Data Guru Tidak Tetap di Ende Diduga Dimanipulasi, Ini Penjelasan Anggota DPRD Vincen Sangu

Data Guru Tidak Tetap di Ende diduga dimanipulasi, ini penjelasan Anggota DPRD Vincen Sangu

Data Guru Tidak Tetap di Ende Diduga Dimanipulasi, Ini Penjelasan Anggota DPRD Vincen Sangu
POS-KUPANG.COM/ROMUALDUS PIUS
DPRD Kabupaten Ende Menggelar Rapat Lintas Komisi, Kamis (31/10/2019) 

Data Guru Tidak Tetap di Ende diduga dimanipulasi, ini penjelasan Anggota DPRD Vincen Sangu

POS-KUPANG.COM |ENDE - Data Guru Tidak Tetap (GTT) di Kabupaten Ende diduga dimanipulasi sehingga terjadi pembengkakan jumlah guru GTT dari tahun ke tahun.

Anggota DPRD Kabupaten Ende, Vincen Sangu mengatakan hal itu dalam pertemuan lintas komisi DPRD Kabupaten Ende, Kamis (31/10/2019) di ruang sidang Komisi DPRD Kabupaten Ende.

Pamsimas Masuk Manggarai Timur, 68 Desa Nikmati Air Minum, Ini Komentar Camat Rana Mese

Vincen mengatakan bahwa data awal guru GTT hanya sebanyak 500 orang lalu di tahun 2018 berkembang menjadi 1.200 orang dan di tahun 2019 jumlahnya semakin meningkat menjadi 1.983 orang.

Bertambahnya jumlah guru GTT tersebut ujar Vincen mempengaruhi proses pembayaran gaji atau honor bagi guru GTT.

"Guru GTT pada awalnya direncanakan dibayar sebesar Rp 1.500 Juta untuk daerah terpencil dan Rp 1.200 untuk daerah luar kota bukan daerah terpencil serta Rp 750 ribu untuk dalam kota namun karena bertambahnya guru GTT nilai pembayarannya menjadi jauh berkurang menjadi hanya Rp 650 ribu,"kata Vincen.

Pelaksanaan Pilkades di Desa Benteng Raja Manggarai Timur Ditunda, Ini Alasannya

Vincen mengatakan hal ini terungkap pada rapat Komisi III DPRD Kabupaten Ende dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende pekan lalu.

Vincen mengatakan bahwa hasil rapat komisi III dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dibawa ke rapat lintas komisi untuk dibahas bersama dengan anggota DPRD dari komisi yang lainnya bersama pimpinan DPRD Kabupaten Ende.

Vincen mengatakan bahwa masalah guru GTT menjadi persoalan yang pelik pasalnya sebelumnya tercatat ada 1.500 orang guru honor atau guru tidak tetap (GTT) di Kabupaten Ende belum menerima gaji mereka selama tahun 2019 yang bersumber dari dana bos daerah atau yang lasim dikenal dengan Bosda.

Vinsen Sangu mengatakan bahwa pihaknya menyayangkan kelambanan dari pihak dinas yang terlambat membayar gaji bagi para guru honor.

Padahal keberadaan para guru honor tidak kalah penting dengan para guru yang berstatus ASN.
Bahkan pada daerah-daerah tertentu diluar Kota Ende guru honor justru menjadi ujung tombak dalam mengajar karena memang ada SD yang kekurangan guru ASN.

"Ada sekolah-sekolah tertentu yang guru ASN hanya kepala sekolah sedangkan yang lainnya adalah guru honor,"kata Vincen.

Namun demikian disayangkan bahwa ketika apa yang semestinya menjadi hak para guru honor justru diabaikan oleh pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende,ujar Vincen.

Oleh karena itu Vincen berharap agar pihak dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende segera membayar gaji para guru honor.
Vincen mengatakan ada hal yang juga perlu ditelusuri yakni bahwa guru GTT bakal menerima Gaji Bosda sebesar Rp1.500.000 perbulan.

Dengan syarat pungutan komite tidak didapat lagi oleh guru bersangkutan dan begitu juga dengan Dana BOS sudah tidak dapat lagi untuk guru GTT. (Laporan Reporter POS- KUPANG.COM, Romualdus Pius)

Penulis: Romualdus Pius
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved