Cerpen

Cerpen Theos Seran: Eleonora

Eleonora, izinkanlah aku mengenangmu sebagai doa dalam setiap denyut nadiku dan mengenangmu sebagai cahaya yang paling abadi.

Cerpen Theos Seran: Eleonora
ilustrasi pos kupang
Eleonora

Sialan, rupanya si rinai hujan membuatnya berpasrah di hadapannya dengan semilir angin basah yang lembab lagi dingin. Rinai hujan dalam dadaku kembali meronta-ronta. Cerita tentang pelangi di bola matanya masih belum punah dari ingatanku. Mungkin benar kata orang ingatan adalah belati dan mungkin matanya adalah sebilah belati yang mengiris-iris hatiku lalu meninggalkannya dalam luka berdarah pelangi.

Antisipasi Virus Corona Pemda Ende Minta Penumpang Kapal Asal Darwin Dikarantina

Aneh bin ajaib tusukan belati dari matanya mampu mengubah takdir merah pada setiap tetes darah manusia menjadi berwarna-warni seperti pelangi sehabis hujan.

Aku ada di sampingnya sementara ia memang tak menyadari keberadaanku ataukah dengan sadar ia menepis dari perhatianku. Tubuhnya semakin gemetaran sementara itu sepasang bola matanya semakin gontai. Jantungku berseloroh kencang.

"Hai."
Aku mencoba menyapanya. Ia membalikkan badannya dan menatapku dengan tatapan teduh. Aku tahu apa yang ia rasakan dan ia pun tahu apa yang aku rasakan. Kami saling menatap.
"Kamu kedinginan kan? Pakai saja sweaterku."

Ia menatapku dalam-dalam dan aku menangkap tatapannya sebagai isyarat bahwa ia memang menghendakinya. Tanpa banyak celoteh kukenakan sweaterku di atas setelan baju berwarna pink bermerk supreme, merk kesukaannya.

"Terima kasih kak!"
"Sama-sama"

Begini Kata Pemain Bolla Volley Shella Bernadetha: Saya Akan Promosikan Tenun Ikat ke Luar NTT

Tukasku lirih sementara ia langsung menghilang ditelan gelap sebab rinai hujan memang telah reda. Ia tak banyak bicara. Itulah sekelumit temperamennya yang masih sempat kurekam darinya.

Bolehkah pada kesempatan ini aku bersorak setelah berhasil meraih sepasang bola matanya? Pantaskah aku berceloteh sinis pada rinai hujan yang telah kukalahkan? Kini yang tersisa hanyalah sepoi-sepoi basah yang masih sempat menyimpan rinai hujan yang mengaku kalah pada persaingan senja penat itu.
Sabtu, 3 September 2018, tepat satu minggu setelah persaingan sengit antaraku dan si rinai itu, ia kembali menemuiku pada tempat yang sama.

Ia rupanya sudah tahu bahwa pada tempat itulah segala kisah kasih terukir dan pada tempat inilah kupelihara laraku yang mulai menua namun belum juga ranum.

"Terima kasih banyak untuk sweaternya kak, ini kukembalikan sweater kakak! Oiya, ini kutemukan secarik surat tepat di saku depan sweater kakak," katanya sembari melontarkan sebait senyuman getas tanda tak tulus yang mampu mengoyakkan seluruh ruang hatiku.

Aku tak mampu mengucap sepatah kata pun. Bernafas pun aku tak dapat. Kukumpulkan seluruh tenagaku dan kubuka secarik surat itu

Deteksi Virus Corona, Bandara UMK Kerja Sama Dengan KKP Untuk Alat Pendekteksi Suhu Tubuh

"Suatu senja di rimba jati yang hening.teruntuk Eleonora yang hilang. Bagaimana kabar kedua bola mata pelangimu saat ini? Apakah masih sebening senja merona waktu kita bersama dulu? Aku tahu betapa perihnya hati ini saat menikmati perpisahan itu.

Aku tahu kau pasti akan sangat membenciku. Tapi asal kamu tahu saja, hatiku pun amat perih ketika ternyata kau bermain sandiwara cinta denganku. Kau lebih memilih dia tanpa pedulikan tulusnya hatiku mencintaimu dan melupakan seluruh episode cinta yang pernah kita goreskan.

Namun, kehilanganmu memberiku arti bahwa dalam hidup ini memang aku hendaknya tak terlalu lama menangisi sesuatu yang hilang sebab kadang hal yang kutangisi saat ini adalah hal yang akan aku syukuri dikemudian hari. Alesandro."

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved