VIDEO: Luar Biasa. Ubinan Bawang Merah Mengeruda Ngada, Tembus 12,8 Ton/Hektare. Ini Videonya
VIDEO: Luar Biasa. Ubinan Bawang Merah Mengeruda Ngada, Tembus 12,8 Ton/Hektar. Ubinan itu dihitung saat panen perdana bawang merah Kamis (14/11/2019)
Penulis: Gordi Donofan | Editor: Frans Krowin
Di Indonesia Pompa Barsha pertama kali dipasang di beberapa wilayah termasuk di Pulau Sumba.
Sedangkan untuk daratan Flores, sudah pasang di Manggarai dan DAS Wae Wutu, Desa Mengeruda.
Desiminasi Teknologi Pompa Barsha dengan Pola Easi Pay Mendukung Eco-Friendly Agruculture di Kabupaten Ngada merupakan kerja sama Pemda Ngada dengan CV. Suluh Lingkungan Consultan-Aqysta dan KSM Brfarm Mengeruda.
Mr. Pratap Thapa, penemu Pompa Barsha, menjelaskan pompa tersebut berguna untuk mengairi lahan untuk tanaman jangka pendek.
Seperti, tanaman bawang, sayur-sayuran, tomat, melon, semangka dan jenis-jenis tanaman hortikultura.
Teknologi itu sangat membantu petani untuk bisa mengakses air dataran rendah ke dataran tinggi.
Pompa tersebut tanpa menggunakan bahan bakar fosil sehingga petani tidak dibebankan untuk membiayai bahan bakar dan dijamin sangat ramah lingkungan agar bumi tetap hijau.
"Lahan ini yang tadinya gersang beberapa bulan kedepan akan terlihat hijau disini karena air mengalir 24 jam disungai dan ini adalah kekuatan," ungkap Mr. Pratap.
Ia juga menjelaskan teknologi Pompa Barsha sangat memudahkan pekerjaan bagi petani untuk menyiram tanaman tanpa harus mengangkut air secara manual kedalam sungai.
Hanya ketika turbin berputar, aliran air dengan sendirinya akan terangkat dengan dari sungai ke lahan garapan petani.
Sementara itu Ketua Yayasan Komunitas Radio Max Waingapu, Heinrich Dengi, menjelaskan Pompa Barsha ini sudah dipasang untuk petani Pulau Sumba.
Heinrich menjelaskan teknologi ini sudah diperkenalkan dan dipakai di Pulau Sumba sejak 2015 dan sudah digunakan di sepuluh titik.
"Kami sudah beberapa kali panen di Waingapu dan di Sumba Barat dan disatu titik petani mendapatkan hasil hingga 48 juta hasil tanam sayur dan bawang," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa di Sumba Timur itu sangat kering karena musim hujan hanya tiga sampai empat bulan setahun. Sebelum ada Pompa Barsha ini, banyak petani hanya bercocok tanam ditiga atau empat bulan tersebut.
Beberapa bulan berikutnya sampai masuk musim kemerau, petani tak bisa menanam dan lahan dibiarkan terbengkalai.