Pencabulan Siswi SD di Ende

Pemuda GSM Tersangka yang Mencabuli Siswi SD Disangka Melanggar UU Perlindungan Anak

Oknum pemuda GSM tersangka yang mencabuli siswi SD disangka melanggar UU Perlindungan Anak

ISTIMEWA
Kasat Reskrim Polres Ende, AKP Lorensius, S.H, SIK 

Oknum pemuda GSM tersangka yang mencabuli siswi SD disangka melanggar UU Perlindungan Anak

POS-KUPANG.COM | ENDE - Tersangka aksi pencabulan terhadap anak, GSM (14) disangka melanggar UU Perlindungan Anak.

Kasat Reskrim Polres Ende, AKP Lorensius yang dikonfirmasi melalui Kanit PPA Sat Reskrim Polres Ende, Aiptu Pua dan atas ijin Kanit PPA,Bripda Intan Fardila K Dean selaku Banit Sat Reskrim Unit PPA mengatakan hal itu kepada POS-KUPANG.COM, Kamis (13/2) di Ende.

Drama Penangkapan Pengebom Ikan, Nelayan Cabut Parang, TNI AL Larantuka Lepaskan Tembakan

Tersangka GSM disangka melanggar pasal 82 ayat 1 Undang-Undang RI No 17 tahun 2015 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti Undang-Undang Nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas undang-undang No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menjadi Undang-Undang Jo pasal 76 e Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2014 atas perubahan UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Saat ini tersangka tidak ditahan karena masuk dalam kategori anak dibawah umur namun demikian dikenakan wajib lapor setiap hari.

Diduga Trauma Korban Pencabulan Pemuda GSM di Ende Menjadi Pendiam

Menyikapi aksi pencabulan oleh anak-anak dan korban juga anak-anak, pihak kepolisian mengharapkan orangtua untuk memperhatikan penggunaan HP di kalangan anak remaja.

"Pelaku nekat melakukan aksi pencabulan karena terdorong oleh video porno yang ada di HP. Dia nonton bersama teman-temannya," kata Kanit PPA Polres Ende, Aiptu Pua.

Sementara JA (9) yang menjadi korban pencabulan oleh GSM (14) berubah menjadi pendiam pasca dicabulin oleh tersangka. Yang bersangkutan bahkan takut apabila melihat laki-laki yang umurnya sebaya dengan GSM.

Kasat Reskrim Polres Ende, AKP Lorensius yang dikonfirmasi melalui Kanit PPA Sat Reskrim Polres Ended, Aiptu Pua dan atas ijin Kanit PPA, Bripda Intan Fardila K Dean selaku Banit Sat Reskrim Unit PPA mengatakan, korban pencabulan bahkan sulit dimintai keterangan oleh polisi.

Dan untuk meminta keterangan dari korban penyidik dari polisi mendatangi rumah korban dan itupun saat memberikan keterangan korban didampingi ibunya.

"Jadi keterangan yang diambil dari korban berdasarkan pengakuan korban kepada ibunya. Polisi mendapatkan keterangan dari ibu korban bukan dari mulut korban sendiri karena korban terlihat trauma," kata Bripda Intan.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun menyebutkan bahwa korban tidak berani melapor kepada orang tuanya karena mendapatkan ancaman akan dipukul pada saat dicabuli.

"Korban sampai 5 kali menjadi korban pencabulan karena korban tidak berani laporan menyusul adanya ancaman dari pelaku yang akan memukul korban," kata Bripda Intan. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Romualdus Pius)

Penulis: Romualdus Pius
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved