Opini Pos Kupang

Rentannya Produksi Pangan NTT Musim Ini

Mari membaca Opini Pos Kupang berjudul: rentannya produksi pangan NTT musim ini

Rentannya Produksi Pangan NTT Musim Ini
Dok
Logo Pos Kupang

Mari membaca Opini Pos Kupang berjudul: rentannya produksi pangan NTT musim ini

Oleh : Tony Basuki dan Bernard deRosari, Peneliti BPTP Balitbangtan NTT

POS-KUPANG.COM - Mencermati waktu tanam komoditas pangan terutama jagung saat ini, disebagian besar wilayah NTT mengalami pergeseran waktu tanam yang mundur hampir sebulan dibanding waktu tanam di musim-musim tanam sebelumnya.

Waktu tanam musim tanam ini (MT I 2019/2020) di lahan kering yang mengandalkan curah hujan, jatuh pada awal sampai tengah Januari 2020. Pergereseran Waktu Tanam ini, sebagai konsekuensi dari gangguan curah hujan di musim ini. Biasanya, dalam kondisi normal, waktu tanam pada lahan kering umumnya jatuh antara akhir November sampai tengah Desember.

Penjelasan John Bahy dari Komisi Kitab Suci KAK Soal Pentingnya Orang Katolik Mencintai Kitab Suci

Fakta pergeseran waktu tanam seperti ini, boleh dikatakan sebagai hal ekstrim yang berdampak terhadap situasi rawan pangan, karena akan menganggu penurunan produksi pangan khususnya jagung, bahkan bisa menjurus pada kondisi Puso terutama bagi tanaman jagung.

Dari data dan informasi yang teramati pada 70 desa yang tersebar ditujuh kabupaten di daratan Timor dan Sumba, bahwa baru 26 desa atau 37 persen yang tertanam pada posisi 29 Desember 2019. Bahkan, ada empat kabupaten yaitu Malaka, Belu, TTU dan TTS yang belum tertanam saat itu.

Namun, pada awal Januari 2020 hujan cenderung mulai merata, sehingga petani bersegera menyelesaikan penanaman, dalam hal ini mereka memprioritaskan penananaman jagung. Posisi pada tanggal 17 Januari 2020, terkumpul data dan informasi pada wilayah yang sama, bahwa hampir semua desa dari 70 desa telah tertanam pada posisi informasi berbasis desa. Sedangkan data hari ini (22/1/2020) pada wilayah tersebut, terpantau sangat bervariatif tingkat penyelesaian tanam berbasis lahan, dengan variasi antara 50 sampai 95 persen.

Penjelasan RD Sipri Senda Ketua Komisi Kitab Suci KAK Saat Merayakan Minggu Sabda Allah di Naikoten

Dari 350 petani yang ada di 12 desa di Sumba Timur sudah tertanam 95 persen atau angka presentasi tertinggi diantara enam kabupaten lainnya. Sedangkan terendah ada di Malaka yang hanya mencapai 49 persen dari 350 petani di Kabupaten Selatan Timor ini. Sebagai gambaran di SBD tertanam 87 persen; di TTS 91 persen; Kupang 93 persen dengan masing-masing kabupaten ini diambil sampel 325 sampai 350 petani.

Kasus Malaka, menarik karena persentasi angka tanam paling rendah, sementara diketahui bahwa, wilayah ini dikenal memiliki sifat hujan yang relatif baik di banding kabupaten lain. Bahkan di Malaka, dikenal bisa menanam jagung mencapai tiga kali setahun, sesuatu pola usahatani yang tidak ada di tempat lain.

Dibalik gangguan curah hujan seperti sekarang, tidak saja ancaman karena terjadi pergeseran tanam yang disebut sebagai primary effect tetapi telah terjadi fenomena secondary effect. Secondary effect yang dimaksud adalah ancaman hama dan penyakit akibat dari dinamika iklim/cuaca seperti ini. Kasus ini merupakan hal biasa yang sudah diketahui oleh petani atau petugas/lembaga teknis. Namun yang unik diketahui musim kali ini telah ada laporan dari Sumba Timur dan Sumba Barat Daya, munculnya serangan ulat grayak jenis baru yang berasal dari benua Afrika, makanya ulat ini juga disebut sebagai ulat Amerika Serikat dan Argentina. Nama International dari ulat ini adala Fall Army Worm/AFM (Spodopthera frugiperda J.E. Smith).

Halaman
123
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved