Warga Suku Ngada di Kota Kupang Gelar Syukuran Pesta Adat Reba

Warga Suku Ngada asal Pulau Flores di Kota Kupang Gelar Syukuran Pesta Adat Reba

Penulis: Laus Markus Goti | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/LAUS MARKUS GOTI.
Pembagian Maki (Nasi) dalam rangkaian syukuran pesta adat Reba di Hotel Debytos, Kota Kupang, Sabtu (4/1/2020). 

Warga Suku Ngada asal Pulau Flores di Kota Kupang Gelar Syukuran Pesta Adat Reba

POS-KUPANG.COM | KUPANG - "Merupakan kesempatan yang berahmat bagi kita semua, untuk membangun tradisi pesta Reba yang sarat makna dan penuh nila. Warga Suku Ngada bukan manusia-manusia yang hanya tahu sejarah dan pesta adat Reba tapi di saat yang sama kita adalah pelaku sejarah dalam menghidupkan spirit pesta Reba," (Pater Domi Dheo SVD).

Warga Suku Ngada yang berdiam di Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar syukuran pesta adat Reba. Syukuran Pesta Adat Reba tersebut berlangsung di Hotel Debytos, diawali dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Pater Domi Dheo SVD dan didampingi Pater Berto OCD, Sabtu (4/1/2020) malam.

Pria yang Mencabuli Gadis 18 Tahun di Manggarai Timur Ternyata Dukun Kampung, Begini Modusnya

Perayaan Ekaristi mengawali syukuran Reba, kental dengan nuansa budaya suku Ngada, di mana lagu-lagu dalam perayaan Ekaristi dinyanyikan dalam bahasa mereka. Lagu-lagu bermakna gembira mereka bawakan sambil menari dengan menghentakan kaki, mirip menari Ja'i, tarian adat Suku Ngada.

Sejatinya rangkaian ritual adat Reba dilakukan di kampung-kampung Suku Ngada, Kabupaten Ngada yang biasa diadakan pada akhir tahun (Desember) atau awal tahun (Januari hingga. Maret) secara bergilir di setiap kampung.

Untuk Warga Suku Ngada yang berada-berdiam di luar Kabupaten Ngada atau di tanah rantau, bisa berinisiatif melaksanakan syukuran pesta adat Reba, namun bukan pesta adat Reba itu sendiri.

Di Manggarai Timur, Gadis 18 Tahun Dicabuli Sampai Hamil Lalu Diancam Dibunuh

Syukuran Pesta Adat Reba yang dilakukan di Hotel Debytos ini diinsiasi oleh Ikatan Keluarga Watu Manu Indonesia (Ikawati) Kupang dan diikuti oleh warga yang berasal dua Desa Watu Manu dan Tiwu Riwu, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada.

Semua warga Suku Ngada yang hadir mulai dari anak-anak hingga orang tua mengenakan pakian adat Suku Ngada. Rangkaian syukuran Reba ini, puncaknya, makan nasi dan daging, minum tuak serta Ja'i bersama.

Sebagaimana dalam pesta adat Reba, sebelum makan, kaum wanita yang bertugas, membagikan wati kepada warga yang hadir. Wati merupakan wadah untuk makan yang diayam dari daun lontar atau sejenisnya.

Selanjutnya kaum pria membagikan nasi dan daging ke setiap Wati yang sudah dipegang oleh setiap warga yang hadir. Sementara Tuak diedarkan dan diminum melalui wadah tempurung kelapa. Setelah makan bersama dilanjutkan dengan Ja'i bersama.

Reba merupakan ritual adat warga Suku Ngada untuk mensyukuri pemeliharaan Tuhan, membaharui hubungan mereka dengan Tuhan, alam dan leluhur, syukur atas pergantian tahun dan lewat Reba warga Suku Ngada ingin mewarisi nilai-nilai luhur dan pandangan hidup mereka kepada generasi penerus.

Kebiasaan mensyukuri Reba, rutin dilakukan setiap tahun oleh warga suku Ngada yang berdiam di Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Timur tersebut.

Tujuannya, agar mereka dalam kehidupan sehari-hari tetap mengamalkan nilai-nilai luhur dan rancang bangun Suku Ngada dan meneruskannya kepada anak-anak dan kaum muda Suku Ngada yang berada di tanah rantau.

Pater Domi Dheo SVD yang juga merupakan warga Suku Ngada dalam khotbahnya mengatakan, Reba syarat makna. Dia jelaskan dalam konteks relasi manusia dengan Tuhan, tradisi Reba semakin memprerat hubungan manusia dengan Tuhan.

Menurutnya, leluhur Suku Ngada telah mengajarkan bahwa manusia tidak boleh melupakan pencipta-Nya, karena Tuhan telah memelihara dan menyertai perjalanan manusia.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved