Opini Pos Kupang

Surat Buat Gus Dur (10 tahun in memoriam)

Mari membaca dan simak Opini Pos Kupang berjudul Surat Buat Gus Dur (10 tahun in memoriam)

Surat Buat Gus Dur (10 tahun in memoriam)
Dok
Logo Pos Kupang

Mari membaca dan simak Opini Pos Kupang berjudul Surat Buat Gus Dur (10 tahun in memoriam)

Oleh: Theodorus Widodo, Wakil ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK)-NTT

POS-KUPANG.COM - Selamat pagi Gus. Tak terasa, sepuluh tahun sudah panjenengan meninggalkan kami. Pergi untuk selamanya menghadap sang Khalik, pemilik kehidupan ini. Sepuluh tahun tentu bukan waktu yang singkat.

Aku masih ingat sore itu. Tepatnya tanggal 30 Desember 2009 atau sehari jelang tutup tahun. Jarum jam di tangan menunjukkan angka 06.45. Hujan baru saja turun. Aroma tanah basah dan bunga flamboyan kota Kupang di bulan Desember mengingatkan bahwa Natal sudah dekat. Dan aku sedang bersiap-siap berangkat menuju luar kota untuk suatu urusan. Aku lupa itu urusan apa.

Korban Penganiayaan Sempat Dirawat di Puskesmas Weoe

Tiba tiba saja tayangan televisi disela breaking news. Gus Dur, budayawan, humanis, mantan presiden, tokoh dunia, bapak pluraris dan multikulturalis sejati dipanggil pulang untuk selamanya. Gusti Allah, sang pemilik kehidupan ini memanggil pulang panjenengan. Sosok perkasa. Tokoh besar. Pelindung siapa saja yang tertindas.
Kami kaget Gus.

Kami tahu, waktumu mestinya memang tidak lama lagi. Panjenengan sakit-sakitan. Tapi kami masih mengharapkan pengertian baik dari Gusti Allah. Membiarkan panjenengan tetap bersama kami. Paling tidak untuk beberapa waktu lagi. Melewati hari-hari yang berat itu Gus. Sungguh. Kami masih sangat membutuhkanmu. Kami berharap semoga Gusti Allah masih lama memilih-milih waktu yang tepat untuk memanggilmu pulang. Dan harapan kami, waktumu itu belum tiba.

Tapi astaghfirullah. Rupanya waktu bagi kami tidak sama dengan waktu bagi Gusti Allah. Sang pemilik kehidupan ini punya pertimbangan lain. Apa mau dikata. Panjenengan harus pulang.

Sejumlah Perwira dan Bintara Polres Ngada Naik Pangkat, Upacara Dipimpin Kapolres Ngada

Langit terasa runtuh. Dada ini sesak. Lorong-lorong RS Cipto Mangunkusumo jadi saksi betapa semua orang berduka. Indonesia berduka. Dunia berduka. Semua pencinta damai berduka. Mereka yang mendorongmu dalam keranda itu bagi kami terlihat seperti malaekat pencabut nyawa yang kejam. Sungguh Gus. Walau kami tahu, wajah mereka juga tidak bisa menyembunyikan duka.

Hari ini, dihaulmu yang kesepuluh, disaat banyak orang mulai lupa, aku coba membolak-balik lagi buku kehidupanmu. Bagiku buku itu selalu bertuliskan tinta emas. Bukan untuk apa-apa. Hanya untuk mengingat-ingat kembali semua cerita tentang panjenengan. Terutama nasehat-nasehatmu.

Sampai sekarang bagi kami panjenengan masih tetap satu-satunya guru besar bangsa yang belum ada duanya.

Halaman
123
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved