Opini Pos Kupang
Rentannya Produksi Pangan NTT Musim Ini
Mari membaca Opini Pos Kupang berjudul: rentannya produksi pangan NTT musim ini
Dua kemungkinan ini didasarkan atas pengalaman bahwa, jika sebagian besar mengalami gangguan curah hujan seperti saat ini, yang berkonsekuensi terhadap pergeseran waktu tanam, namun jarang terjadi pergeseran akhir musim kemarau, maka musim tanam tahun ini diduga memiliki durasi bulan basah yang relatif pendek.
Hal ini berarti bahwa, jika terjadi akhir musim hujan seperti musim sebelumnya, yang biasanya jatuh pada akhir Maret atau awal April, dengan waktu tanam awal Januari sampai tengah Januari, pertanaman jagung yang mulai masuk fase pembungaan berpeluang mengalami cekaman kekeringan. Pada kluster ini, kemungkinan yang terjadi adalah penurunan produksi seperti tersebut di atas.
Selanjutnya jika waktu tanam jatuh pada akhir Januari maka kemungkinan yang terjadi adalah gagal panen, karena sebelum pembungaan sudah terjadi kekeringan. Dua kemungkinan ini bisa terjadi sekalipun curah hujan Bulan Februari bersifat normal.
Apa yang dapat diperbuat dengan kondisi ini? Tidak lain adalah, Pemerintah Provinsi NTT dan kabupaten/kota, harus memulai saat ini dengan menganalisis Ketahanan Pangan, sebagai bentuk antisipasi menghadapi signal ini. Pemerintah diyakini sudah memiliki mekanisme dan amunisi berkaitan dengan gangguan Ketahanan Pangan. Namun lebih bijak, jika analisis dilakukan jauh hari agar sarana/prasarana serta kebijakan yang akan disiapkan lebih berkualitas.
Setelah melakukan analisis biasanya disertai dengan kebijakan, baik bersifat antisipatif maupun crash program, tergantung tingkat kerawanan yang akan terjadi. Kebijakan pada sektor pertanian, biasanya akan diikuti dengan intervensi pemberian benih tanaman berumur pendek seperti kacang hijau, sekalipun tidak mudah untuk rekomendasi ini, dapat juga melakukan optimalisasi penggunaan mesin pompa pada lahan yang memiliki sumber air tanah.
Himbauan menggunakan benih kacang hijau milik petani dapat dilakukan, mengingat mekanisme pengadaan benih melalui dana pemerintah memerlukan waktu dan tata cara yang cukup lama.
Apabila sektor pertanian tidak sepenuhnya dapat diharapkan untuk menekan resiko akibat pergeseran waktu tanam, maka sektor non pertanian perlu digalakkan. Kebijakan di sektor non pertanian yang dapat dilakukan misalnya segera menerapkan kegiatan padat karya perdesaan, dan memperluas bantuan sosial dan jaring pengaman sosial. Mari kita bersiap menghadapi situasi potensial terganggunya ketahanan pangan masyarakat. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ketimpangan-pendapatan-patologi-inheren-perekonomian.jpg)