan kami melantunkan ritual yang paling khidmat untuk memohon keselamatan arwah Nain Sukabihun sang sesepuh yang adalah ayahku.
Aku berdiri paling depan tepat disamping ibuku yang selalu terisak ketika beberapa ayat mantra ritual itu dirapalkan. Malam ini juga ibuku menasihatiku untuk tidak berjaga di sekitar pusara ayahku demi kesehatanku.
Rupanya naluri keibuannya mampu menangkap maksud hati sang buah hatinya. Aku pun mengikuti nasihat ibuku dan kembali ke rumah untuk melancarkan resepsi kenduri malam itu. Pucuk-pucuk malam semakin menua ketika orang-orang kampungku satu persatu berpamitan pulang ke rumahnya masing-masing.
Sementara itu gurat-gurat malam semakin membuatku tetap bersikukuh kembali ke makam itu untuk menjaga pusara ayahku demi dendam kesumat yang belum terbalaskan pada si setan yang telah membunuh ayahku.
• Pasien Positif Covid-19 Terus Bertambah, Rocky Gerung Ragukan Jumlahnya, Pemerintah Palsukan Data?
Aku berjingkrak perlahan-lahan keluar rumah sebab aku menduga bahwa ibuku telah tertidur pulas. Malam ini adalah malam jumat yang berbeda dari malam-malam sebelumnya. Aku mengayun langkah dengan sedikit gontai sambil menahan takut. Pekatnya malam ditambah lagi dengan suara-suara malam yang mengalun sendu namun sungguh menakutkan.
Aku berlangkah di tepian pusara-pusara tua nan menyeramkan sambil perlahan merapalkan doa memohon lindungan Tuhan.
Tepat Pukul 00.00 kakiku mendarat di tepian pusara ayahku yang masih diliputi cahaya lilin yang hampir padam, bekas upacara ritual tadi.
Aku terduduk simpul beberapa meter tak jauh dari pusara itu sambil bersembunyi di berkas-berkas karangan bunga yang diletakkan di sana ketika ayahku dimakamkan.
Suasana malam itu sungguh hening, hanya samar-samar aku mendengar suara-suara malam yang tanpa henti melantunkan simfoni malam, barangkali sebagai ungkapan belasungkawa mereka atas kematian ayahku ataukah sedang menertawakan keberanianku ataukah malah mengolokku, entahlah.
Pikiranku melantur ke berbagai arah dengan bayangan-bayangan horor menakutkan seperti yang pernah kutonton di televisi.
• Perlakuan Reino Barack ke Syahrini di Belakang Kamera Diungkap Seorang Makeup Artist, Benaran Mesra?
Meski itu tekadku bulat untuk segera menangkap dan membinasakan setan yang telah menggerogoti nyawa ayahku dengan daya guna-gunanya. Tak lama berselang aku mendengar sayup-sayup lolongan anjing hutan diikuti dengan tiupan angin keras disertai titik-titik hujan.
Aku mengigil kedinginan dan sekaligus mengigil ketakutan. Berkas-berkas karangan bunga itu beterbagan kian kemari dan aku kini terduduk simpul di tengah pekatnya malam itu.
Tiba-tiba aku mendengar kresekan dedaunan kering dan ayunan langkah menuju ke arah pusara ayah.
Aku sigap dengan seluruh kekuatanku sebab kuyakin saatnya telah tiba untuk membinasakan setan sialan itu. Meski demikian aku berusaha untuk tetap menahan diri dalam persembuyianku, aku tetap diam seribu bahasa sambil memperhatikan keadaan sekitar.
Suara kresekan ayunan langkah tadi semakin jelas dan aku melihat dua orang sedang mengendap-endap menuju pusara itu. Postur tubuh yang satu lebih pendek daripada yang satunya.
• Pastor Paroki Lamahora Apresiasi Aksi Semprot Disinfektan Oleh Kahmi Lembata
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/malam-kenduri.jpg)