Kamis, 30 April 2026

Berita Cerpen

Cerpen Chan Setu: Yang Luka Adalah Kenapa Aku Dilahirkan

Ibuku seorang penyambung pesan yang sempurna, derap langkah kakinya tak pernah didengar, aroma tubuhnya selalu akrab di setiap pagi.

Tayang:
ilustrasi Hipwe
Cerpen : Yang Luka Adalah Kenapa Aku Dilahirkan 1 

Dan ibu, ibu begitu pagi telah beranjak mencari kerja dengan menyewa tenaga kepada tetangga sebagai pembersih rumah, cuci pakaian, dan lain sebagainya.

Sayangnya, aku tak tahu ke mana ibu menyewa tenaganya hari itu, sebab hingga sore larut dalam kegelapan dan lampu-lampu jalan ibu kota telah terang meriah tubuh, dan suara langkah kaki ibu belum juga terdengar dan tampak. Aku hanya mengira ibu akan telat pulang malam itu.

Di depan rumah kardus, aku menghitung bintang-bintang di langit dengan canda aku berkata, "Ah ayah, salah satu dari ribuan bintang di atas pasti kau salah satu di dalamnya."

Lalu tanpa sadar air mataku jatuh. Aku tunduk membisu usai mengatakan itu, seolah-olah aku begitu rindu dengan tawa, cerita, dan juga suara ayah yang selalu menjadikan aku dan ibu lebih berarti dan barangkali tak akan pernah seperti yang saat ini.

Dan bisa saja saat ini aku sedang merayakan perjamuan malam bersama merayakan euforio kelulusanku seperti anak-anak seusiaku lainnya. Tapi sayang, lagi-lagi si dia tak pernah bersahabat denganku dan juga ibuku.

Sudah begitu larut dan ibu belum juga nongol. Aku melongohkan kepalaku di sekitar jalan masuk kompleks perumahan kami tapi ibu belum juga nongol. Aku mulai cemas dengan segala kegelisahanku. Aku berdoa kepada malam semoga ibuku baik-baik saja. Tubuhku semakin rintih kedinginan, masih pada tempatnya aku duduk sambil berdoa di bawah cahaya rembulan aku hanya tahu berdoa dalam kecemasan.

Pemkot Kupang Launching Kota Layak Pemuda 2019

Hingga tubuhku memaksa masuk ke dalam rumah kardus kami. Dengan segala harap aku berdoa semoga ibu tiba. Namun semuanya sia-sia, seusai aku memanjatkan doa di lantai tempat di mana aku dan ibuku selalu duduk menyeduh kopi itu, aku menemukan secarik kertas dengan tulisan tangan ibuku.

Tiba-tiba air mataku jatuh, segalanya telah terjadi dan aku-aku jadi seorang bocah dengan kepolosan hidup yang tak tahu mau dipapah ke mana.

"Ibu begitu tega. Ibu begitu tega. Ibu begitu tega," teriakku dengan tangis yang semakin menjadi-jadi. Kini aku sendiri. Di papah harap yang enggan melangkah. Apakah aku harus bunuh diri? Atau apakah aku harus pergi menjadi bagian dari korban human trafficking atau aku beridiri saja di garis putih ruas jalan dan biarkan mobil-motor yang lalu lalang menabrakku atau, atau, atau intinya saat ini aku ingin mati.

Ibu dan ayah kita hanya ayah dan ibu yang bisa pergi dan merantau tidak kembali aku juga bisa. Secarik surat itu ditulis rapi oleh ibuku, apakah itu pesan terakhirnya atau itu sebuah cara untuk memahamiku kepada si dia? Ibu, aku ingin kau pelukku. Ibu.

SEDANG BERLANGSUNG Live Streaming Indosiar Arema FC vs Semen Padang Liga 1 2019, Skor Sementara 0-0

Dear, Okto anakku.
Suatu waktu kita harus jadi sendiri. Sendiri untuk menjadi pribadi yang tangguh dan dewasa. Tentang "si dia" yang sering ayah dan ibu bicarakan kepadamu bukanlah sesuatu atau siapa-siapa. "si dia" adalah Ia yang menjadikan ibu, ayah, dan kamu seturut gambarnya. "si dia" adalah kamu sendiri. Jangan kau salahi lagi "si dia" sebab dia tak pernah menyalahkan siapa-siapa, dia selalu ada bersamamu saat ini.

Maafkan ibu, ibu lari. Lari dari segala kenyataan yang tak sanggup membesarkanmu. Selepas ayahmu pergi, ibu tak paham bagaimana caranya membesarkanmu. Sebab ibu tak punya apa-apa selain dirimu.

Ketua DPRD DKI Ungkap Usia Kehamilan Puput Usai Hadiri Acara Mitoni Sebut Ahok Dapat Bayi Laki-laki

Maafkan ibu. Ibu patut kau salahi. Ibu patut kau maki, ibu patut kau ludahi, ibu patut tidak kau tangisi. Tapi ibu berharap kau lanjuti hidupmu meski tanpa ayah dan ibu.

Dan satu hal lagi,"Jangan kau cari ke mana ibu pergi atau dimana ibu dimakamkan. Sebab ibu yakin, ayah tidak pernah menceritakan tentang itu kepadamu.

Ibu pergi, setelah ayahmu pergi meninggalkan kita di rumah kardus kita itu. Saat itu, ibu bukanlah wanita baik-baik, ibu hanyalah perias jalan dan ayahmu si hidung belang yang rajin mencari mangsa. Kau ingin tahu ibu dan ayah tak pernah di makamkan, ibu dan ayah menitipmu di rumah kardusmu itu." By : Ibumu

Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved