Warga Mauponggo di Nagekeo Keluhkan Anjloknya Harga Cengkeh
Warga Kecamatan Mauponggo di Kabupaten Nagekeo keluhkan anjloknya harga cengkeh
Penulis: Gordi Donofan | Editor: Kanis Jehola
Warga Kecamatan Mauponggo di Kabupaten Nagekeo keluhkan anjloknya harga cengkeh
POS-KUPANG.COM | MBAY - Sejumlah petani Cengkeh di Kampung Woloyabu Desa Selalejo, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, mengeluh karena harga Cengkeh anjlok.
Petani sangat tidak merasa bahagia ketika memanen Cengkeh tahun ini. Pasalnya harga Cengkeh saat ini hanya 52.000 per kilo gram.
Vitalis (45) Petani Cengkeh asal Kampung Woloyabu, Kecamatan Mauponggo, mengaku harga komoditas Cengkeh saat ini tengah anjlok yaitu di Rp 52.000/kg untuk Cengkeh kering.
• Penggunaan Dana Kelurahan di Oesao Diarahkan ke Pemberdayaan Ekonomi dan Pembuatan Jalan
Vitalis mengaku kondisi itu jelas merugikan sebagian besar kalangan petani Cengkeh.
Vitalis mengatakan harga Cengkeh kering pada panen raya dua tahun sebelumnya 2017 dan 2018 mencapai Rp 90 ribu/kg hingga Rp 120/kg.
"Kita simpan saja tidak mau jual. Kalau hitung biaya semua, kita rugi dengan harga ini. Harga dua tahun sebelumnya lebih bagus daripada harga sekarang," ungkap Vitalis (45), ketika dihubungi POS-KUPANG.COM, Selasa (5/11/2019).
• Partai Gerindra Belu Masih Komunikasi Lintas Parpol Untuk Berkoalisi
Menurut Vitalis, dirinya tidak mengetahui apa yang menjadi penyebab merosotnya harga Cengkeh tahun ini.
Kondisi tersebut jelas membebani petani cengkeh. Sebab, harga saat ini tak sesuai dengan harapan petani.
"Harga cengkeh tidak sesuai harapan. Saya tidak tahu apa penyebabnya. Selama ini, kita menjualnya ke tengkulak. Jadi harganya disesuaikan dengan penawaran dari tengkulak dan ditentukan semau mereka," ungkap Vitalis.
Vitalis mengatakan, mayoritas warga di wilayahnya memiliki kebun Cengkeh dan setiap pohon yang usia remaja atau umurnya antara 15-20 tahun, baru bisa menghasilkan bunga cengkeh. Dalam setiap pohon, hasilnya variatif. Yakni antara 20 sampai 30 kilogram per pohonnya.
Ia mengaku, jika pohonnya yang berusia dewasa, hasilnya bisa menembus 1 (satu) kuintal dalam sekali panen. Untuk menghasilkan cengkeh kualitas bagus, para petani harus menjemurnya terlebih dahulu di bawah sinar matahari yang sempurna.
"Kalau di sini biasanya petani menjemurnya antara empat sampai lima hari. Sedangkan di wilayah yang suhunya lebih dingin, bisa dijemur sampai sepekan,"jelas Vitalis.
Warga lainnya, Santus (40) mengatakan, anjloknya harga cengkeh membuat petani di wilayahnya merugi.
Sebab biaya yang dikeluarkan untuk upah tenaga kerja, serta biaya makan dan minum selama proses panen berlangsung, tidak sebanding dengan pemasukan dari menjual cengkeh.
"Kita hitung saja, satu orang karyawan (pemetik cengkeh) diupah Rp 70 ribu per hari. Sementara dalam satu hari satu orang karyawan hanya mampu memetik 3 sampai 4 kilogram cengkeh kering. Kalau harga cengkeh Rp 52 ribu dikalikan 4 kg dapatnya Rp108 ribu. Itu belum bayar karyawan, belum biaya makan dan minum, rokok dan lain-lain. Bisa bisa kita yang punya lahan tidak dapat apa-apa,"
ujar Santus.
Ia berharap, Pemerintah Daerah Nagekeo melalui dinas terkait agar segera menyikapi persoalan merosotnya harga cengkeh yang tengah dirasakan masyarakat Selalejo khususnya di Kampung Woloyabu.
"Ya kalau bisa Pemda segera menyikapi ini, sehingga harga cengkeh bisa kembali normal. Ini harga rokok semakin mahal, harga cengkeh malah semakin merosot,"ungkapnya.
Ia mengatakan Desa Selalejo khususnya Kampung Woloyabu merupakan salah satu daerah penghasil cengkeh terbesar di Kecamatan Mauponggo.
"Cengkeh adalah komoditas primadona yang mendongkrak ekonomi masyarakat setempat," jelasnya.
Ia hanya berharap harga kembali normal sehingga warga atau petani Cengkeh. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gordi Donofan)