Berita Cerpen
Cerpen Chan Setu: Yang Luka Adalah Kenapa Aku Dilahirkan
Ibuku seorang penyambung pesan yang sempurna, derap langkah kakinya tak pernah didengar, aroma tubuhnya selalu akrab di setiap pagi.
Sebab semasa aku kanak-kanak hinggal jadi anak-anak aku tak pernah tahu tentang kapur tulis, papan, dan lembaran-lembaran buku yang tercecer rapih dirak-rak peprustakaan, apalagi sekadar memahami makna dari baju seragam merah-putih atau jangan pernah tanyakan aku tentang makna gambar Tut Wuri Handayani itu.
Yang aku paham adalah kardus-kardus bekas dan botol-botol receh yang terbuang di tong-tong sampah kisaran kompleks rumahku hingga jalan menuju ibu kota.
Sekolah. Bukan sesuatu yang pernah jadi impianku. Aku tak pernah bermimpi untuk mengimpikan berada di dalam ruangan kelas bersama teman-teman dengan berceloteh pada lembaran-lembaran koran yang telah didaur ulang jadi halaman-halaman diary masa depan.
Siapa yang tahu masa depan? Hari ini saja, kita tak tahu bagaimana dengan nafas hidup kita. Kata ibuku, "Nak, jangan sekali-kali kau mengabaikan masa depanmu sebab ibu tak ingin kau lari dari masa depanmu."
"Ah ibu aku saja tak pernah memahami masa depanku, apakah masih ada dan masih bisa berpintu atau jangan-jangan masa depan itu hanya milik mereka yang memiliki segalanya, uang, mobil, motor, rumah mewah, makanan elite, dan lain sebagainya atau milik "dia" yeah "dia itu" mungkin ibu paham siapa dia itu," batinku.
***
Sepeninggalnya ayahku. Aku tak paham menjadi sulung yang tunggal, menjadi tangguh seperti ayah.
• Ini Pesan Petani Muda yang Sukses Asal Soa Ngada pada Momen Sumpah Pemuda
Aku tak mampu. Begitu banyak air mata ibu yang telah jatuh menghujan dengan diam-diam di bilik kamar kardus rumah kami, tinggal seduh desahan yang selalu membuatku lari, lari dalam pelukkannya.
"Ibu, masih adakah asa untuk kita?" Tanyaku di sela-sela desahan nafas ibu. Ibu diam begitu lama.
"Barangkali saja si Dia sedang tak mau berpihak kepada kita," kata ibu pelan dan hampir-hampir tidak terdengar.
Saat itu, aku hanya seorang bocah duabelasan tahun. Anak-anak seusiaku baru saja usai menyekenggarakan Ujian Nasional dan aku masih saja meringkuk di bawah pungut-memungut kardus di ruas jalan kakiku melangkah.
Yang luka adalah mengapa aku dilahirkan dan yang paling menyedihkan adalah tak ada siapa-siapa lagi hanya bulan dan ribuan bintang di atas langit. Kisahnya hanyalah embun yang datang dengan lupa pamit secara sopan. Mengapa aku harus dilahirkan?
Apakah aku lahir dari kesalahan ayah dan ibu? Atau aku hanyalah seorang anak dari ayah yang tak bertanggugjawab atau dari ibu yang tak bertanggungjawab atau aku lahir dari ayah dan ibu yang sama-sama tak bertanggungjawab?
• Ini Komentar Ketua DPD Partai Gerindra NTT Soal Prabowo yang Masuk Kabinet Jokowi-Maruf Amin
Ke mana "si Dia pergi" waktu itu ibu selalu mengajarkan kepadaku tentang si dia dan ayahku selalu membacakan dongeng tentang si dia.
Selamat jalan ibu. Hari itu, hari Sabtu di akhir bulan Oktober. Waktu itu hari begitu cerah seperti menjamuhkan pesta pernikahan di kana (baca: kitab suci) yang meriah dengan segala anggur dan mujizat.
Semesta begitu bersahabat tak ada tanda-tanda mendung dengan segala air mata yang memungkinkan adanya hujan. Saat itu aku dengan riangnya mengais kardus-kardus di ruas-ruas jalan ibu kota sambil memungut botol-botol yang memungkinkan adanya peluang recehan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/cerpen-yang-luka-adalah-kenapa-aku-dilahirkan-1.jpg)