Mengapa Kasus HIV dan AIDS Terus Meningkat? Ini Penjelasan KPA Kota Kupang
Mengapa Kasus HIV dan AIDS terus meningkat? ini penjelasan KPA Kota Kupang
Mengapa Kasus HIV dan AIDS terus meningkat? ini penjelasan KPA Kota Kupang
Oleh : Drs. Marselinus Bay, Msi, Kepala Sekretariat KPA Kota Kupang
POS-KUPANG.COM - EPIDEMI HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immuno Deficincy Syndrome) merupakan yang terburuk di abad ini. Temuan kasus baru terus bertambah dari waktu ke waktu. Hingga saat ini di Indonesia, jumlah penderita HIV dan AIDS yang terbanyak ada di DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Papua dan Jawa Tengah.
NTT walaupun bukan merupakan provinsi dengan angka temuan kasus HIV dan AIDS dalam kategori yang terbanyak, namun kasus inipun telah menyebar di berbagai pelosok daerah ini. Selain itu, kasus HIV dan AIDS sekarang ini bukan hanya monopoli dari warga yang sehari-hari hidup diperkotaan saja, tetapi sudah merambah ke daerah-daerah pedesaan.
• Advokasi Kontinyu Bahaya HIV/AIDS
Sebaran dari HIV dan AIDS hingga ke pelosok negeri ini juga memiliki tantangan tersendiri bagi kita semua. Untuk itu, kampanye yang gencar untuk menumbuhkan kesadaran warga memeriksakan dirinya ke fasilitas kesehatan menjadi sebuah tuntutan. Sebab semakin cepat terdeteksi dan teridentifikasi maka proses pendampingan dan pengobatan pun akan cepat dilaksanakan.
Di Kota Kupang, prevalensi HIV dan AIDS yang tercatat di layanan kesehatan sejak tahun 2000 hingga bulan Agustus 2019 sebanyak 1520 kasus, yaitu 1059 kasus HIV dan 461 kasus AIDS. Tahun ini, Januari hingga Agustus ditemukan 114 kasus, HIV 74 kasus dan AIDS 40 kasus dan sepanjang perjalanan kasus tersebut yang terbanyak pada tahun2017, yaitu 253 kasus dengan kategori 186 kasus HIV dan 85 kasus AIDS.
Dari 1520 kasus itu, laki-laki yang terinfeksi HIV dan AIDS sebanyak 911 orang dan perempuan 609 orang. Kelompok usia muda dan produktif 25 -49 tahun dengan 1166 kasus atau terbanyak yang diikuti usia 20 -24 dengan 204 kasus. Selain itu dari aspek profesi tercatat morbiditas kasus ini juga ada di berbagai kalangan, seperti swasta, ibu rumah tangga, wanita pekerja seks, aparatur negara, petani, mahasiswa, tukang ojek, sopir, buruh, pelaut dan eks TKI. Cara penularannya melalui heteroseksual 94 persen, LSL 4 persen dan perinatal 2 persen.
• Pilkades di Desa Manulondo Ende Petahana Kembali Terpilih
Dapat dijelaskan bahwa data temuan kasus HIV dan AIDS itu bukan hanya dari penduduk yang berKTP Kota Kupang, akan tetapi sebahagian lainnya penduduk yang berasal dari luar Kota Kupang yang kasusnya ditemukan melalui pemeriksaan di layananVCT di RS. Prof. Dr. W.Z. Johannes, RS. TNI AD Wirasakti, RS. Bhayangkara dan beberapa Puskesmas, seperti Puskesmas Pasir Panjang, Puskesmas Oesapa dan Puskesmas Bakunase.
Sebagai contoh, melalui mobile VCT terhadap lebih kurang 3000 orang yang dilaksanakan oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Kupang dan Warga Peduli AIDS (WPA) di 51 Kelurahan bekerjasama dengan layanan kesehatan selama kurun waktu Juni-Oktober 2019, ditemukan 5 kasus HIV, 3 kasus adalah warga Kota Kupang dan 2 kasus dari warga pendatang. Temuan kasus ini ditindaklanjuti dengan pendampingan dan pengobatan.
Tugas utama Komisi Penanggulangan AIDS dan jajarannya adalah mencegah adanya infeksi baru, mengajak masyarakat terutama kelompok berisiko untuk melakukan pemeriksaan darah di layanan kesehatan dan jika ditemukan kasus HIV dan AIDS akan ditindaklanjuti dengan pendampingan dan pengobatan serta mencegah adanya sitgma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV dan AIDS.
Sejauh ini Pemerintah Kota Kupang yang didukung penuh oleh DPRD Kota Kupang memberikan perhatian dan sangat komit untuk memerangi masalah HIV dan AIDS di Kota Kupang ini. Hal ini ditandai dengan besarnya alokasi dana hibah tiap tahun untuk membiayai program/kegiatan pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Kupang, pembentukan KPA Kota Kupang dan WPA di 51 Kelurahan yang aktif bekerja untuk melakukan berbagai upaya dalam rangka mencegah dan menanggulangi masalah HIV dan AIDS di Kota Kupang, bekerjasama dengan instansi terkait, LSM Penjangkau dan LSM Pendamping serta beberapa komunitas.
Namun mengapa temuan kasus HIV dan AIDS terus bertambah tiap tahun? Alasan yang paling mendasar adalah penularan virus HIV terkait erat dengan pola perilaku yang berisiko terutama seks, berganti-ganti pasangan dan tidak menggunakan kondom. Perlu dipahami bahwa virus HIV hanya dapat ditularkan dari orang dengan HIV atau melalui media, alat yang terpapar terhadap orang yang tidak HIV dan jangka waktu terdeteksinya virus ini, 5-10 tahun, tergantung daya tahan tubuh seseorang.
Terpaparnya virus ini dalam tubuh seseorang akan berdampak luas yang merugikan bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat.
Sesungguhnya perubahan perilaku untuk tidak melakukan hal-hal yang berisiko itu menjadi kunci utama dalam mengatasi atau mencegah terpaparnya HIV dan AIDS.
Merubah perilaku manusia membutuhkan proses yang panjang. Pepatah Latin mengatakan gutta cavat lapidem non vi sed saepe cadendo artinya titik-titik air melubangi batu bukan dengan kekuatan tetapi karena secara terus menerus atau acap kali.